APEC Kecam Proteksionisme Perdagangan Karena Ancam Perekonomian Global

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Kampanye “beli produk lokal” perburuk kinerja ekspor 21 negara anggota APEC
+ Proteksionisme ganggu produk pertanian dan ekspor otomotif negara berkembang
+ Harus ada terobosan atasi kemerosotan ekonomi terburuk dalam 70 tahun terakhir

(kesimpulan) Negara-negara di Asia Pasifik, Selasa 21 Juli 2009, sepakat menghindari langkah yang dapat mengarah pada proteksionisme perdagangan. Negara-negara di kawasan tersebut mengecam Amerika Serikat dan negara maju lain yang melancarkan kampanye “beli produk lokal”. Proteksionisme adalah julukan bagi tindakan sebuah negara untuk menghambat impor dan mengutamakan produksi dalam negeri.

Menteri Perdagangan Thailand Pornthiva Nakasai, dalam forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Singapura, mengatakan, kampanye “beli produk lokal” telah mempengaruhi kinerja ekspor dari 21 negara anggota APEC. Perlu dicegah proteksionisme karena langkah itu sudah mulai mengancam ekspor.

Seorang pejabat perdagangan yang hadir dalam diskusi mengatakan, APEC tampaknya akan mengumumkan sebuah kesepakatan pada Rabu 22 Juli 2009 untuk mencegah proteksionisme. Langkah ini perlu dilakukan untuk meningkatkan perdagangan global di tengah kemerosotan ekonomi terburuk dalam 70 tahun terakhir. APEC membuat keputusan dengan konsensus dan komitmennya tidak mengikat. Pornthiva mengatakan, Australia dan Indonesia mengajukan isu proteksionisme. Seruan itu diperkuat Thailand dan Taiwan dengan mengatakan proteksionisme mengganggu produk pertanian dan ekspor otomotif.

Kepala Perwakilan Dagang AS (USTR), Ron Kirk menjawab, kejujuran semua pihak sangat bagus untuk membahas hal ini. “Beli AS” merupakan salah satu poin dalam stimulus AS yang secara garis besar mempersyaratkan pekerjaan umum, yang didanai dengan uang dari stimulus, harus menggunakan baja dan barang-barang manufaktur lain buatan AS. Negara lain juga mengeluarkan kebijakan “beli produk lokal” serupa.

Dirjen Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Pascal Lamy pada pertemuan tersebut mengatakan, pemerintahan yang menghambat perdagangan jelas akan mengancam perekonomian negara lain. Lamy juga semakin khawatir mengenai stimulus baik yang dilakukan negara maju maupun berkembang karena mengarah pada proteksionisme.

Negara di Asia Pasifik yang sangat bergantung pada ekspor, seperti Singapura dan Thailand, menyatakan ekspor mereka menurun tahun 2009. Akan tetapi, dengan adanya perbaikan pada pasar credit, pembiayaan perdagangan dan permintaan telah membuat penurunan melambat.

Menteri Perdagangan Australia, Simon Crean, menyatakan bahwa Australia sebelumnya menjamin agar proteksionisme tidak meluas dapat dilakukan dengan cara membuat kesepakatan pada pakta perdagangan global. Perdagangan menggerakkan pertumbuhan dan hal yang paling diperlukan dunia saat ini adalah pertumbuhan.

Lamy memperkirakan kesepakatan Doha, julukan bagi rangkaian pembicaraan soal liberalisasi perdagangan dunia, dapat meningkatkan ekonomi dunia senilai 130 miliar dollar AS. Para pemimpin negara kaya telah menyerukan kesepakatan perdagangan global tahun 2010.

Namun, para negosiator mengatakan hanya ada kesempatan kecil untuk mencapai hal itu karena AS masih memberikan sinyal seperti tidak sepakat soal pertanian dan isu lain. AS baru memberikan sedikit indikasi bagaimana sikap pemerintahan AS mengenai kesepakatan Doha tersebut. Kirk menegaskan bahwa AS terus berupaya mendukung perdagangan untuk melindungi pekerjaan dan pasar tenaga kerja. Hal tersebut merupakan sebuah isu sensitif karena pekerja di negara kaya cenderung khawatir bahwa kesepakatan Doha tidak menguntungkan (Kompas, APEC Kecam Proteksionosme, Rabu 22 Juli 2009)

Iklan