Akumulasi Defisit Anggaran Pemerintah Amerika Serikat Capai US$1,09 Triliun

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Defisit anggaran pemerintah terbesar dalam sejarah Amerika Serikat (AS)
+ Investor obligasi China, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab
+ Kurs Dollar semakin melemah

(kesimpulan) Akumulasi defisit anggaran pemerintah pusat Amerika Serikat (AS) mencapai 1,09 triliun dollar AS dan tertinggi untuk pertama kali dalam sejarah negara tersebut. Defisit telah membuat sejumlah negara yang memegang aset-aset di AS semakin khawatir akan kemerosotan nilai investasi mereka.

Mark Zandi, ekonom senior dari Moody’s Economy.com mengatakan bahwa jalan kebijakan fiskal yang jelas-jelas mengancam nilai investasi para investor dan telah membuat investor asing semakin khawatir. Investor sedang meminta jaminan dari AS soal penanganan defisit dalam jangka panjang. China, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab termasuk negara yang membeli saham-saham korporasi di AS. Sedagnkan cadangan devisa negara-negara di dunia mayoritas dipegang dalam bentuk dollar AS.

Menteri Keuangan AS, Timothy Geithner, mengatakan bahwa Pemerintah AS akan mengatasi defisit setelah krisis ekonomi berakhir. Namun, kekhawatiran investor asing di AS semakin mencuat. Sung Won Sohn, ekonom dari Sekolah Bisnis Smith di Universitas California, AS, mengatakan bahwa angka defisit tersebut sangat mengejutkan. Investor asing tidak hanya khawatir soal kurs dollar AS yang berpotensi merosot, tetapi juga soal keselamatan investasi mereka dalam jangka panjang.

Defisit menunjukkan pengeluaran yang lebih besar dari penerimaan, sebagaimana diperlihatkan data-data Depkeu AS, Selasa 14 juli 2009 di Washington. Defisit 1,09 triliun dollar AS tercatat pada Juni 2009 untuk tahun anggaran yang berakhir September 2009 dan dimulai pada Oktober 2008. Defisit sudah membengkak sejak era pemerintahan mantan Presiden AS George W Bush, antara lain untuk membiayai pengiriman pasukan ke Irak dan Afganistan.

Defisit keuangan semakin diperburuk lagi dengan kebijakan pembebasan pajak bagi korporasi pada era Bush dengan alasan untuk merangsang aktivitas bisnis. Kebijakan ini membuat ekonom Paul Krugman mengkritik Bush, yang dinilai tidak disiplin soal anggaran. Krisis ekonomi yang meledak pada era Bush membuat sejumlah bank dan korporasi AS bertumbangan. Untuk menyelamatkan sejumlah korporasi, pemerintahan di bawah Presiden AS, Barack Obama, mengucurkan dana talangan (Bailout). Hal ini membuat defisit anggaran Pemerintah AS semakin besar. Stimulus ekonomi sebesar 700 miliar dollar AS menambah besaran defisit.

Depkeu AS memperkirakan defisit masih bisa membengkak lagi menjadi 1,8 triliun dollar AS pada tahun anggaran 2009. Defisit dibiayai dengan utang luar negeri, termasuk China yang membeli obligasi Pemerintah AS. Defisit tersebut berpotensi meruntuhkan kurs dollar AS karena kurs mata uang berkolerasi negatif dengan defisit. Semakin besar defisit, ada potensi kurs melemah. Keberuntungan AS, sebagaimana dikatakan Geithner, sejumlah negara di dunia masih memegang cadangan devisa dalam dollar AS. Jika dunia memiliki alternatif mata uang kuat dunia lain, dengan ketersediaan yang besar, dollar AS berpotensi tumbang lebih cepat.

Di sisi lain, ada kekhawatiran soal kemampuan AS membayar kembali utang-utangnya di masa depan. Hal ini membuat suku bunga utang-utang AS meningkat untuk merangsang investor. Namun, kenaikan suku bunga hanya membuat beban utang AS membesar. Utang AS sekarang mencapai 11,5 triliun dollar AS dan pembayaran cicilan utang sudah mencapai 452 miliar dollar AS per tahun. Suku bunga yang meningkat berpotensi menaikkan inflasi. Hal ini lambat atau cepat meruntuhkan kurs dollar AS. Karena itu.

Geithner melakukan kunjungan ke Timur Tengah pekan ini untuk menepis kekhawatiran para investor. Geithner bulan pada Juni 2009 sudah memberi pernyataan kepada China agar tidak perlu khawatir soal utang AS. Namun, sejumlah analis menyatakan bahwa AS tidak memiliki kemampuan mengatasi defisit dalam waktu cepat. Daya saing produk AS semakin anjlok. Krisis ekonomi, yang belum pasti pemulihannya, meningkatkan kekhawatiran bahwa AS sehingga sulit mengatasi defisit, yang dikatakan bisa berlangsung bertahun-tahun ke depan. (Kompas, Defisit Anggaran Satu Triliun, Rabu 15 Juli 2009)

Iklan