Adrenalin Junkie Para Pemburu Badai

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Kecanggihan satelit tak cukup untuk memantau badai mematikan. Kehadiran manusia-manusia supernekat masih diperlukan untuk mendeteksi kekuatan serta memprediksi jalur yang akan dilintasi amukan angin sangat kencang yang kecepatannya bisa mencapai 200 kilometer per jam. Merekalah disebut “pengejar badai”. Pekerjaan bergengsi yang hanya dilakukan oleh orang bernyali dan peduli kepada penyelamatan bencana. Hanya para ilmuwan, militer, fotografer, dan operator tour yang menggeluti itu, setumpuk fulus pun menanti sebagai imbalan atas tekad dan komitmen.

Di Amerika Serikat, “pasukan badai” itu tergabung dalam 53d Weather Reconnaissance Squadron. Tim yang bermarkas di Pangkalan AU di Biloxi, Masschusset, itu bertugas menembus pusat badai dan meletakkan alat demi mendapatkan data kecepatan, arah, dan kekuatan angin. Data diperlukan untuk mengetahui jalur yang akan dilintasi badai sehingga bisa diantisipasi. Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), badan federal yang mengurusi kondisi laut dan atmosfer, juga ikut berpartisipasi di dalam misi tersebut

Pasukan khusus pengejar badai akan tetap eksis, karena teknologi satelit yang telah berkembang, dinilai tidak bisa menentukan dan menginformasikan tekanan barometrik topan dan kecepatan angin secara akurat. Perlu ada yang terjun langsung ke “pusat bencana”. Dan, itu hanya bisa dilakukan dengan pesawat yang harganya USD22 juta (sekitar 220 miliar).

Awal terbentuknya tim khusus itu amat unik. Pada tahun 1943, ketika muncul persaingan di antara dua pilot pasukan AU AS, yang saling menantang adu keberanian terbang mendekati badai. Dari situlah, tim penerbang badai terbentuk. Wilayah penerbangan mencakup area di sekitar Lautan Atlantik, Lautan Karibia, Teluk Meksiko, dan Samudra Pasifik bagian pusat dan timur. Tak selamanya misi skuadron itu sukses. Tim berjuluk Swan 38 dengan enam orang anggota hilang pada 12 Oktober 1974, saat memburu topan Bess. Mereka berangkat dari Basis Clark di Filipina.

Selain pasukan khusus resmi, ada sejumlah pemburu badai yang bertindak dengan alasan hobi semata. Warren Faidley, jurnalis karir terjun pemburu badai pada tahun 1980. Ketertarikannya dimulai saat menekuni profesi sebagai fotografer profesional dan sinematografer badai. Dari keahliannya itu, diangkat menjadi dosen dan penulis. Jepretan dan video pria yang menjadi salah seorang yang berhasil bertahan hidup dalam serangan Tornado F-5 dan badai kategori tingkat 5 itu, telah dipakai oleh National Geographic, Time, majalah Life, USA Today, Scientific American, hingga Wall Street Journal.

Pengalaman berbeda dialami Allan Detrich, yang terobsesi menaklukkan badai karena menyimpan dendam saat pabrik tempat ayahnya bekerja di Attica, Ohio, dihancurkan badai pada 3 April 1974. Kini Allan memiliki tim terdiri lima “orang gila” pemburu badai, yaitu Nancy Bose seorang manajer marketing di New York; John Griswold teknisi nirkabel dari Florida; Brian McNoldy asal Colorado; Chris Howell seorang pengantar pesan dari Michigan.

Ada juga Hurricane Hunters, pesawat yang melayang di atas siklon tropis di utara Samudera Atlantik dan bagian tenggara Samudera Pasifik untuk mengumpulkan data di antara badai yang terjadi. Para adrenalin junkie juga menggilai gunung berapi. Khusus vulkano, lebih banyak ilmuwan yang terlibat. Sejumlah ahli gunung berapi menemui ajal saat mereka bertugas untuk memprediksi kapan terjadinya letusan.

David Alexander Johnston menjadi korban letusan Gunung St Helens Washington pada 1980; Katia dan suaminya, Maurice Kraff, tewas di Gunung Unzen, Jepang, pada 1991. Salah seorang ilmuwan gunung berapi yang tiada lelah memburu letusan adalah John Seach. Lebih dari 21 tahun pria itu melanglang buana ke gunung-gunung berapi. Tokoh yang lama bekerja sama dengan banyak stasiun televisi ternama itu telah menyaksikan 130 letusan selama melakukan perjalanan membahayakan (Jawa Pos, Tembus Jantung Badai dengan Pesawat Rp 220 M, Minggu 23 Agustus 2009)


Iklan