Ciputra Entrepreneur Center (UCEC): Harus Ada Revolusi Entrepreneur Untuk Bawa Indonesia Keluar dari Krisis

8 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pagi itu pukul 09.00 di Hotel Bumi Karsa Bidakara, Jakarta, Dr Ir Ciputra dan Antonius Tanan, direktur Universitas Ciputra Entrepreneur Center (UCEC), sudah di Ruang Bima Lantai 2. Namun, peserta diskusi yang diadakan Badan Perencana Pembangunan Nasional (Bappenas) awal bulan Agustus 2009 itu belum datang. Tetapi Pak Ci, panggilan akrab Ciputra, tidak kecewa. Tidak menunjukkan nada-nada putus asa. Apalagi berencana mogok bicara. Tidak juga mempertontonkan kegelisahan dari sikap dan wajahnya.

Seolah dia sudah mengerti betul, ya beginilah jika menghadiri undangan pegawai negeri. Peserta rapat yang rata-rata pejabat lintas departemen itu sudah bisa dipastikan molor. Sambil menunggu, Ciputra sempatkan memprovokasi pejabat-pejabat Bapenas yang sudah hadir. Bahwa, entrepreneurship adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan bagi Indonesia untuk keluar dari crisis, escape dari kemelaratan, kemiskinan, keterbelakangan, dan ketiadaan peluang kerja.

Pak Ci yang pagi itu terlihat sangat fit, memiliki kecepatan logika berpikirnya sangat tinggi dibandingkan dengan gerak mulut dan suaranya. Logika dan pikirannya berkecepatan 100 km per jam, mulut dan suaranya hanya 75 km per jam. Akibatnya sering terpeleset dan sering di-seret kalimat-kalimatnya. Saat presentasi soal up date perkembangan wirausaha di dunia, Ciputra mempersilakan Antonius membantunya. Lalu Ciputra menegaskan dan mencontohkan hal-hal riil yang terjadi di Indonesia.

Antonius menjelaskan soal hasil riset Gallup tahun 1997, bahwa 7 dari 10 pelajar SMA di AS itu memilih menjadi entrepreneur dan memulai bisnisnya, daripada menjadi karyawan atau pegawai. Ciputra pun langsung menyahut dan membandingkan apa yang terjadi di Padang, Sumatera Barat. Kota Minang yang dikenal perantau dan sukses membuat rumah makan padang di mana-mana. Sukses berentrepreneur, sukses menciptakan peluang kerja dan bisa survive di hampir seluruh penjuru negeri. Namun, sekarang semua sudah berubah. Anak-anak muda Padang sekarang bermimpi menjadi pegawai negeri, daripada menjadi perantau dan membuka rurnah makan Padang. Angka statistiknya persis dengan di AS namun kebalikannya, 7 dari 10 anak Padang ingin jadi PNS. Hanya 3 yang masih ingin berwirausaha.

Ada paradigma yang keliru. Selama ini, hampir semua orang berasumsi, bahwa persoalan utama pengembangan usaha kecil adalah ketersediaan modal. Karena itu di mana-mana, orang bicara modal dan ketersediaan Kredit Usaha Kecil (KUK), termasuk distribusinya seluas mungkin. Celakanya, pandangan ini juga terjadi di kalangan pemerintah dan masyarakat luas. Padahal, masalah pengembangan usaha kecil bukan cuma persoalan modal. Dengan ilmu entrepreneur, modal itu selalu bisa diatasi. Entrepreneur adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari dan harus dipelajari sebelum memulainya. Jadi, Pendidikan dan pelatihan entrepreneurship adalah kunci utamanya. Selanjutnya, baru pembangunan Eco-system dan budaya serta implementasi lapangan, seperti ketersediaan KUK itu.

Ciputra mengatakan, ada fakta yang ini harus menjadi bahan kajian Bappenas. Kredit macet Unit Usaha Kecil Menengah (UMKM), yang bernilai di bawah Rp.5 M mencapai Rp.17,9 Triliun. Itu melibatkan sekitar 1,04 juta usaha kecil. Mengapa? Mereka belum diajari entrepreneur sudah dikucurkan modal usaha. Tak perlu cari siapa yang salah, karena itu sudah terjadi. Ke depan sebaiknya seperti apa. Pemerintah harus belajar dari kegagalan. Dulu pola anak angkat bapak angkat, juga sama. Gagal. Lalu sekarang dikembangkan dengan UMKM, kalau mau jujur, sebenarnya juga menuju ke kegagalan.

Yang paling benar adalah, dididik dulu ilmu entrepreneur sejak TK, SD, SMP, SMA, sampai Universitas. Siapkan 1 persen dari APBN, dari Rp.1.000 Triliun, alokasikan untuk Training of Trainers (TOT). Jadi setahun punya Rp.10 triliun untuk program pelatihan. Diisi dulu dengan ilmu entrepreneur, jangan belum paham ilmunya sudah digelontor modal usaha. Ciputra mengibaratkan, seorang belum mengenakan kaus sudah dipasangi sepatu bola dan main 2×45 menit. Ya, pasti lecet-lecet semua. Pendidikan pun harus benar, tidak bisa hanya sekedar pelatihan 3-7 hari atau seminggu, atau sebulan, terus diterjunkan dalam bisnis yang sangat keras. Pasti mereka akan kalah bersaing dan gulung tikar. Pendidikan yang betul, harus melalui proses yang benar.

Ilmu entrepreneur tidak hanya sekedar diberi kuliah pagi sore. Tetapi harus diimbangi dengan praktik. Mereka juga harus diajar oleh orang-orang yang sudah punya pengalaman berbisnis. Dikombinasi antara teori dan praktik. Seperti anak belajar berenang. Dia harus memahami teori, garis-garis besamya, lalu harus ikut “basah” menceburkan diri di kolam. Tidak cukup diberi teori, terus suruh loncat di kolam sendiri , pasti akan tenggelam. Sama juga dengan belajar sepeda roda dua. Lebih banyak harus dipraktikkan daripada teori-teori. Jadi pelatihan itu tujuannya to be entrepreneur. Bukan sekedar to know entrepreneurship. Ini ilmu, jadi harus pula dipelajari seperti halnya sebuah ilmu di bangku kuliah, bisa 3-4 tahun lamanya.

Sudah tiga tahun Ciputra aktif mengampanyekan entrepreneur. Jika sebelumnya Indonesia berada di Abad Kebangkitan Bangsa, dengan Revolusi I bidang politik, maka saat ini ada Revolusi Entrepreneur. Sekarang inilah saatnya Indonesia bangkit dengan entrepreneur. Mengapa RRC cepat bangkit dari krisis? Sekitar 200 tahun atau dua abad silam, RRC itu sudah menguasai 34 persen dari GNP dunia. Di Indonesia, 200 tahun yang lalu, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda, dan 50 persen pemuda-pemuda hebatnya tewas dibunuh Belanda. Setelah itu, Belanda menjajah negeri ini dengan eksploitasi sumber daya alam, dan memangkas akses-akses menuju pemuda-pemuda pintar.

Selama tujuh generasi bangsa ini dibodoh-bodohi, tidak dipintarkan, tidak diberi kesempatan dan hak untuk merdeka. Ini sangat mempengaruhi mental, logika berpikir orang Indonesia. Kemandirian bangsa hilang. Mengapa orang Tionghoa maju dan entrepreneur semua? Karena mereka adalah bangsa yang tidak pernah dijajah seperti Indonesia. Mereka tidak merasakan tekanan untuk belajar dan melakukan apa saja buat bangsanya. ltulah pangkal mula, mengapa anak-anak muda Indoneisia lebih memilih menjadi PNS ketimbang menjadi pengusaha. Bangsa China, menjadi pegawai itu dianggap hina. Karena itu akan hidup miskin seumur hidup. Kalau ditanya bekerja di mana? Karena itu, hampir tidak ada orang Tionghoa menjadi PNS (Jawa Pos, Entrepreneurship Pemuda Minang dan Amerika, Selasa 1 September 2009)