Akronim PRECIOUS dalam Pemasaran High Value Products

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Ketika beberapa pemilik merek angkat kaki dari Indonesia, banyak industri di sini yang kelabakan. Inilah nasib industri ’tukang jahit’ yang menerima loan/toll manufacturing. Padahal, beberapa di an taranya menghasilkan kualitas yang bagus sesuai standar mutu yang ditetapkan pemilik merek dari garmen, alas kaki, sampai bola yang digunakan dalam pertandingan sepakbola Piala Dunia di Perancis.

Banyak pula produk Indonesia yang merupakan barang komoditas bernilai rendah, tetapi sampai ke tangan konsumen dengan harga bagus dan apresiasi yang tinggi. Rempah-rempah dan komoditas lain, ketika menjadi produk akhir dengan merek terkenal, harganya menjadi berlipat-lipat. Banyak sekali produk kita yang berpotensi menjadi high value products. Produk semacam ini mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi para pemasar, karena potensinya yang sangat besar untuk menghasilkan laba yang tinggi. Tetapi memasarkannya bukan pekerjaan mudah. Kopi Starbucks, misalnya, ternyata sebagian kopinya berasal dari Indonesia.

High Value Product dibagi menjadi dua kategori: High Intrinsic Value Products (HIV), dan High Value Branded Products (HVB). High Intrinsic Value Products adalah produk-produk yang nilai intrinsiknnya rnemang sudah mahal, seperti berlian dan mutiara. Sedangkan High Value Branded Products adalah produk-produk yang menjadi mahal terutama karena mereknya, seperti tas Hermes, Channel, Prada, Louis Vuitton, Rodo, Baume & Mercier.

Jika berbicara mengenai High Value Product, maka berbicara bagaimana memberikan nilai tambah kepada produk inti: apakah kemasan, layanan, periklanan yang gencar untuk mengangkat ‘citra’ produk, dan nilai-nilai tambah lainnya. Nilai tambah di mata pelanggan adalah kemudahan, kenyamanan, kemewahan, dan yang terpenting adalah fungsinya sebagai ‘alat’ untuk mengekspresikan diri.

Sebuah produk terdiri atas satu lingkaran inti yang memberikan core benefit serta empat lapisan berikutnya: basic product, expected product, augmented product dan potential product. Lapisan pertama bersifat generik, untuk memenuhi kebutuhan dasar konsumen terhadap produk tersebut. Lapisan kedua (expected product) tidak hanya memenuhi kebutuhan (need) konsumen, tetapi juga keinginan (want) dan harapan (expectation) konsumen. Dan sinilah dimulainyahigh value products, kemudian merambah ke lapisan berikutnya (augmented product) dengan memberi nilai tambah sampai melampaui apa yang diharapkan oleh konsumen (customer delight) (A.B. Susanto, 2004).

Beberapa karakteristik yang biasanya melekat pada High Value Product adalahPerceived High Quality, Price Premium Strategy, Special Service, Psycho-graphics Segmentation. Perceived High Quality menjadi ciri utama khususnya dari jenis High Value Branded Products. Kualitas yang dimaksud bukan berdasarkan standar pabrik, melainkan perceived quality, yang criteria dan proses penilaiannya sepenuhnya di tangan pelanggan.

Dalam pemasaran High Value Products, The Jakarta Consulting Group mempunyai rumusan strategi yang dituangkan dalam akronim PRECIOUS.

  1. Huruf P adalah singkatan untuk Prompt Premium Products Characteristic, dengan memberi perhatian pada produk sebagai konsep yang menyeluruh mulai dari Core Products sampai Augmented. Karena citra (image) memegang peranan yang sangat penting, maka perhatian pada manajemen merek, pengelolaan gerai, serta display dan merchandising juga sangat penting. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah manusia di sisi produk (People Alongside the Products).
  2. Huruf R adalah singkatan untuk Right Standard, yang ditandai oleh penampilannya, penyajiannya, komunikasi pemasarannya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah manusia di belakang produk tersebut (People Behind The Products).
  3. Huruf E merupakan kependekan dari Empower Customer, yaitu memberdayakan pelanggan dengan memberikan kebebasan memilth dan beropini. Hal ini tidak terlepas dari penerapan konsep costumer centered marketing yang menempatkan pelanggan sebagai pusat aktivitas pemasaran.
  4. Huruf C berarti Consistence toward Concept. Maksudnya: pemasar hams konsisten terhadap konsep yang dikembangkan di belakang produk tersebut. Oleh karena itu, pengembangan konsep harus integral dan komprehensif. Penyimpangan dari konsep hanya boleh dilakukan dalam wilayah taktis. Konsistensi sikap diperlukan di semua bagian, sehingga perlu budaya perusahaan yang kuat.
  5. Huruf I adalah Ignite Interest dengan melakukan pendekatan kepada komunitas target. Untuk membangkitkan minat ini salah satunya bisa dilakukan dengan menyajikan legenda dari produk bersangkutan.
  6. Huruf U adalah kependekan dari Ultimate Branding. Intinya adalah membuat brand hebat melalui keunikan dan secara imajinatif, yang dapat dipakai sebagai sarana aktualisasi diri dan ego booster.
  7. Huruf S merupakan kependekan dari Strengthen Status, di mana produk dapat dimanfaatkan untuk memperkuat status di masyarakat. Salah satu fungsi High Value Branding Products adalah untuk memperkuat status sosial dan dimanfaatkan sebagai simbol status.