Terorisme Produk Peradaban Bengis Spesies Homoanarkiensis atau Human Violent

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Ledakan bom bunuh diri yang menguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta, Jumat 17 Juli 2009 pukul 07.47 dan 07.57, meninggalkan lobang seperti kawah dan bau amis. Peristwa teror dan brutalisme, kembali hadir menjadi salah satu item dari sekian banyak kekejian karya peradaban manusia yang konon menyatakan diri sebagai manusia beraklaq mulia. Aksi teror membawa manusia bengis ke dalam kehidupan mental kekejian (A date which will live infamy).

Tangan-tangan berlumuran darah telah menorehkan horor silih berganti mulai dari peristiwa Gerakan 30 September, Kerusuhan 1998, Ambon, Poso, Bom Bali I dan II, JW Mariott I, sejumlah kantor Kedubes di Jakarta, dan berbagai tempat yang lain. Meskipun begitu, bangsa Indonesia masih saja mengaku sebagai bangsa yang cinta damai. Sungguh bangsa yang hipokrit. Karakter bengis penggunaan cara-cara kekerasan dan vandalisme lebih cocok masuk dalam golongan spesies tersendiri yaitu dengan Homo-anarkiensis atau Human Violent.

Aksi Teror dan Terorisme Puncak Hierarkh Kekerasan

Dalam hierarki kekerasan, aksi teror dan terorisme berada di puncak, terrorism is the apex of violence. Itu pula menjadi gambaran kualitas aksi teror di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta. Tujuan serangan teror pertama-tama menciptakan ketakutan mendalam, kaum teroris mengeksploitasi rasa takut sampai pada tingkat optimum. Rasa takut yang begitu mendalam telah membawa orang ke dalam kengerian alam maut. Kiprah kaum teroris adalah “Bunuhlah seekor ayam untuk menakut-nakuti seribu ekor kera”, hingga cenderung spektakuler.

Keganasan kaum teroris memang meningkat dari waktu ke waktu seiring dengan perkembangan teknologi persenjataan. Kaum teroris semakin mahir menggunakan bom, termasuk bom bunuh diri. Dikhawatirkan pula kemungkinan kaum teroris menggunakan senjata nuklir seperti diingatkan pakar terorisme, Uri Ra’anan dalam buku Hydra of Carnage, International Linkages of Terrorism (1986), kemungkinan kaum teroris membikin bom nuklir yang bisa dibawa-bawa dalam koper atau bahan peledak nuklir sederhana. Maka Negara-negara pengembang senjata nuklir seperti Korea Utara, Iran, dan Pakistan yang menjadi tempat operasi Taliban, terus dipantau 24 jam non-stop.

Jangkauan ancaman gerakan terorisme juga semakin luas karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi. Maka, terorisme sering disebut sebagai kejahatan tanpa batas wilayah, crime without frontiers. Seluruh negara, tanpa terkecuali, berpotensi menjadi sasaran serangan teroris. Gerakan terorisme menjadi jaringan internasional, yang memiliki hubungan timbal balik pendanaan, logistik, latihan, dan orientasi ideologis. Desmond McForan awal tahun 1970-an memperkirakan sekitar dua juta teroris terlatih baik yang berkiprah di seluruh dunia.

Sekalipun penggunaan teror dapat dikatakan setua sejarah manusia, sampai sekarang belum dapat dijelaskan mengapa tindakan kaum teroris di luar batas rasionalitas manusia. Dalam kenyataan, tidak sedikit teroris yang berlatar belakang ekonomi dan pendidikan cukup tinggi. Anthony Storr menyatakan, pelaku teror umumnya penderita psikopat agresif, yang kehilangan nurani sehingga kejam dan sadistis. Pada setiap masyarakat, lingkungan, dan zaman selalu terdapat segelintir orang yang kurang mencapai tingkat normalitas dalam mengontrol dorongan batin. Kelompok psikopat agresif bisa melakukan teror sekadar untuk terror qua terror.

Tidak sedikit pula kaum anarkis, nihilistis, radikalis, dan revolusioner melakukan teror untuk mengubah tatanan dunia, Mikhail Bakunin, yang terkenal dengan ucapannya, “Semangat menghancurkan sama dengan semangat membangun.” Mereka ingin menghancurkan tatanan dunia yang ada dan hendak diganti dengan tatanan baru, meski gambaran dunia baru tersebut tidak jelas.

Bom Berbahan Kekejian

Apa pun alasannya, aksi teror adalah aksi yang penuh kekejian. Hanya mereka yang tidak punya hati nuranilah yang dengan senang hati membunuh orang lain dengan cara meledakkan bom. Jika mereka punya hati dan rasa kemanusiaan yang tinggi, segala persoalan hidup yang menimpa akan diselesaikan dengan jalan yang beradab dan bijaksana. Dengan jalan yang arif itu pulalah seharusnya, egoisme hewani bisa diredam. Kaum militan radikal menggunakan doktrin keabadian dan kejayaan dikukuhkan demi memacu spirit, menyebar seperti virus tanpa boleh ada vaksin yang menyaingi. Dan ini diwariskan lintas generasi menjadi masyarakat purba berbudaya primitif.

Moralitas kolektivitas sosial pun menjadi rapuh karena krisisnya tingkat kepercayaan di antara sesama. Upaya sehidup dan semati semakin terpolarisasi ke dalam kelompok sosial tertentu menjadi sebuah kompetisi indoktrinasi dan memupuk prejudice. Mereka yang berkeyakinan agama lain menjadi target kambing hitam dan dianggap sebagai musuh bersama yang harus disingkirkan dari muka bumi. Salah satu bakat terorist adalah mudah terpengaruh provokasi, dengan alasan ibadah dan jaminan ekonomis, kalangan kelas bawah sangat mudah mengikuti doktrin yang dianggap “suci”. Untuk memperkuat semangat mereka, maka perintah melakukan tindakan, yang “sesat” itu diatasnamakan perjuangan identitas kaum marginal. Masuk surga menjadi legitimasi untuk membunuh kelompok atau agama lain.

Kebijakan Pemerintah Masih Terlalu Toleran Terhadap Aksi Kekerasan

Tragedi bom di depan Kedubes Australia di Jakarta, pada 9 September 2004, mengingatkan tragedi serupa yang terjadi di Bali, Oktober 2002, dengan korban tewas lebih dari 200 orang, dan Hotel JW Marriott, Jakarta, Agustus 2003, dengan korban tewas 13 orang. Bom kembali meneror Bali pada tahun 2005. Teror bom di dua hotel elite Jakarta asal Amerika Serikat pada 17 Juli 2009, dapat diduga dilakukan oleh kelompok Jemaah Islamiyah, seperti teror-teror bom sebelumnya di Indonesia. Jaringan ini beroperasi di negara-negara Asia Tenggara, utamanya melibatkan warga Malaysia, seperti Azahari yang telah tewas di Batu, Malang, dan Noordin M Top yang sampai sekarang belum tertangkap.

Terorisme global yang paling fenomenal adalah tragedi WTC New York, September 2001, yang menewaskan sekurangnya 3.000 orang. Semua jika dirunut adalah ekspresi kebencian tokoh Al Qaeda, Osama bin Laden. Publikasi yang dikeluarkan oleh IISS, London dalam Strategic Survey 2004 bahwa kini anggota Al Qaeda telah mencapai lebih dari 18.000 militan dan siap menyerang di mana pun. Dalam publikasi itu berbagai aspek disebutkan, seperti keuangan kelompok dan training kader di seluruh dunia.

Tragedi bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton telah menambah sederetan perkembangan keamanan Indonesia pascatragedi bom Hotel JW Marriott 2003 yang membawa implikasi terhadap perspektif keamanan secara regional. Dalam rangka merespons aksi-aksi terorisme, Indonesia dan ASEAN belum mengintroduksi kebijakan anti terorisme baik luar negeri dan dalam negeri secara maksimal. Indonesia dan ASEAN masih menghadapi dilema yang sulit antara bekerja sama dengan koalisi global melawan terorisme maupun penerapan dari langkah antisipasi perang melawan terorisme dari setiap negara anggota ASEAN.

Diperlukan reformasi intelijen dengan melibatkan sumber daya sipil yang kredibel di bidang teknologi maju. Sebab, tingkat kesulitan melawan ancaman terorisme sangat tinggi. Aktivitas kaum teroris sangat absurd dan sulit dicerna akal sehat seperti terlihat pada serangan bom bunuh diri. Apalagi persenjataan mereka semakin canggih seiring dengan perkembangan teknologi persenjataan. Tidak tertutup kemungkinan teroris dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi akan menggunakan persenjataan kimiawi, biologis, dan nuklir yang bisa dibawa ke mana-mana.

Pemerintah Indonesia kurang serius dalam komitmen memberantas terorisme ini dan tidak mampu melaksanakan komitmennya dalam langkah-langkah kebijakan regional yang realistis dan strategis. Oleh karena itu, kemampuan Pemerintah Indonesia harus lebih memahami hakikat permasalahan tentang terorisme, serta kemampuan untuk mengembangkan perangkat dan aturan-aturan kelembagaan yang tepat dalam mengantisipasi ancaman terorisme masa depan.

Kompas, Bersatu Melawan Terorisme, Sabtu 18 Juli 2009.
Kompas, Teror Puncak Kekerasan, Sabtu 18 Juli 2009.
Kompas, Bom Jakarta dan Terorisme Global, Sabtu 18 Juli 2009.
Kompas, Perang yang Belum Kita Menangi, Sabtu 18 Juli 2009
Jawa Pos, Bom Berbahan Kekejian, Sabtu 18 Juli 2009.
Jawa Pos, Berani Untuk Hidup Bukan Untuk Mati, Sabtu 18 Juli 2009.
http://www.kesimpulan.co.cc/2009/07/teror-dan-brutalisme-kembali-guncang.html (Teror dan Brutalisme Kembali Guncang Indonesia, Cermin Bangsa yang Hipokrit).
http://www.kesimpulan.co.cc/2009/05/perilaku-agresi.html (Perilaku Agresi).