Kelompok militan di Thailand Selatan dilatih cara membuat bom Oleh Jamaah Islamiyah

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Kelompok militan di Thailand Selatan dipercaya menerima latihan cara membuat bom dari seorang anggota Jamaah Islamiyah, bagian dari jaringan kelompok Islam yang dituding berada di balik aksi pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli 2009. Mereka, dalam setiap aksinya, cenderung memakai radio ketimbang telepon seluler sebagai detonator. Sebuah metode untuk menghindari deteksi oleh aparat keamanan. Kelompok militan di Thailand Selatan mulai mengembangkan teknologi transceiver dalam setiap serangan bom. Sebuah teknik yang sama yang dipakai dalam perang Irak.

Transceiver radio itu, kini kerap dipakai dalam sejumlah aksi pengeboman di wilayah muslim di selatan Thailand. Transceiver lebih efisien karena sinyalnya tak bisa dilacak. Sebuah aksi pengeboman di Dis trik Yaha, Yala, yang menewaskan dua serdadu Thailand dan melukai lima lainnya dipercaya diledakkan dengan transceiver radio sebagai detonatornya. Direktur Central Institute of Forensic Science Thailand Porntip Rojanasunan, mengatakan bahwa pihaknya percaya mereka menggunakan transceiver radio.

Para militan di Thailand Selatan juga mengembangkan bom buatan. Mereka juga membuat marka jalan yang diisi peledak dengan target aparat keamanan yang sedang berpatroli. Bom di dalam marka itu diledakkan lewat telepon seluler atau kabel yang disambung ke alat pengatur waktu. Karena itu, aparat keamanan didesak melakukan koordinasi atas berbagai informasi yang dikumpulkan aparat intelijen guna mengantisipasi berbagai bentuk serangan bom.

Kepala Unit Perbekalan Bahan Peledak Muter Kolonel Tawisak Jantrasin mengatakan bahwa pemakaian transceiver untuk melancarkan serangan bom bukanlah hal Baru. Cara ini sudah lama sekali tidak digunakan. Namun, serangan di Yala memperlihatkan bahwa cara lama itu kembali digunakan. Kali ini penggunaan detonator transceiver sangat sulit digagalkan. Transceiver dioperasikan dengan frekuensi ganda. Frekuensi ganda nada rangkap sama seperti frekuensi komunikasi yang dipakai para pelaku peledakan di Irak dan Afganistan.

Transceiver amat efisien ketimbang telepon seluler karena bisa digunakan dari jarak yang cukup jauh. Lagi pula pihak berwenang tak bisa memotong sinyal mereka. Dalam aksi peledakan di Yala diketahui penyerang memasukkan kode kunci ke transceiver untuk meledakkan bom yang disembunyikan di balik dua tabung gas seberat 15 kilogram. Tabung itu lalu diletakkan di atas truk. Sebuah transceiver tunggal bisa dipakai untuk meledakkan banyak bom di saat bersamaan (Koran Tempo, Jamaah Islamiyah Latih Kelompok Militan Thailand, Selasa 28 Juli 2009)