Kemandirian Remaja Ditinjau Dari Peran Jenis Kelamin dan Tahap Perkembangan

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Remaja yang dipersiapkan untuk menjadi manusia yang berguna, perlu ditingkatkan kualitas dan kemampuannya sehingga hasil kerjanya akan maksimal. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas remaja adalah dari segi kondisi psikologisnya, dalam hal ini kepribadiannya khususnya aspek kemandiriannya. Individu yang memiliki kemandirian kuat, akan marnpu bertanggung jawab, berani menghadapi masalah dan resiko dan tidak mudah terpengaruh atau tergantung kepada orang lain. Permasalahan yang perlu mendapatkan pengamatan lebih lanjut adalah: Apa ada perbedaan kemandirian remaja ditinjau dari peran jenis, jenis kelamin, tahap perkembangan dan lokasi tempat tinggal atau sekolah.

Proses kehidupan manusia dari lahir sampai mati mengalami tahap-tahap perkernbangan yang sifatnya berkelanjutan, artinya tahap sebelumnya merupakan dasar dari tahap selanjutnya. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan, mereka akan mengalami perubahan baik fisik, psikis dan sosial yang sifatnya individual.

Contoh tahap perkembangan yang sedang dialami remaja dikemukakan oleh Cole yang membedakan remaja perempuan dan remaja laki-laki: 1) Remaja perempuan: umur 11-21 tahun. 2) Remaja laki-laki: umur 13-21 tahun. Rentangan umur tersebut sebenarnya hanya merupakan batasan kasar, sebab pada dasarnya perkembangan manusia itu bersifat individual dan umur tidak perlu dipegang secara pasti, karena ada anak yang berkembang secara cepat dan ada anak yang berkembang secara lambat.

Peran jenis diambil dan kata sex-role adalah perilaku spesifik yang diharapkan dan sebagai standar yang diterapkan pada laki-laki dan perempuan. Kalau terjadi penyimpangan akan dipandang negatif. Peran jenis menurut D’Andrade adalah suatu sifat yang sebenarnya dapat dipelajari untuk meningkatkan aktivitas yang sesuai dengan harapan masyarakat, tanpa memperhatikan jenis kelaminnya.

Peran jenis adalah sifat stereotip yang dimiliki oleh manusia, yang berupa sifat feminin dan maskulin. Secara tradisional, perbedaan seks dipandang dan kondisi laki-laki dan perempuan yang inklusif memiliki sifat maskulin dan feminin. Constantinople menggambarkan sifat maskulin dan feminin itu bertolak belakang atau suatu hal yang sating berlawanan.

Peran jenis yang bersifat stereotip itu mempunyai akibat tidak baik bagi kaum perempuan. Untuk mengatasi belenggu tersebut, supaya kaum perempuan bebas dari tekanan dan juga untuk mengembangkan suatu konsepsi mengenai mental yang sehat, orang harus bebas dari tekanan budaya tentang femininitas dan maskulinitas tersebut. Peran jenis itu tidak hanya dua macam yaitu feminin dan maskulin saja tetapi di samping itu ada individu yang mempunyai dua sifat itu sekaligus, tetapi ada juga individu yang tidak jelas memiliki kedua sifat itu. Jadi secara terperinci Bern menyatakan ada empat macam peran jenis yang dimiliki individu, yaitu: (1) feminin, (2) maskulin, (3) androgini, dan (4) tak tergolongkan.

Individu yang memiliki sifat androgini dikatakan sebagai individu yang memiliki mental yang sehat. Sifat androgini, mampu melakukan integrasi sifat-sifat feminin dan maskulin misalnya tegas dan menyerah, independen dan dependen, ekspresif dan instrumental, sehingga individu tersebut memiliki sifat feminin dan maskulin dengan kualitas yang baik. Androgini adalah suatu sifat yang ada di luar sifat stereotip di mana individu mampu mengkombinasikan sifat maskulin dan feminin secara penuh kemanusiaan. Bern telah menyusun Bern Sex Role Inventory (BSRI) untuk mengetahui peran jenis yang dimiliki seseorang.

Kemandirian merupakan suatu kemampuan psikologis yang seharusnya sudah dimiliki secara sempurna oleh individu pada masa remaja akhir. Salah satu tugas perkembangan bagi remaja adalah mencapai kemandirian. Kemandirian mencakup pengertian kebebasan untuk bertindak, tidak tergantung kepada orang lain, tidak terpengaruh lingkungan dan bebas mengatur kebutuhan sendiri.

Tingkah laku mandiri meliputi pengambilan inisiatif, mengatasi hambatan, melakukan sesuatu dengan tepat, gigih dalam usahanya dan melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Kemandirian merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan kepada diri sendiri, bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa minta bantuan kepada orang lain.

Havighurst dalam penelitiannya terhadap anak-anak umur 16-17 tahun, mengemukakan bentuk usaha kemandirian yang berupa: 1) Ego idealnya dipengaruhi oleh anak-anak muda, kelihatan seperti orang dewasa dan merasa mandiri di kalangan remaja. 2) Mulai membentuk hubungan dengan orang-orang muda. 3) Menentang kekuasaan orang tua dan mulai menerapkan cara berpikirnya sendiri. 4) Mencoba membuat keputusan sendiri, walaupun sebelumnya akan konsultasi dengan orang lain.

Tahap Perkembangan dan Kemandirian

Perkembangan seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya sendiri, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilalui. Dari rentangan tahap perkembangan yang dialami, masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, sehingga terjadi perubahan yang mencolok dalam segi fisik, psikis, dan sosial, yang mengharuskan remaja untuk berlatih menyesuaikan diri.

Usaha untuk melepaskan hubungan dengan orang tua atau mengurangi ketergantungan serta usaha untuk dapat berdiri sendiri sebenamya sudah dijumpai pada sebelum masa remaja, meskipun mungkin belum begitu tandas dan bahkan untuk sebagian terjadi secara tidak disadari. Beberapa sifat yang ada dan dimiliki oleh remaja awal menunjukkan masih ada pengaruh dari masa kanak-kanaknya, misalnya emosional, ingin menang sendiri (subjektif dan egois), belum memiliki pendirian yang tetap (mudah terpengaruh dan tergantung kepada orang lain), belum mandiri dan perhatiannya masih tertuju pada perubahan fisik yang dialami secara mencolok. Sifat remaja akhir, diharapkan sudah mencapai kematangan dalam segala proses perkembangannya dengan menunjukkan sifat kedewasaan, misalnya menerima keadaan fisiknya, tidak lagi emosional, cara berpikir objektif dan mampu bertanggung jawab terhadap tindakannya. Dengan kata lain, pada masa remaja akhir diharapkan anak telah mencapai kematangan dalam segi fisik, psikis, dan sosial dan dengan demikian memungkinkan tercapainya kemandirian yang sungguh-sungguh. Dalam mengatasi konflik antara kondisi yang dimiliki dan tuntutan dari luar akan memacu perkembangan kemandirian remaja, yang terwujud dalam bentuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.

Peran Jenis dan Kemandirian

Peran jenis khususnya pada remaja tidak akan lepas dari pengaruh yang sangat kuat dari mulai dialaminya kematangan seksual baik pada remaja perempuan maupun laki-laki. Hal ini disebabkan oleh pengaruh hormon estrogen bagi remaja perempuan, dan hormon testosteron bagi remaja laki-laki.

Remaja laki-laki dan remaja perempuan, masing-masing mempunyai sifat yang khas yang hampir berlawanan satu sama lain. Adanya sifat yang berlawanan antara laki-laki dan perempuan. Maskulinitas, orientasinya instrumental dengan menunjukkan tingkah laku yang berusaha mencapai tujuan, melakukan dengan serius dan menghindari pengaruh emosional, baik yang ada pada dirinya maupun dari orang lain. Adapun femininitas, orientasinya bersifat ekspresif, misalnya berusaha memberikan reaksi yang menyenangkan dengan harapan memperolch perlakuan yang menyenangkan pula. Bern juga menyatakan bahwa maskulinitas biasanya berkaitan dengan kebebasan dan kemandirian, sedangkan femininims berkaitan dengan pemeliharaan.

Individu yang memiliki sifat sekaligus feminin dan maskulin (yang disebut androgini) baik laki-laki maupun perempuan ternyata memiliki kemandirian lebih tinggi daripada individu yang memiliki peran jenis yang lain. Penelitian lain yang menunjang hubungan antara peran jenis dan aspek psikologis yang mendukung kemandirian yaitu hubungan antara peran jenis dan kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi, hasilnya adalah sebagai berikut: 1) Subjek androgini mempunyai skor lebih tinggi pada pemecahan krisis karena memang mereka berhasil dalam mengatasi perrnasalahan yang dihadapi. 2) Kelompok tak tergolongkan berbeda dengan tiga kelompok yang lain (feminin, maskulin, dan androgini) mereka tidak hanya melihat dirinya tidak berhasil dalam pemecahan masalah, tetapi juga mereka melihat dirinya sendiri tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Gordon, dkk, dalam penelitiannya mengenai hubungan antara peran jenis dan kemandirian, mengatakan bahwa individu yang mempunyai kemandirian tinggi akan menunjukkan sifat khas maskulin yang direfleksikan dalam sifat aktif, kompetitif dan mandiri.

Faktor-faktor Lain Yang Dapat Mempengaruhi Kemandirian

Di samping faktor perkembangan dan peran jenis yang mungkin mempengaruhi kemandirian, sebenarnya masih banyak faktor-faktor lain yang berperan, misalnya kecerdasan, lingkungan tempat tinggal, perlakuan orang tua terhadap anak, sosial ekonomi keluarga, dan jenis kelamin, serta masih ada yang lain.

Faktor lain yang dianggap penting sebagai tambahan yang diperhatikan adalah kecerdasan dan tempat tinggal. Dua faktor tersebut diasumsikan akan berpengaruh dalam proses penentuan sikap, pengambilan keputusan, penyesuaian diri secara tepat dalam penampilan kemandirian yang mantap. Usaha untuk menentukan sikap memang diperlukan adanya kemampuan berpikir yang baik, supaya sikapnya dapat diterima oleh masyarakat lingkungannya. Di samping itu manusia sebagai makhluk sosial memang tidak akan pernah dapat dipisahkan dengan manusia lain dan juga lingkungan tempat tinggal individu tersebut.

Anak yang cerdas akan memilih metode yang praktis dan tepat dalam memecahkan masalah, sehingga akan cepat dapat mengambil keputusan untuk bertindak, Hal ini menunjukkan adanya kemandirian dalam menghadapi masalah yang harus diselesaikan. Dapat dikatakan bahwa apabila seseorang mempunyai inteligensi yang baik atau tinggi akan lebih marnpu menghadapi lingkungan dibanding dengan seseorang yang berinteligensi rendah.

Bem, S.L., 1975. Sex Role Adaptability One Consequence of Psychological Androgyny. Journal of Personality and Social Psychology. 31, 634-643.

Bem, S.L., 1981. Bern Sex Role Inventory Professional Manual. Consulting Psychologist Press, Inc. Palo Alto, California.

Bhatia, H.R., 1977. A Textbook of Educational Psychology. Revised Edition. The MacMillan Company of India Limited, New Delhi.

Cole, L., 1963. Psychology of Adolescence. Fifth Edition. Holt, Rinehart and Winston, New York.

Conger, J.J., 1973. Adolescence and Youth Psychological Development in a Changing World. Harper & Row, Publisher, New York.

Dusek, J.B., 1977. Adolescent Develop¬ment and Behavior. Science Research Associate, Inc., Chicago.

Eysenck, H.J.; Arnold, W., and Meili, R., 1972. Encyclopedia of Psychology, Volume One A to F, Volume Two G to Phar, Volume Three Phas to Z. Herder and Herder, New York.

Gordon, L.; Verdenburg, K.; Plener, P., and Krames, L., 1985. Sex Roles and Depression: A Preliminery Investigation of the Direction of Causality. Journal of Research in Personality, 19, 429- 435.

Havighurst, R.J., 1955. Ilunzan Development and Education. Longmans, Green and Co., Inc., New York.

Hurlock, E.B., 1973. Adolescent Development. Fourth Edition. International Student Edition. McGraw-Hill, Kogakusha, Ltd., Tokyo.

Jersild, A.T., 1963. The Psychology of Adolescence. Second Edition. The MacMillan Company, Collier Mac Milian Company, London.

Johnson, R.C., and Mcdinnus, G.R., 1974. Child Psychology Behavior and De¬velopment. Third Edition. John Wiley & Sons, New York.

Kaplan, A.G., and Bean Joan, P., 1976. Beyond Sex Role Stereotypes. Reading Toward A Psychology of Androgyny. Little Brown and Cornpany, Boston-Toronto.

Lamke, K.L., 1982. Adjustment and Sex-Role Orientation in Adolescence. Journal of Youth and Adolescence, I 1, 247-259.

Lerner, R.M., 1976. Concepts and Theories of Human Development. Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Philippines.

Lerner, R.M. and Spanier, G.B., 1980. Adolescent Develop meta. A Life-Span Perspective. McGraw-Hill Book Company, New York.

Monks, PI; Knoers, A.M.P., dan Haditono, Siti Rahayu. 1989. Psikologi Perkembangan. Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Selva, P.C. and Dusek, J.B., 1984. Sex-Role Orientation and Resolution of Eriksonian Crises During The Late Adolescent Years. Journal of Personality and Social Psychology. 47, 204-212.

Skinner, C.E., 1952. Essentials of Educational Psychology. Prentice-Hall, Inc., New York.