Disertasi Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono Judul Terorisme dalam Kajian Filsafat Analitika Predikat Cum Laude

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Terorisme menggurita, terus tumbuh tapi, sumbernya tidak bisa dilacak
+ Terorisme sebagai fenomena sosial sulit dimengerti, bahkan oleh sang teroris sendiri
+ Taktik dan teknik teroris terus berkembang seiring kemajuan sains
+ Teroris menggunakan kaidah agama sebagai alat justifikasi yang cenderung destruktif
+ Saat ini ada sekitar 240 mantan teroris di Indonesia

(kesimpulan) Saat polisi sibuk memburu para tersangka pelaku teror bom Jakarta, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono pada Sabtu 25 Juli 2009 di kampus UGM memaparkan hasil penelitian tentang teroris. Tampil di hadapan para promotor dan penguji dengan jas dan dasi, purnawirawan jenderal bintang empat tersebut berhasil mempertahankan disertasi dengan sangat memuaskan. Penelitian berjudul “Terorisme dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional” mengantarkan laki-laki kelahiran Jogja, 64 tahun, itu meraih doktor filsafat dengan predikat cum laude.

Hendro pada saat memberikan pidato penganugerahan gelar doktor di gedung Pascasarjana UGM, mengatakan, bahwa terorisme adalah salah satu hal yang paling menggelisahkan dan berpengaruh kepada ketahanan nasional Indonesia. Aksi itu menggurita, terus tumbuh. Tapi, sumbernya tidak bisa dilacak. Juga tidak mudah menemukan solusinya. Yang berada di Indonesia hanya kaki tangan, sementara dalang utamanya tidak berada di Indonesia. Ini yang membuat permasalahan terorisme menjadi kompleks.

Beberapa kolega dan undangan yang hadir di acara pengukuhan Hendro pada hari itu adalah mantan Gubemur DKI Sutiyoso, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, Ketua DPD Ginandjar Kasasasmita, ekonom Prof Dr Sri Edi Swasono, politikus dari Partai Gerindra Permadi, Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta, mantan ketua DPR Ir Akbar Tandjung, dan mantan tokoh Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas. Selama lebih dari tiga tahun mempelajari terorisme dari segi keilmuan, Hendro yang juga mantan Danjen Kopassus berpendapat bahwa terorisme tidak punya definisi yang pasti. Tanpa definisi jelas, sulit mencari solusi yang tepat untuk memeranginya.

Dalam disertasi setebal 400 halaman tersebut, Hendro mengungkapkan bahwa terorisme sebagai fenomena sosial sulit dimengerti. Bahkan oleh sang teroris sendiri. Hendro melakukan kajian dan filsafat bahasa. Pemikiran tentang aksi seorang teroris yang disimpulkan dari perkataannya. Terorisme menjadi sulit dimengerti karena efeknya bisa luar biasa besar. Meski, itu dijalankan orang yang tidak memiliki latar belakang keilmuan tinggi. Tanpa pendidikan yang memadai sekalipun, seseorang bisa melakukan aksi terorisme yang menggetarkan dunia dan berimplikasi sangat luas.

Bukan hanya itu. Teknik, taktik, dan strategi terorisme terus berkembang sangat cepat dari waktu ke waktu. Taktik dan teknik teroris terus berkembang seiring kemajuan sains. Sementara, strateginya berkembang seiring dengan keyakinan ontologis atas ideologi atau filsafat. Teroris, juga biasa menggunakan agama sebagai alat justifikasi (pembenaran) terhadap segala aksinya yang cenderung destruktif. Manipulasi kebenaran sering menggunakan kaidah agama sebagai sumbernya.

Berkaitan dengan ketahanan nasional. Hendro mengatakan bahwa bangsa Indonesia sebenarnya sudah punya tameng untuk mencegah terorisme yaitu Pancasila. Kajian terhadap terorisme dan ketahanan nasional diharapkan bisa menjadi upaya revitalisasi filsafat Pancasila. Pancasila bisa menjadi alat untuk melawan dan mempertahankan diri dari segala ancaman atau hambatan. Saat ini ada sekitar 240 mantan teroris di Indonesia. Saat ditanya tentang pelaku bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Jakarta, Hendro yakin adalah kelompok Noordin M. Top. Bukan jaringan baru.

Prof Dr Kaelan yang bertindak sebagai promotor menyebut Hendro sebagai mahasiswa S-3 yang haus ilmu. Ada kejadian unik yang mengikuti pria bernama lengkap Abdullah Mahmud Hendropriyono itu saat studi S-3 di UGM. Menurut Kaelan, saat pertama mengerjakan penelitian, Hendro disambut dengan bom Bali II. Lalu, saat mau lulus, dia disambut bom JW Marriott II. Dengan gelar doktor, diharapkan Hendro bisa menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Terutama kemampuan analisis intelijen bagi negara (Jawa Pos, Hendro:240 Mantan Napi Teroris Tak Tersentuh, Minggu 26 Juli 2009)