British American Tobacco atau BAT akuisisi PT Bentoel International Investama Tbk dari PT Rajawali Corpora

9 tahun ago kesimpulan 0

British American Tobacco atau BAT mengakuisisi 85 persen saham PT Bentoel International Investama Tbk dari PT Rajawali Corpora dan pemegang saham lain. Nilai akuisisi tersebut bernilai 494 juta dollar AS (Rp5 triliun). Adapun 15 persen saham Bentoel lainnya masih dimiliki publik. Harga per saham Rp873. Harga ini 20 persen lebih tinggi dibanding harga penutupan Bentoel pada 15 Juni, yakni Rp 730 per saham.

Hingga 31 Desember 2008, nilai utang bersih Bentoel sekitar Rp1,670 triliun. Direktur British American Tobacco untuk Asia Pasifik John Daly mengatakan BAT juga akan melakukan penawaran tender atas sisa saham Bentoel yang dimiliki publik. Proses penawaran diharapkan selesai akhir Agustus 2009.

Harga pembelian saham Bentoel yang dimiliki publik sama dengan harga akuisisi 85 persen saham Bentoel, yaitu Rp873 per saham. Dengan demikian, untuk mengambil alih seluruh saham Bentoel, BAT menyediakan dana sekitar 580 juta dollar AS (Rp5,87 triliun). Untuk mengambil alih seluruh saham Bentoel, BAT menunjuk Deutsche Bank and UBS sebagai penasihat.

Akuisisi Bentoel oleh BAT akan memberikan kontribusi besar bagi pendapatan dan laba bersih BAT. Ini karena Indonesia merupakan pasar rokok kelima terbesar di dunia, dengan penjualan sekitar 250 miliar batang per tahun. Adapun dari sisi perolehan laba, Indonesia masuk 10 besar di dunia. Pada tahun 2008, Bentoel menjual 17,7 miliar batang rokok, atau sekitar 7 persen dari pasar industri rokok di Indonesia. Bentoel merupakan perusahaan rokok terbesar keempat di Indonesia. Sedangkan British American Tobacco di Indonesia, saat ini menguasai 2 persen pangsa pasar dan hanya masuk ke pasar rokok putih.

Darjoto Setyawan, Managing Director Business Development Grup Rajawali, mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk melepas saham di Bentoel. Rajawali sebagai investment company ingin fokus pada bidang properti, perkebunan, dan pertambangan.

Alfiansyah, Analis PT Sinar Mas Securities mengatakan Bentoel yang selama ini di bawah bayang-bayang produsen rokok besar seperti Gudang Garam Sampoerna, dan Djarum, mempunyai peluang lebih untuk bisa bersaing. BAT memiliki jaringan distributor rokok cukup kuat. Ke depan, tidak mustahil produk rokok Bentorl pun bisa go international.

Poltak Hotredo, Analis Recapital Securities mengatakan bahwa Akuisis BAT kepada Bentoel menunjukkan bahwa industri rokok Indonesia telah memasuki fase sunset akibat kebijakan cukai pemerintah yang semakin tinggi. Meskupun pembelian pita cukai dibebankan kepada konsumen, perusahaan tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli pita tersebut.

Bentoel didirikan pada tahun 1930 sebagai perusahaan rokok keretek keluarga. Tahun 1960-an, Bentoel membangun pabrik rokok modern dengan memperkenalkan mesin modern untuk menghasilkan rokok sigaret mesin (SKM). Tahun 1970-1985 adalah masa kejayaan Bentoel. Tahun 1991, Rajawali diminta konsorsium kreditor Bentoel mengambil alih manajemen. Rajawali melakukan transformasi menjadikan Bentoel dari perusahaan keluarga jadi perusahaan modern. Tahun 2000, Bentoel jadi perusahaan publik.

Perjalanan Pabrik Rokok Bentoel

1930, Ong Hok Liong mendirikan industri rumahan rokok Smootjes Febriek Ong Hok Liong, cikal bakal pabrik rokok kretek Bentoel.

1955, Berubah nama menjadi PT Perusahaan Rokok tjap Bentoel, kemudian manjadi PT Bentoel Prima yang terkenal dengan produk Bentoel Biru.

1960, Produsen rokok pertama yang memproduksi sigaret kretek mesin di Indonesia.

1970, tumbuh pesat menjadi salah satu pelaku utama industri rokok di Indonesia.

1980, Deberi hak eksklusif memproduksi rokok dengan merek Marlboro dan menjadi distributor tunggal semua produk Philip Morris Indonesia.

11 April 1987, PT Bentoel International Investama didirikan di depan notaris di Jakarta.

1991, Kelompok rajawali diminta pemegang saham saat ini mengambil alih manajemen setelah Bentoel mengalami serangkaian masalah keuangan.

1997, Manajemen baru berhasil merestrukturisasi utang dengan cara mengalihkan seluruh aktiva dan pasiva kepada PT Bentoel Prima. Saat itu hampir seluruh saham dimiliki oleh perseroan (Bentoel Prima).

1998, Pemberian hak eksklusif memproduksi rokok merek Marlboro berakhir.

11 Februari 2000, PT Transindo Multi Prima Tbk Jakarta, sebelumnya bernama PT Rimba Niaga Idola mengakuisisi 75 persen saham PT Bentoel Prima dan PT Lestariputra. Trasindo berubah nama menjadi PT Bentoel International Investama.

2000, PT Bentoel International masuk lantai bursa

2005, Kerjasama sebagai distributor Philip Morris berakhir.

29 Februari 2008, PT Rajawali Corporation menguasai 41,73 persen saham di PT Bentoel International Investama Tbk.

17 Juni 2009, British American Tobacco Plc (BAT) mengakuisis 85 persen saham PT Bentoel International seniali UUS$494 juta.

Pemegang Saham Sebelum Diakuisisi Oleh British American Tobacco Plc (BAT)

Per 31 Maret 2008
PT Rajawali Corporation = 41,73%
Eagle High Consumer Products Pte Ltd = 14,48%
Cibibank NA = 9,55%
Publik = 34,13%

Per 31 Maret 2009
Bella Saphire Ventures Limited = 41,73%
Eagle High Consumer Products Pte Ltd = 14,48%
Cibibank NA = 9,55%
Publik = 34,13%

Penjualan Bersih

2006 = 2.996,51 miliar
2007 = 4.586,01 miliar
2008 = 5.940,80 miliar

Laba Bersih

2006 = 145,51 miliar
2007 = 242,92 miliar
2008 = 239,14 miliar

Sumber:

Koran Tempo, ”BAT Ambil Alih Bentoel”, Kamis 18 Juni 2009.
Kompas, ”BAT Akuisisi Bentoel”, Kamis 18 Juni 2009.