Armada Angkatan Laut US Navy Berbahan Bakar Air Laut

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Armada Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) segera bisa berlayar di samudra dengan bahan bakar jet yang berasal dari air laut, jika penelitian baru mengenai hal itu terbukti lebih ekonomis. Dengan mengekstraksi pemisahan karbon dioksida dari air laut dan mengkombinasikan dengan hidrogen yang telah dilucuti dari molekul air. Para kimiawan dari US Navy juga berharap pada suatu hari nanti dapat dijadikan bahan bakar yang murah, aman, dan stabil bagi armada pesawat.

“The US Navy dikelilingi oleh air laut dan kebutuhan bahan bakar jet Angkatan Laut,” kata Robert Dorner, seorang ilmuwan dari devisi teknologi, Naval Research Laboratory di Washington, DC. Dalam air laut telah ada CO2 juga telah terkandung hidrogen. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya mengkonversikan menjadi bahan bakar jet.

Menurut Dorner, apa yang dilakukan yaitu memodifikasi versi dari reaksi kimia yang dikenal sebagai proses Fischer-Tropsch. Suatu proses yang biasanya dimulai dengan karbon monoksida dan hidrogen, menggunakan katalis logam dan panas, kemudian berakhir dengan campuran metana, wax, dan gas sintesis (syngas), sehingga dapat menghasilkan bahan bakar.

Proses Fischer-Tropsch dinilai mahal dan bersifat intensif serta memiliki berbagai keterbatasan penggunaan. Salah satu yang telah terbukti sangat ekonomis adalah dengan menggunakan batu bara untuk menghasilkan bahan bakar cair seperti dalam Perang Dunia II Jerman. Namun, Dorner dan kawan-kawan ingin menggunakan karbon dioksida yang terlarut dalam air laut (140 kali jumlah yang ditemukan di atmosfer) dan hidrogen yang dilepaskan dari air sebagai bahan dasar untuk reaksi.

Mereka juga ingin mengubah logam katalis (yang lebih banyak memproduksi metana besi) dengan kobalt (yang dapat menurunkan produksi metana 70 persen dan meningkatkan jumlah produksi syngas). Memproduksi syngas dengan sedikit mungkin kandungan metan secara signifikan akan lebih efesien, tapi itu bukan bahan bakar jet. Sehingga diperlukan satu cara tambahan lagi untuk menjadikan sebagai bahan bakar jet.

Dorner dan para koleganya dalam beberapa minggu berikutnya akan mengambil langkah terakhir, mengubah syngas menjadi bahan bakar jet yang sebenarnya. Hasil percobaan tersebut akan membantu menentukan, apakah versi modifikasi dari proses Fischer-Tropsch lebih ekonomis untuk armada US Navy.

“Ini masih sangat energi proses intensif,” kata Dorner. “Banyak pekerjaan yang masih harus dilakukan. Kita bahkan belum benar-benar memutuskan akan membangun stasiun produksi percontohan yang sebenarnya.” Dengan tujuan proses ekonomis, Dorner tidak terlalu berharap setiap kapal induk dalam armada US Navy akan dilengkapi dengan teknologi tersebut. Sebaliknya berbagai pompa dan sumber energi yang dibutuhkan untuk mengubah air laut menjadi bahan bakar jet akan dipasang pada kapal yang terpisah yang menggunakan perbedaan panas dalam kolom air untuk membantu kekuatan reaksi, meskipun hal ini spekulasi, kata Dorner.

Jean-Michel Lavoie, seorang ilmuwan di Universitas Sherbrooke di Quebec, Kanada, memngatakan bahwa tujuan ekonomis mengubah air laut menjadi bahan bakar jet masih perlu dibuktikan. ”But, he adds, the idea is appealing because it doesn’t use drinkable water and there are massive amounts of raw materials to work with”.

Dengan minyak murah yang masih tersedia, terutama di Amerika Serikat, mungkin tidak akan praktis penerapan teknologi itu selama beberapa tahun ke depan. “Tapi satu hal yang pasti, gagasan untuk menggunakan air laut sebagai media transportasi CO2 yang baik dan dapat bermanfaat baik di energi serta sudut pandang lingkungan,” kata Lovie (Discovery)