Berantas Terorisme Dengan Menghapus Habitat Teroris

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Terorisme tidak mengenal sasaran, siapa saja bisa terbunuh dan kehilangan segalanya
+ Terorisme adalah bentuk benturan ideologi, maka perlu pendekatan filsafat
+ Fundamentalisme Islam anggap demokrasi sebagai ketololan
+ Teroris adalah penderita kegalatan kategori (category mistake) dan split personality
+ Ideologi Pancasila bisa menjadi antitesis atau filter
+ Terorisme ibarat monster imajiner, maka harus diberantas langsung ke habitat-nya

(kesimpulan) Bom kembali mengguncang Jakarta pada 17 Juli 2009 di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. Modus lama kembali dipilih teroris: bom bunuh diri. Sembilan 9 tewas dan lebih dari 50 orang terluka akibat peristiwa teror itu. Banyak pertanyaan kembali bermunculan, terutama bagaimana Indonesia bisa menjadi sasaran terorisme kembali. Kegelisahan itu juga dialami mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono. Sebagai orang yang menggeluti intelijen, ditambah sederet bidang keilmuan yang dipelajari, mengaku punya tanggung jawab mencari penjelasan, akar permasalahan, dan cara menanggulanginya.

Pendekatan filsafat analitika bahasa pun dipilih untuk mengurai terorisme dalam disertasi yang berjudul Terorisme dalam Filsafat Analitika, Relevansi dengan Ketahanan Nasional di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Hendropriyono meraih gelar doktor secara cum laude. Pria yang punya gelar akademis mulai dari sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana administrasi negara dan niaga, sarjana teknik industri, sampai magister hukum militer, menyatakan bahwa disertasi tersebut berawal dari kegelisahannya untuk mencari tahu apa itu terorisme, bagaimana menjelaskan dan mengatasinya. Terorisme terbukti membuat orang sulit memperoleh dan menikmati kesejahteraannya, terutama karena tidak ada jaminan keamanan.

Terorisme tidak mengenal sasaran. Bahkan pelakunya bersedia mengorbankan diri. Siapa saja bisa tiba-tiba terbunuh dan kehilangan segalanya. Sulit menjelaskan terorisme secara konsisten karena bisa diinterpretasi dan didefinisikan secara berbeda, dengan elemen waktu dan keadaan yang juga berbeda. Pada satu waktu, teroris bisa menjadi pahlawan. Pendekatan filsafat dipilih karena justru lewat filsafat, terorisme bisa mendapat penjelasan, bagaimana terorisme terbentuk dari perbenturan berbagai ideologi besar saat ini. Untuk mempelajari itu, kita harus paham ideologi, yang menjadi salah satu hal yang dipelajari dalam studi filsafat.

Secara eksplisit, teror yang dilakukan jaringan teroris global Al Qaeda pasca serangan 11 September 2001 terhadap menara kembar WTC dan Pentagon terjadi akibat penolakan terhadap modernitas dan sekularisasi yang muncul akibat ideologi demokrasi. Filsafat demokrasi yang kini masih digandrungi masyarakat non-Barat sejak abad XX, sayangnya, tidak selalu bisa menghadirkan komitmen damai. Demokrasi justru memicu kebangkitan fundamentalisme Islam. Perlawanan fundamentalisme Islam dilakukan secara semesta dengan menggunakan dalih patriotisme dan spirit keagamaan. Buat Al Qaeda, dengan tokohnya, Osama bin Laden, demokrasi adalah dianggap tolol. Dari kondisi itu, sampai kapan pun kedua ideologi yaitu demokrasi dan Islam tidak akan pernah mencapai perdamaian.

Pelaku teror bukan orang gila. Kaum teroris mengalami kegalatan kategori (category mistake) sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan yang salah serta cenderung hanya menggunakan cara, ungkapan, dan bahasa sendiri sebagai pembenaran. Teroris adalah sosok yang mengalami kepribadian terbelah (split personality), salah satunya tampak dari bahasa yang digunakan, baik Osama bin Laden yang mencampuradukkan bahasa “mengancam” dengan bahasa “berdoa”.

Dalam konteks Indonesia, ideologi Pancasila bisa menjadi antitesis dari kedua tesis yang saling bertentangan tersebut. Setiap bangsa memiliki ideologi masing-masing. Permasalahan adalah tinggal dikoreksi dan ambil yang bagus serta tolak yang buruk. Pancasila bisa menjadi filter. Dengan begitu, sebagai bagian dari negara dan bangsa di dunia, Indonesia bisa sama-sama berdiri berdampingan. Eksistens secara damai seperti di masa Perang Dingin. Terorisme ibarat monster imajiner mitologi Yunani, Hydra atau Candabirawa dalam pewayangan yang sama-sama berbentuk makhluk ganas yang akan selalu muncul dan malah tumbuh menjadi banyak setiap kali dibunuh. Terorisme bisa diberantas, salah satunya dengan menghapus “habitat” tempat teroris bisa diterima dan terlindungi. (Kompas, Pancasila Bisa Menjadi Antitesis Untuk Menghadang Terorisme, Selasa 4 Agustus 2009)