Angkutan Massal Tidak Kelar Membawa Lalulintas Jakarta Macet Total Pada 2011

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Warga di Tangerang Selatan menyatakan bahwa bekerja di Jakarta, tetapi pola berangkat kerjanya seperti petani di desa. Meninggalkan rumah sebelum pukul 06.00 agar dapat sampai di kantor sebelum pukul 08.00. Jika berangkat sesudah pukul 06.20, maka butuh waktu tiga jam untuk menempuh perjalanan 27 kilometer ke kantor.

Sampai pertengahan tahun 2009, kemacetan di Jakarta semakin parah dan waktu tempuh butuh 10-30 menit untuk jarak tempuh 5 kilometer. Kemacetan terjadi sejak dari pinggiran kota sampai ke tengah kota. Waktu kemacetan, yang semula hanya terjadi pada jam puncak pagi dan sore hari, kini sudah bertambah pada siang dan malam hari. Pemicunya masalah klasik, pertambahan jalan tidak sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Data Dinas Perhubungan DKI Jakarta 2008 menunjukkan:

  1. Pertambahan jumlah sepeda motor sekitar 1.500 unit per hari dan jumlah mobil bertambah 250 unit per hari.
  2. Sekitar 650.000 kendaraan berbagai jenis dari Bogor, Bekasi, Depok, dan Tangerang berjejal masuk ke Jakarta
  3. Total jumlah kendaraan yang melaju di jalanan mencapai sekitar 5 juta unit per hari.
  4. Total panjang jalan di DKI Jakarta mencapai 5.621,5 kilometer dan hanya bertambah 0,01 persen per tahun.

Ketidakseimbangan jumlah pertambahan kendaraan dan panjang jalan tersebut, Jakarta akan mencapai kondisi macet total. Beberapa pengamat transportasi memperkirakan, semua kendaraan di Jakarta akan terjebak kemacetan sesaat setelah keluar dari rumah pada tahun 2014. Ahli transportasi Universitas Trisakti, Fransiskus Trisbiantara, memperkirakan kemacetan total dapat terjadi pada 2011-tahun 2012 jika tidak ada langkah berarti dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Penciptaan angkutan massal yang cepat dan nyaman serta pembatasan angkutan pribadi akan menyelesaikan masalah kemacetan di Jakarta. Saat menyadari solusi itu, Pemprov DKI menyusun konsep pola transportasi makro. Angkutan massal dengan sistem mass rapid transit (MRT), bus rapid transit (BRT), angkutan air, dan kereta api disiapkan. MRT sudah mendapatkan pendanaan dan mulai disiapkan infrastruktur penunjangnya. Namun, Sayangnya, target operasi pada awal 2016 diperkirakan sulit tercapai. BRT diwujudkan dengan bus transjakarta yang sudah beroperasi 7,5 koridor. Angkutan air sudah pernah beroperasi, tetapi tidak berlanjut.

Angkutan massal yang dapat menjadi tumpuan harapan untuk mengatasi kemacetan adalah bus transjakarta yang dapat mengangkut sampai 210.000 penumpang setiap hari. Namun, pengelola bus transjakarta belum dapat memindahkan pengguna kendaraan pribadi ke BRT tersebut. Belum idealnya jumlah bus di setiap koridor menjadi akar semua masalah. Tidak seimbangnya jumlah bus dan penumpang membuat kondisi halte dan bus penuh dan tidak nyaman. Tanpa kenyamanan, pengguna kendaraan pribadi tidak akan pindah ke bus transjakarta. Selain itu, waktu kedatangan antarbus yang sering terlambat 15 menit membuat penumpang harus menunggu lama, sehingga warga yang butuh kecepatan tetap memilih kendaraan pribadi. Ketiadaan tempat parkir bagi pengendara kendaraan pribadi yang ingin beralih ke bus transjakarta dan angkutan pengumpan yang memadai untuk menuju dan meninggalkan halte juga menjadi masalah.

Harapan angkutan massal lainnya pada kereta api (KA) Jabotabek, diharapkan mampu memindahkan pengendara kendaraan pribadi dari kawasan pinggiran yang masuk ke Jakarta. Pemprov DKI Jakarta bersama PT KA yang kemudian mendirikan PT KM Commuter Jabodetabek mewujudkan jaringan KA lingkar luar (loop line) yang melayani jaringan rel listrik 150 kilometer, yang menghubungkan rute Jakarta-Bogor, Jakarta-Bekasi, Jakarta-Tangerang, dan Jakarta-Serpong. Jalur lingkar dapat dibangun di dalam kota, dengan jalur Jatinegara-Manggarai-Tanah Abang-Duri-Kampung Bandan-Pasar Senen-Jatinegara. Namun, realisasi masih terhambat oleh permukiman ilegal, jalur rel yang kurang terawat, rawan banjir, persimpangan sebidang dengan jalan raya, dan belum terintegrasinya stasiun dengan moda angkutan lainnya dan tata kota.

Sambil menunggu pembenahan bus transjakarta, jalur lingkar KA, dan MRT, Pemprov DKI Jakarta harus membenahi angkutan umum yang ada sekarang, semua pengusaha angkutan umum meremajakan armada yang lebih baik untuk meningkatkan kenyamanan. Di sisi lain, kedisiplinan awak angkutan umum juga harus ditingkatkan. Bus kota dan mikrolet harus diatur agar memiliki tempat perhentian khusus, agar tidak menjadi penyebab kemacetan di jalan. Jika ada yang tidak disiplin, petugas harus langsung menilang. Di bagian lain, jumlah angkutan umum berupa mikrolet dan metromini berkembang pesat melebihi kebutuhan sebenarnya. Hal ini terjadi karena jumlah mikrolet bertambah, sementara mikrolet lama tidak dipensiunkan (Kompas, ”Angkutan Massal Belum Final, Jakarta Mengarah Pada Kemacetan Total”, Jumat 19 Juni 2009)

Iklan