Bom Rakitan Teroris Yang Disita di Jatiasih Bekasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Bisa Meledak Hingga Satu Kilometer

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Penyergapan dua orang yang diduga kaki tangan Noordin M. Top di rumah kontrakan mereka di Blok D-12 RT 004/012 Perumahan Puri Nusa Phala, Jatiasih, Kota Bekasi, tidak kalah seru dengan di Temanggung, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri sebenarnya mengintai aktivitas rumah yang menjadi tempat menyimpan bom yang siap di ledakkan itu sejak Rabu 5 Agustus 2009. Mereka menyamar sebagai tukang sampah dan tukang reparasi sepatu keliling.

Namun, eksekusi baru dilakukan sekitar pukul 00.30 dini hari Jumat 8 Agustus 2009. Densus 88 berhasil membekuk orang bernama Aher Setiawan dan Eko Joko Sarjono saat akan masuk rumah yang terletak di depan Sungai Cikeas itu. Polisi sudah membuntuti sebuah mobil Daihatsu Xenia hitam bernomor polisi AD 9423 DO yang dikendarai Aher dan Eko. Saat mobil tersebut tiba di depan rumah, polisi langsung meringkus keduanya. Keduanya melawan dengan cara mengancam melemparkan bom pipa ke arah petugas. Polisi langsung menembak kedua orang itu hingga terkapar tak berdaya. Menurut Ketua RT Sundoyo, setidaknya terdengar empat tembakan yang dilepaskan polisi. Keduanya tewas seketika dan dibawa ke Rumah Sakit Kramat Jati, Jakarta.

Tidak sampai di situ. Polisi juga memeriksa intensif mobil dan rumah itu. Benar saja, di dalam mobil terdapat empat bom rakitan siap pakai. Bom tersebut sewaktu-waktu bisa meledak karena langsung dihubungkan dengan detonator. Di mobil itu pun ditemukan sebuah senjata laras panjang dengan beberapa peluru. Mengetahui ada banyak bom, sekitar pukul 01.00 polisi memerintahkan warga yang rumahnya berada di radius seratus meter dari rumah itu untuk mengungsi sementara. Pintu rumah warga digedor petugas dan diberi tahu agar segera keluar rumah. Tak ayal, warga perumahan yang tengah lelap tidur itu berhamburan keluar setelah mengetahui tentangganya membawa bom. Ada dua tempat yang dijadikan tempat mengungsi, yakni Klinik Puri Nusa Phala yang terletak dekat dengan gerbang masuk perumahan dan kantor pemasaran yang lokasinya agak menjorok ke dalam perumahan.

Setelah memastikan semua warga sudah dievakuasi, polisi mencoba memasuki rumah bertipe 45 itu. Tahu bahwa di rumah itu banyak dipasang jebakan, sebelum masuk, polisi mencoba memeriksa kalau-kalau ada ranjau bom yang dipasang di pintu. Benar saja, pintu rumah itu ternyata dipasangi bom. Jika pintu dibuka, bom meledak. Tak hilang akal, polisi pun masuk lewat jendela. Sekitar pukul 06.00, dari jarak yang dianggap aman, polisi meledakkan bom yang menempel di daun pintu itu. Bum! Di dalam rumah, polisi berhasil menemukan bahan peledak seberat 250 kilogram siap pakai dan 250 kg lainnya belum dirakit. Semuanya tertata rapi dalam kantong plastik yang diletakkan di bak plastik besar.

Polisi juga menemukan lima drum material bom, mur yang sudah tersusun rapi, dan rompi yang diduga untuk menyimpan bom bunuh diri. Selain itu, polisi menyita mobil Xenia yang dipakai pelaku dan mobil Mitsubishi pikap merah yang terparkir di depan rumah itu. Sekitar pukul 09.00, Kapolda Metro Jaya Irjen Wahyono menggelar jumpa pers 10 meter dari rumah tempat kejadian. Material bom yang ditemukan di rumah kontrakan mirip dengan pecahan bom yang ditemukan di JW Marriott dan Ritz-Carlton.

Penemuan barang bukti itu memungkinkan adanya aksi lebih besar dua minggu ke depan. Sasaran berikutnya, mungkin kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Cikeas, Gunungputeri, Kabupaten Bogor, yang letaknya hanya 5 kilometer atau sekitar 12 menit dari rumah itu. Jika bom itu meledak, dalam radius satu kilometer akan hancur berantakan. Dua hari sebelum menggerebek lokasi itu, polisi sudah terus mengintainya. Secara umum sebenarnya penyelidikan dilakukan sekitar 10 hari sebelum penggerebekan, tapi intensif dua hari terakhir. Kombespol Amri Tamil, kepala Metalogi Puslabor Mabes Polri, mengatakan, bom di setiap pintu sengaja dibuat dan jika pemicunya ditekan, bom segera meledak. Itu dilakukan untuk aparat dan warga yang mencoba paksa masuk rumah kontrakan tersebut (Jawa Pos, Bom Bekasi Diduga Untuk SBY, 9 Agustus 2009)