Pengaruh Nyeri Terhadap Stress

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sifat alamiah nyeri, terutama pada nyeri kronis adalah subyektivitas dari penderitanya sehingga sulit sekali mengklasifikasikan terutama untuk nyeri kronis. Pendekatan teoritis untuk klasifikasi melibatkan pegujian formulasi teori sebelumnya, di sisi lain pendekatan empiris bersifat induktif dan mencoba mengenali karakteristik variabel alamiah dari variasi0variasi sub grup. Merkeys menyatakan bahwa sistem klasifikasi secara medis, terutama nyeri, harus komprehensif tetapi tidak dapat selalu konsisten. Hal yang paling dibutuhkan adalah harus bersifat praktis.

Klasifikasi yang sering digunakan adalah berdasarkan mekanisme, waktu, etiologi dan regio sebagai berikut:
Mekanisme neurofisiologik:

  1. Nosiseptif: (a) Somatik, (b) Viseral
  2. Neuropatik atau non nosiseptif : (a) Neuropatik yaitu Sentral dan Perifer, (b) Psikogenik

Waktu (temporal) :

  1. Akut
  2. Kronik

Etiologi:

  1. Nyeri kanker
  2. Neuralgia post herpes
  3. Nyeri karena penyakit sel sabit (Sickle cell disease)
  4. Nyeri karena arthritis

Nyeri Regional:

  1. Nyeri Kepala
  2. Nyeri Orofasial
  3. Nyeri Pinggang Bawah
  4. Nyeri Pelvis

Nyeri akut akibat lesi jaringan dapat berlangsung singkat akan tetapi tidak jarang ditemukan adanya nyeri yang berkepanjangan. Hal ini terjadi oleh karena lesi jaringan akan memacu berbagai respon fisiologik. Bahkan respon fisiologik tersebut dapat terjadi pada seseorang yang sedang dalam anestesi. Oleh karena itu pada seseorang penderita nyeri khususnya yang kronik dapat menunjukkan berbagai komplikasi seperti kecemasan, gangguan tidur, takikardi, hipertensi, dan lain sebagainya.

Stress didefinisikan sebagai faktor-faktor fisik, kimia dan emosional yang menyebabkan ketegangan tubuh atau mental dan mungkin adalah salah satu faktor yang disebabkan penyakit. Respon terhadap stressor bisa bersifat spesifik maupun non spesifik. Nyeri dapat menimbulkan stress, tetapi di sisi lain stress belum tentu menimbulkan nyeri. Baik nyeri dan stress membutuhkan evaluasi dan pengobatan. Nyeri dan stress harus dibedakan dari keadaan-keadaan yang mengancam kehidupan seperti hipoksemia atau retensi karbondioksida yang memerlukan intervensi yang berbeda.

Nyeri kronis dan stress psikologik akan terjadi berdampingan, satu penelitian mendapatkan bahwa Odds Rasio terjadinya nyeri pada wanita adalah 2,0 (95% CI 1,2-3,2), depresi 2,4 (95% CI 1,4-4,0), penderita neuropati/neuromuskuler 3,8 (95% CI 1,5-9,7) dan pada diagnosa pain syndrome 4,8 (95% CI 1,4-16,5). Sementara Odds Rasio terjadinya depresi pada penderita nyeri adalah 2,4 (95% CI 1,5-3,9), gangguan kognitif 4,8 (95% CI 1,3-18,0) dan gangguan serebrovaskuler 3,3 (95% CI 1,0-10,6).

Peneliti yang lain juga berusaha untuk melakukan penelitian yang menghubungkan nyeri dengan stress. Untuk membuktikan bahwa nyeri dapat menimbulkan salah satu manifestasi stress yaitu depresi, penelitian terhadap 18.890 orang dengan usia antara 15-100 tahun di berbagai negara yaitu Inggris, Jerman, Itali, Portugal dan Spanyol. Penelitian ini melibatkan penderita Chronic Painful Physical Coditions (CPPCs). Batasan kronik adalah bila masa nyerinya yaitu 6 bulan dan CPPCs meliputi nyeri sendi, ekstremitas, nyeri punggung bawah, nyeri kepala maupun penyakit gastrointestinal. Dalam penelitiannya didapatkan salah satu tanda depresi seperti kesedihan, depresi, putus asa, kehilangan minat terhadap sesuatu dan berkurangnya kesenangan pada 16,5% (95% CI, 16,9%-17,1%) penderita salah satu CPPCs. Penyakit depresi mayor didapatkan pada 4.0% subyek. Pada analisa logistik regresi didapatkan bahwa CPCCs akan meningkatkan risiko terjadinya depresi mayor sebesar 3,6 kali. Nyeri yang terjadi dalam 24 jam memiliki kontribusi tersendiri untuk terjadinya depresi mayor sebesar 1,6 kali. Sehingga dalam penelitian tersebut Ohayon menyarankan agar setiap penderita nyeri juga harus dikelola depresinya.

Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang erat antara nyeri dan stress. Tiga penyebab stress dapat diidentifikasi pada penderita nyeri kronis. Penyebab tersebut adalah:

  1. Pengalaman nyeri sendiri sudah menimbulkan stress. Kecuali seorang masokis, sensasi nyeri akan dirasakan sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan dan tidak diharapkan. Orang selalu berusaha untuk melawan dan menahan rasa nyeri. Nyeri bisa menyebabkan ketegangan baik ketegangan fisik maupun mental/emosional. Ketegangan fisik dapat berwujud peningkatan ketegangan otot pada tempat asal nyeri. Tentu saja sistem dalam tubuh akan bereaksi terhadap ketegangan ini yaitu sistem kardiovaskuler, gastrointestinal dan sistem imunitas. Ketegangan mental dan emosional dapat berwujud perasaan frustasi dan kemarahan, depresi, kecemasan dan kekhawatiran, kesedihan dan rasa jera. Sayang sekali ketegangan fisik dan mental karena nyeri justru akan semakin memperberat nyerinya. Sehingga terjadi lingkaran setan (sirkulus vitiosus) antara nyeri dan ketegangan.
  2. Penyebab yang kedua stress diakibatkan karena konsekuensi negatif kondisi nyeri kronik terhadap kehidupan. Nyeri kronis akan mempengaruhi pekerjaan, keamanan keuangan, aktivitas keluarga, kehidupan sosial, hobi dan aktivitas rekreasional. Beberapa temuan menunjukkan bahwa berhadapan dengan dokter, klinikus dan kecacatan merupakan kondisi yang penuh stress. Nyeri kronis dan kecacatan juga dapat menimbulkan perubahan afek terhadap penghargaan diri sendiri dan perasaan terhadap harga diri. Segala perubahan ini menunjukkan kondisi yang penuh stress.
  3. Penyebab umum ketiga stress berhubungan dengan kejadian dalam kehidupan dan perjuangan hidup yang dialami, misalnya mengalami rasa nyeri hampir setiap hari sedangkan sesuatu yang dilakukan tak memberikan hasil. Stress juga berhubungan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari. Apabila stress dalam kehidupan sehari-hari saling bertumpang tindih dengan stress yang diakibatkan rasa nyeri maka permasalahannya jadi semakin rumit yaitu selain nyeri kronik juga akan mengalami stress kronis.

Stress yang diakibatkan oleh apapun akan meningkatkan/memperhebat rasa nyeri. Sebagian orang bereaksi terhadap stress kronis dengan pengaktifan sistem-sistem dalam tubuh secara berlebihan dan berekpanjangan. Akhirnya dapat menimbulkan permasalahan fisik yang terkait dengan stress seperti sakit kepala, pegal dan nyeri otot, peningkatan tekanan darah, gangguan lambung, gangguan BAB dan lain-lain. Mudah marah dan tersinggung, atau rasa cemas dan ragu-ragu dapat menyebabkan kegelisahan terus-menerus. Sebagian orang yang lainnya bereaksi terhadap stress kronis dengan menonaktifkan fisik dan kehilangan tenaga. Mereka menjadi lesu dan depresi dengan motivasi serta minat yang sangat rendah terhadap sesuatu. Segala bentuk reaksi terhadap stress diatas akan meningkatkan rasa nyeri dan penderitaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Derasari MD. Taxonomy of Pain Syndromes: Classification of Chronic Pain Syndrome. In: Abrams BM, Benzon HT, Hahn MB, Heavner JE, Niv D, Parris WCV et al, editors. Practical Management of Pain. 3rd ed. St.Louis, Missouri: Mosby, Inc; 2001. p. 10-6

Merriam Webster’s Collegiate Dictionary. 10th ed. Springfield,MA: Merriam-Webster Inc;1994. p. 1146.

Carr DB, Goudas LC: Acute Pain. Lancet 353, 1999, pp 205 1-8

Turk DC, Okifuji A: Assessment of Patients’ Reporting of Pain: an Integrated Perspective. The Lancet, 1999, pp 1784-88

Williams LS, Jones WJ, Shen J, Robinson RL, Weinberger M, Kroenke K. Prevalence and impact of depression and pain in neurology out patients. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2003; 74: 1587-9.

Ohayon MM, Schatberg AF. Using Chronic Pain to Predict Depressive Morbidity in the General Population. Arch Gen Psychiatry. 2003; 60: 39-47.