Disleksia (dyslexia) Bervariasi Pada Berbagai Bahasa

9 tahun ago kesimpulan 0

(KeSimpulan) Anak-anak yang berbahasa china dengan disleksia (dyslexia) memiliki kelainan yang jelas berbeda dan mungkin lebih rumit dan berat, daripada berbahasa Indonesia atau Inggris. Perbedaan itu dapat dilihat di otak dan kinerja anak-anak Demikian laporan penelitian yang diterbitkan pada tanggal 12 Oktober oleh Current Biology.

Wai Ting Siok dari University of Hong Kong mengatakan bahwa disleksia dalam bahasa Inggris terdiri dari “gangguan fonologi,” yang berarti bahwa orang-orang dengan kondisi mengalami kesulitan mendeteksi atau memanipulasi struktur bunyi bahasa lisan, yang pada gilirannya menyebabkan masalah dalam bunyi ujaran. Sebaliknya, temuan baru menunjukkan bahwa disleksia yang berkembang di Cina benar-benar ada dua kelainan yaitu visuospatial deficit dan phonological disorder combined.

Siok dan koleganya Li Hai Tan mengatakan perbedaan dapat dilacak dengan karakteristik dari dua bahasa. “Dalam bahasa Inggris, huruf-huruf abjad yang membentuk kata-kata yang diucapkan visual, sehingga akses ke pengucapan kata Inggris dimungkinkan dengan menggunakan suara pengaturan konversi,” kata Siok.

“Penulisan map grafik China yaitu, karakter ke makna, huruf China memiliki sejumlah tekanan rumit dikemas menjadi konfigurasi persegi, dan pengucapan mereka harus dihafalkan di luar kepala. Karakteristik ini mengisyaratkan bahwa secara halus visuospatial harus dilakukan analisis oleh sistem visual untuk mengaktifkan karakter fonologis dan semantik informasi. Oleh karena itu, pengolahan fonologis tertata dan umumnya hidup berdampingan dengan pengolahan yang tidak normal dalam visuospatial disleksia dalam bahasa China.”

Para peneliti bertanya kepada anak-anak China normal dan penderita disleksia untuk menilai tingkat rangsangan visual fisik dan menemukan bahwa pembaca normal secara signifikan melakukannya lebih baik daripada yang menderita disleksia. Scan otak menunjukkan aktivitas dyslexics di dalam bagian otak yang dikenal untuk menengahi pengolahan visuospatial. Siok mengatakan kebanyakan orang China dengan dyslexics pada masalah visuospatial juga menunjukkan sebuah gangguan fonologi, seperti yang ditunjukkan oleh kinerja yang buruk dalam sebuah fonologi.

“Penelitian kami untuk pertama kalinya menunjukkan eksistensi visuospatial dan gangguan fonologi pada penderita disleksia. Sebuah tantangan untuk saat ini mengenai perkembangan teori untuk menjelaskan disleksia,” kata Tan. “Perlunya suatu teori kesatuan ruang lingkup yang cukup untuk mengakomodasi kompleksitas pada disfungsi yang diamati dan interaksi dari sistem otak yang mendasari gangguan membaca.”

Para peneliti termasuk Wai Ting Siok, Li Hai Tan dan John A. Spinks dari University of Hong Kong China serta Zhen Jin dari Beijing Hospital China (sciencedaily)

Iklan