Bid-Ask Spread

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Spread merupakan persentase selisih antara bid price dengan ask price. Ada dua model spread yaitu:

  1. Dealer spread, selisih antara harga di bid (harga beli) dengan harga ask (harga jual) yang menyebabkan individu dealer ingin memperdagangkan sekuritas dengan aktiva sendiri.
  2. Market spread, selisih antara highest bid (harga tertinggi yang diminta untuk menjual) dan lowest ask (harga terendah yang ditawarkan untuk menjual) yang terjadi pada saat tertentu.

Spread saham dalam perdagangan sekuritas, investor berkeinginan untuk membeli dan/atau menjual sesuai dengan harga dan jumlah yang diinginkan, tidaklah selalu memperoleh harapan tersebut secara simultan. Market maker (baik dealer maupun broker) berusaha untuk mengatasi adanya ketidaksamaan terhadap order (keinginan) yang dihadapi investor. Broker akan melakukan transaksi atas nama investor untuk mendapatkan komisi, sedangkan dealer melaksanakan transaksi untuk memperoleh keuntungan sendiri. Market maker tersebut memperoleh kompensasi karena aktivitas membeli dilakukan pada saat harga beli (bid price) lebih rendah daripada true price dan menjual saham pada saat harga jual (ask price) lebih tinggi daripada true price. Perbedaan antara bid price dengan ask price tersebut dikenal dengan bid-ask spread. Dalam kondisi terbentuknya spread demikian disebut efective spread.

Terdapat 3 alternatif pandangan mengenai proses perdagangan dan biayanya yang berhubungan dengan pembentukan spread, yaitu:

  1. Jika pembentukan spread merefleksikan biaya order processing, maka ask dan bid akan terletak pada seputar harga yang sesungguhnya (true price). Kondisi demikian dinamakan efective spread, dan dealer akan menutup biaya yang terjadi. Semakin lebar spread yang terbentuk maka biaya transaksi akan meningkat dan investor tidak lagi tertarik terhadap sekuritas tersebut.
  2. Jika spread merefleksikan biaya inventory holding, maka harga bid dan ask pada waktu t=1 akan diturunkan di bawah true price dengan tujuan menginduksi penjualan saham oleh dealer dan menghalangi penambahan kegiatan pembelian saham oleh dealer. Spread yang terbentuk berada di bawah true price sebesar 0,5 spread.
  3. Jika spread merefleksikan adverse information cost, kondisi yang terjadi sama seperti di atas, harga expected equilibrium menjadi rendah, di bawah true price semula. Hal ini diakibatkan oleh dampak informasi yang ada dan diasumsikan bahwa traders memiliki informasi tersebut. Selanjutnya kondisi demikian menyebabkan dealer dapat menawar dengan harga yang lebih rendah.

Misalkan kondisi matching orders dapat dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan bantuan pihak tertentu atau spesialis, maka kurva penawaran akan mengalami pergeseran ke atas. Pergeseran tersebut diakibatkan oleh adanya biaya yang harus dihadapi spesialis sebagai perantara investor yaitu cost of standing ready & cost of waiting. Perpotongan antara kurva permintaan semula dengan kurva penawaran baru akan menghasilkan harga Ask.

Apabila kemudian terdapat investor yang ingin membeli sekuritas tersebut, maka memotivasi spesialis untuk menetapkan harga beli di bawah harga keseimbangan. Kondisi ini menyebabkan kurva permintaan bergeser ke bawah menjadi kurva permintaan baru. Perpotongan antara kurva penawaran semula dengan kurva permintaan baru menghasilkan harga Bid. Perbedaan antara harga ask dengan harga bid dikenal dengan bid ask spread yaitu ukuran biaya kesediaan (price of immediacy) dalam transaksi sekuritas.

Besarnya bid ask spread dapat dikaitkan dengan besarnya biaya transaksi dan efisiensi pasar. Bila diasumsikan pasar modal adalah dalam keadaan efisien setengah kuat, maka informasi yang ada akan tercermin sesegera mungkin dalam harga saham. Dalam kondisi demikian bisa dipastikan antara pihak yang akan membeli ataupun menjual saham memiliki muatan informasi yang sama terhadap suatu peristiwa. Di sinilah kemampuan stock split dalam signalling bekerja, dan dapat dijadikan sebagai alat untuk menghilangkan information asymetry yang selanjutnya akan menurunkan biaya atas informasi tersebut.

Karena muatan informasi yang dimiliki antara calon pembeli dan calon penjual saham adalah sama, maka harga saham yang muncul dalam tawar menawar di transaksi diperkirakan hampir sama dan tercipta rentang transaksi atau spread yang kecil.

Berdasarkan kamus ekonomi bid atau tawaran harga mempunyai pengertian sebagai harga yang dinyatakan oleh seorang pembeli yang ingin membeli. Pengertian ask adalah harga yang diminta oleh seorang penjual. Dan pengertian spread adalah perbedaan antara harga penawaran dan harga yang ditawar oleh pihak pembeli.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa hasil bid-ask spread ini dapat menyesatkan. Mereka menunjukkan permasalahan bid-ask spread ini dengan membandingkan harga-harga sesungguhnya yang dibayar oleh investor institusi (termasuk komisinya) atas nilai-nilai tengah catatan bid-ask pada saat eksekusi.

Bid-ask spread sebenarnya mengukur informasi tidak simetris (asymmetric information) antara dealer dan investor. Pedagang saham mempunyai informasi lebih lengkap yang dapat mempengaruhi harga saham dibandingkan informasi yang dimiliki oleh pedagang lain. Perbedaan informasi yang dimiliki ini menunjukkan informasi tidak simetris (asymmetric information) antara satu pedagang dan pedagang yang lain. Besarnya tingkat informasi tidak simetris ini tergantung pada pola kedatangan informasi. Sebelum diumumkannya informasi baru yang spesifik dari suatu perusahaan, tingkat informasi tidak simetris besar. Contoh kejadian yang memberikan informasi yang spesifik dari suatu perusahaan adalah pengumuman merjer, pengumuman laba, dan pengumuman dividen. Secara khusus, dealer atau specialist, yang berhubungan dengan saham perusahaan ini dianggap sebagai pihak yang tidak mempunyai informasi (uninformed traders). Pihak-pihak yang tidak mempunyai informasi (uninformed traders) ini akan menderita kerugian yang besar karena mereka harus siap berdagang dengan informasi yang lebih sedikit. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa ketika dealer merasa tingkat informasi tidak simetris meningkat, mereka melebarkan bid-ask spread (sumber laba dari para dealer) untuk mengurangi kemungkinan kerugian dari pedagang yang mempunyai informasi (informed traders). Karena itu dapat diduga bahwa bid ask spread akan lebar sebelum pengumuman laba atau dividen.

Bid-ask spread didasarkan pada antisipasi biaya yang akan ditanggung oleh dealer sebagai pedagang yang tidak mendapatkan informasi (uninformed trader). Biaya yang akan ditanggung oleh dealer ini dapat berupa biaya kerugian karena informasi (information trading cost). Biaya kerugian karena informasi (information trading cost) berhubungan positif dengan tingkat informasi tidak simetris.

Sebagai penjual saham, dealer harus menyimpan saham sebagai persediaannya. Risiko harga saham yang berfluktuasi dan biaya kesempatan dari modal yang tertanam di persediaan tersebut menimbulkan biaya persediaan (inventory cost atau holding cost).

Penelitian dari data tentang harga penutupan bid dan ask dikumpulkan secara acak dari 75 perusahaan NYSE dalam publikasi Francis Emory Fitch pada periode 1 Janauri sampai 31 Desember 1973 yang meliputi 251 hari perdagangan. Nilai penutupan bid dan ask ini dicocokkan kembali dengan nilai bid dan ask yang ada di CRSP Daily Stock Master Files. Tanggal pengumuman laba dan dividen diambil dari Wall Street Journal. Tiga grup sampel berdasarkan pengumuman laba dan dividen dibentuk, yaitu (a) pengumuman-pengumuman join (joint announcements), yaitu laba dan dividen diumumkan bersamaan pada hari yang sama, (b) pengumuman-pengumuman awal (initial announcements) atau pengumuman-pengumuman pertama (first announcements), yaitu pengumuman laba atau dividen yang tidak didahului oleh pengumuman lainnya selama 30 hari, dan (c) pengumuman-pengumuman berikut (following announcements) atau pengumuman-pengumuman kedua (second announcements), yaitu pengumuman yang mengikuti pengumuman pertama paling sedikit setelah 10 hari tetapi tidak lebih dari 30 hari.

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa bid-ask spread meningkat secara signifikan sebelum pengumuman-pengumuman kedua. Mereka menemukan peningkatan bid-ask spread yang sangat kecil sebelum pengumuman-pengumuman pertama dan pengumuman-pengumuman join. Hasil-hasil ini juga konsisten setelah mereka mengoreksi bid-ask spread dengan biaya memegang saham (holding cost).

Ang, Robert. (1997). Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, Edisi satu. Mediasoft, Indonesia

Asri S. M. dan Setiawan F.A. (1998). Reaksi Pasar Modal Indonesia Terhadap Peristiwa Politik Dalam Negeri, Kelola.

Brigham, E.R., dan Gapheski (2006). Intermediate Financial Management. Orlando. The Didan Press.

Freud, William, dan Pagano, Michael, S. (2000). Market Efficiency in Specialist Markets and After Automation, The Financial Review 35.

Glosten, L.R. dan Milgrom, P.R. Bid-Ask and Transaction Price in a Specialist Market with Heterogeneously Informed Traders. Journal of Finance Economics 14.

Husnan, Suad. (1996). Dasar-Dasar Teori Portofolio. Yogyakarta: UPPAMP YKPN.

J.Supranto M.A. (2004). Statistik Pasar Modal. Jakarta: Rineka Cipta.

Jogiyanto. (1998). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. BPFE: Yogyakarta.

Jogiyanto. (2005). Pasar Efesien Secara Keputusan. Gramedia: Jakarta

Machfoedz, Mas’ud. (1994). Financial Ratio Analisys and The Prediction of Earning Changes of Indonesia. Kelola Gadjah Mada University Bussines Review No.7/III/1994.

Pariwayanti, Ambar, Hastusi, dan Edi S. (2000). Penggunaan Informasi Keuangan Untuk Memprediksi Keuangan Investasi Bagi Investor di Pasar Modal. Jurnal Riset akuntansi Indonesia. Vol.3 No.2 Juli 2002.

Sartono, Agus. (1998). Manajemen Keuangan: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: BPFE.

Sunarya. (2004). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Yogyakarta: UUP. AMP YKPN.

Sutrisno, Wang, et.al. (2000). Pengaruh Stock Split terhadap Likuiditas dan Return saham di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 2 N0.2.

Venkatesh, P.C, dan R. Chiang. 1986. Information Asumetry and the Dealer’s Bid-Ask Spread: A Case Study of Earnibngs and Devidend Announcements. The Journal of Finance 41.