Rencana Antisipasi Kontaminasi Makhluk Luar Angkasa

8 tahun ago kesimpulan 0
(KeSimpulan) Kurangnya kerangka kerja pihak pemerintah untuk merespon ekspedisi. Mangkuk satelit besar seperti telah membentuk koloni jamur untuk pencarian kehidupan di luar bumi, tetapi untuk dapat diwujudkan haruskan membutuhkan seremoni penyambutan? Para astronom dan biolog yang terlibat dalam pencarian kehidupan di planet lain khawatir tentang kurangnya regulasi dan kebijakan untuk mendorongnya.

“Tidak ada keinginan pemerintah untuk memiliki sebuah rencana” untuk apa harus dilakukan untuk menemukan kehidupan cerdas di luar bumi, kata astrofisikawan Martin Dominik dari University of St Andrews, Inggris, yang mengadakan konferensi di Royal Society London yang dimulai kemarin.

Untuk saat ini, satu-satunya kerangka kerja nyata untuk menanggapi penemuan kehidupan di luar bumi adalah sebuah dokumen yang disusun oleh para peneliti yang terlibat dalam search for extraterrestrial intelligence (SETI). Secara hati-hati menyarankan konfirmasi hasil temuan, sebuah pengumuman internasional yang cepat tetapi juga menahan diri agar tidak ceroboh menanggapi sebuah temuan, kata Frank Drake, pengagas SETI dari SETI Institute di Mountain View, California.

Dominik mengatakan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus memiliki kebijakan yang serupa pada tempatnya. “Ini terlalu penting dan sensitif untuk setiap negara,” kata Dominik yang berharap konferensi selama dua hari akan merangsang minat bagi para pembuat kebijakan.

Simon Conway Morris, paleobiolog dari Cambridge University, Inggris, memperingatkan kemungkinan konsekuensi deteksi kehidupan di luar bumi. Simon mengutip bukti-bukti dari evolusi konvergen dalam sejarah biologis bumi bahwa ada sejumlah terbatas sensoris dan solusi untuk masalah-masalah sosial. Panca indera makhluk asing bisa mirip dengan indra manusia, dan kehidupan sosial di tempat lain bisa sama keras seperti di Bumi, di mana semut pemotong daun menjarah dan berperang seperti pada manusia. “Jika telepon berdering, jangan mengangkatnya,” kata Simon.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa ada implikasi kebijakan penting bahkan untuk penemuan yang sederhana dalam kehidupan, seperti mikroba dalam Tata Surya. “Sementara mikro-organisme di Bumi dianggap sebagai makhluk rendah tak bermoral, namun di Mars mikroba tersebut berada dalam kategori yang berbeda karena menjadi satu-satunya wakil dari kehidupan,” kata Christopher McKay, astrobiolog dari NASA Ames Research Center di Moffett Field, California.

Di antara sumber konflik internal adalah belum adanya pemerintah yang telah memutuskan apakah akan diterima atau tidak usaha untuk mengkomersialkan mikroba yang ditemukan di tata surya atau sejauhmana makhluk tersebut harus dilindungi. McKay mengatakan bahwa NASA mematuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh Committee on Space Research internasioanl mengenai kontaminasi lingkungan selama eksplorasi di bulan dan planet-planet lain. Bahasan mendatang akan melanjutkan ruang diskusi bioetika.

Para peneliti ingin menghindari konflik dan kebingungan ketika muncul klaim pada tahun 1996 bahwa meteorit dari Mars, ALH 84.001, mengandung bukti potensi kehidupan primitif. Jocelyn Bell Burnell, astrofisikawan dari Universitas Oxford, Inggris, mencatat bahwa kurangnya penanganan untuk sebuah pengumuman skala ilmiah ini akan memiliki konsekuensi besar bagi reputasi dan pendanaan peneliti.

Tidak ada kebijakan pemerintah Inggris untuk mendeteksi atau aturan etika kehidupan di luar bumi, tetapi Parliamentary Office of Science and Technology (POST) telah mengutus perwakilan untuk merapatkan kemarin. “Hal itu menjadi pedoman umum bagi kami,” kata penasihat POST, Sarah Bunn.