Akibat Pemutusan Hubungan Kerja Bagi Para Pekerja Profesional

9 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan) Fenomena krisis ekonomi mengubah segalanya dengan cepat, harga-harga melambung tinggi, permintaan masyarakat atas barang/jasa merosot, penjualan perusahaan anjlok, dan pada akhirnya karier maupun gaji para profesional terpangkas. Kini pemutusan hubungan kerja (PHK) tak hanya menghantui pekerja lapis bawah, tapi juga kalangan manajer dan dewan direksi. Antrean orang-orang yang akan mencairkan jaminan hari tua, belakangan membuktikan hal tersebut.

Dalam situasi krisis seperti ini para eksekutif bertahan dalam jepitan paket hemat perusahaan yang dari bulan kebulan kian menghimpit. Jangan lagi bicara bonus atau kenaikan gaji, bahkan berbagai fasilitas seperti tunjangan kendaraan, kesehatan, asuransi dan handphone sudah lama dicabut. Sejalan dengan penerimaan perusahaan yang semakin menurun, mayoritas perusahaan yang masih bertahan juga memotong gaji para eksekutifnya.

Kondisi makro jelas memberi dampak secara langsung kepada kondisi ditingkat mikro atau ada hubungan timbal balik antara keduanya karena pada akhirnya hancurnya ekonomi mikro juga menghambat upaya pemulihan ekonomi ditingkat makro.

Tidak ada data resmi tentang data eksekutif yang kehilangan pekerjaannya. Lembaga yang kompeten dibidang ini Ditjen Binawas, Departemen tenaga kerja hanya mencatat jumlah karyawan yang terkena PHK tanpa merinci jenjang kariernya. Selama krisis ekonomi global melanda banyak perusahaan menengah kecil yang kebal dan justru mendapat peluang ekspansi. Salah satu kelemahan mereka adalah di bidang manajemen yng umumnya masih dikelola secara kekeluargaan. Kehadiran para mantan senior eksekutif tentu bisa memajukan mereka. Yang sulit adalah kelompok orang gajian yang miskin jam terbang. Selain tabungannya minim, kemampuan manajerialpun serba tanggung. Kelompok ini merupakan bagian terbesar dari profesional yang kena PHK harus berjuang mendapatkan pekerjaan baru agar ilmu mereka tidak lupa. Namun mendapat pekerjaan baru dalam situasi seperti ini sangat sulit. Kelompok rawan lainnya para lulusan segar.

Ada 4 cara untuk mengatasi masalah ini sebagai jalan keluar, dapat dikelompokkan menjadi, yaitu: Pertama, Mencari pekerjaan baru. Salah satunya dengan melalui media internet, memang belum lazim bagi sebagian besar masyarakat, tapi disana terdapat. Syarat – syarat yang harus dipenuhi adalah harus tahu betul bidang pekerjaan yang dikuasai serta prestasi yang pernah dikuasai, latar belakang pendidikan, kepribadian yakni sejauh mana kemampuan sang kandidat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Kedua, Pindah ke perusahaan kecil. Jalan untuk memperbaiki keadaan itu salah satunya adalah mencoba merintis karier baru di perusahaan lain yang relatih lebih kecil. Dalam perusahaa kecil perjuangan relatif berat karena harus merintis dan mengelola dalam skala kecil dan pada akhirnya banyak yang suksess dan kini jadi pimpinan puncak di kantor baru. Eksekutif yang pindah dari perusahaan kecil umumnya identik dengan turun jabatan dengan segala keterbatasan fasilitas tunjangan.

Ketiga, Membangun Usaha Baru. Kesulitan manjemen untuk menjadi wirausahawan yang harus disiapkan memang bukan uang, melainkan kemauan dan keberanian. Di situ beda usahawan dengan pegawai, jika pegawai sudah tahu persis saat mengangkat kakinya berjalan ke kantor. Adapun usahawan harus mengangkat kaki ke tujuan yang akan temukan jika sudah berjalan. Berikutnya, mengenai kemampuan, melihat faktor mana saja yang bisa dijual dari ‘diri individu’ antara lain keahlian, pengalaman, relasi dan hobi jika seseorang cukup cermat, pasti melihat banyak hal bisa dijual.

Keempat, Menyenangi apa yang dilakukan, betatapapun beratnya. Sering orang mengawali sesuatu dengan keterpaksaan (merupakan pisau pembunuh yang paling kejam).

Iklan