Atasi Disfungsi Ereksi Secara Lebih Aman dengan Viagra Krim

10 tahun ago kesimpulan 0

(KeSimpulan) Para ilmuwan menyatakan bahwa obat berupa krim untuk mengatasi disfungsi ereksi yang memungkinkan untuk diterapkan secara langsung ke kulit akan lebih aman digunakan. Studi pada tikus menunjukkan bahwa Viagra, Levitra, dan Cialis dalam bentuk krim sebesar kapsul bisa melewati kulit. Laporan hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Sexual Medicine tersebut berarti akan lebih sedikit efek samping, dan bahkan secara signifikan mempercepat efek obat tersebut. Namun, obat dalam bentuk krim tersebut sepenuhnya belum siap untuk digunakan dalam waktu dekade ini.

Perawatan disfungsi ereksi dalam bentuk tablet telah menjadi salah satu kisah sukses dari industri farmasi modern, dengan beberapa perkiraan menunjukkan bahwa puluhan juta orang di seluruh dunia telah menggunakannya. Namun, obat tersebut juga membawa risiko efek samping seperti sakit kepala, penglihatan kabur atau gangguan perut. Efek samping juga terjadi pada pria dengan masalah jantung berat, atau yang baru saja menderita stroke.

Bagi banyak orang, hal ini dapat diselesaikan dengan pengembangan dalam bentuk krim, yang akan membatasi lebih sedikit bahan-bahan aktif obat ke satu daerah tubuh, daripada obat oral yang beredar secara luas ke dalam darah. Tim peneliti di Albert Einstein College of Medicine di Yeshiva University, New York, menggunakan bahan-bahan berukuran nanopartikel yaitu jauh lebih kecil dari butiran serbuk, dan menemukan cara untuk membungkus partikel obat. Tes awal diberikan pada tikus percobaan yang memiliki disfungsi ereksi.

Dari jumlah tersebut, 11 tikus diperlakukan dengan nanopartikel yang mengandung Cialis (yang lebih baru disebut obat disfungsi ereksi sialorphin) dan oksida nitrat (sebuah bahan kimia yang diperlukan untuk memperluas pembuluh darah dan menghasilkan ereksi dan sering dialami pria dengan diabetes). Tikus menunjukkan peningkatan potensi ereksi dari pada tikus kontrol yang diberi placebo.

Professor Kelvin Davies, salah seorang peneliti mengatakan: “waktu respons ke nanopartikel itu sangat pendek, hanya beberapa menit, yang pada dasarnya diinginkan terhadap obat disfungsi ereksi. Tikus dan manusia memerlukan waktu 30 menit sampai 1 jam saat reaksi jika menggunakan obat berbentuk oral untuk disfungsi ereksi.”

Para peneliti tidak menemukan tanda-tanda peradangan lokal atau kerusakan yang disebabkan oleh nanopartikel, dan tidak ada bukti efek samping yang lebih luas. Studi klinis pada manusia bisa dimulai dalam beberapa tahun jika studi hewan terus menunjukkan bahwa pengobatan dengan cara krim aman dilakukan. Namun, pada akhirnya untuk mendapatkan obat yang disetujui oleh otoritas uji farmasi bisa memakan waktu hingga 10 tahun atau lebih (BBC)

Iklan