Dukungan Emosional Keluarga dan Kecemasan Istri

9 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan) Di dalam kehidupan setiap orang pasti pernah berhadapan dengan kecemasan karena kecemasan merupakan fenomena yang normal. Selain itu kecemasan merupakan suatu reaksi alami yang berfungsi meperingatkan individu terhadap sesuatu yang mungkin mengancam dan perlu ditangani.

Menurut Lazarus, kecemasan merupakan perasaan samar-samar atau tidak jelas yang bersumber dari ketakutan individu terhadap sesuatu yang terjadi. Suatu pengertian yang menunjuk kepada efek dari apa yang dipersepsi oleh seseorang dimana persepsi tersebut menimbulkan rasa takut mengenai suatu hal.

Hall menjelaskan mengenai kecemasan sebagai perasaan takut yang sedang dialami oleh seseorang akibat dari situasi konflik sehingga sukar berfikir untuk menyelesaikan masalah. Konsep yang menunjuk kepada sudut pandang secara kognitif yaitu pikiran-pikiran yang tentu saja cenderung untuk bersikap yang negatif.

Gibson memberi pengertian bahwa kecemasan merupakan suatu tekanan, artinya seseorang dapat memberikan reaksi yang berbeda dalam suatu situasi tertentu tergantung bagaimana cara masing-masing individu di dalam menanggapi dan menghadapi suatu keadaan yang tidak menyenangkan karena setiap individu mempunyai harapan dan keyakinan.

Kata kecemasan dibedakan dengan ketakutan, karena ketakutan merupakan respon terhadap hal-hal yang bersifat riil atau nyata sedangkan kecemasan merupakan respon terhadap hal-hal yang belum pasti atau tidak riil, hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Priest.

Daradjat menunjukan kecemasan sebagai manifestasi dari berbagai proses emosi yang bercampur baur dan terjadi ketika orang sedang mengalami tekanan perasaan (frustasi) dan pertentangan batin (konflik).

Atkinson menjelaskan bahwa kecemasan melukiskan kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan, dari rasa tidak tenteram yang dihubungkan dengan ancaman bahaya baik dari dalam maupun dari luar individu.

Kemudian Thallis secara lebih mendalam menjelaskan tentang hubungan kecemasan dengan cakupan kognitif, bahwa kecemasan adalah ketidakmampuan seseorang mengendalikan pikiran buruk yang berulang-ulang dan kecenderungan berpikir bahwa keadaan semakin buruk.

Hambly menunjuk kecemasan kepada kompleksitas suatu kondisi dan situasi yang rumit menjadi reaksi individu yang berbeda-beda tentang kondisi dan situasi tersebut.

Kecemasan sulit diketahui, tetapi hanya dapat diamati melalui reaksi-reaksi yang ditimbulkannya baik yang bersifat fisiologik maupun psikologik. Gejala fisiologik yaitu ujung – ujung jari terasa dingin, pencernaan tidak teratur, jantung berdebar cepat, keringat bercucuran, tidur tidak nyenyak, nafsu makan berkurang, kepala pusing dan nafas sesak, kurang bisa memusatkan perhatian. Sedangkan gejala psikologik yaitu keadaan takut, merasa akan tertimpa bahaya, kurang dapat berkonsentrasi, tidak berdaya atau hilangnya kepercayaan diri, tidak tentram dan ingin lari dari kenyataan hidup.

Thallis kemudian menjelaskan kecemasan pada dua ciri penting yaitu ketidakmampuan mengendalikan pikiran buruk yang berulang-ulang dan kecenderungan berpikir bahwa keadaan akan menjadi semakin buruk.

Gejala-gejala kecemasan dapat digolongkan menjadi 2 bagian yaitu: 1) Gejala fisiologis yang diantaranya ditandai dengan otot tegang, jantung berdebar, sesak nafas, keluar keringat dingin, gangguan pencernaan (sakit perut/diare ringan tapi kronis ), sering buang air kecil, pingsan, badan terasa dingin, sudah tidur, dan hilangnya nafsu makan. 2) Gejala Psikologis yang ditandai dengan adanya ketidakmampuan mengendalikan pemikiran buruk yang berulang-ulang, terlalu peka (mudah tersinggung), hilang rasa percaya diri, serba salah, rasa was-was, rasa takut, sulit konsentrasi, tidak tenang dan merasa tegang, insomnia, mimpi buruk.

Faktor pribadi tergolong di dalamnya adalah kondisi yang ada dalam diri individu, diantaranya tingkat pendidikan, usia dan jenis kelamin juga mempengaruhi reaksi seseorang terhadap tekanan. Faktor yang mempengaruhi kecemasan antara lain frustasi, konflik, ancaman, harga diri, lingkungan yang berupa dukungan sosial, lingkungan (pendidikan, usia dan jenis kelamin). Berita negatif menyangkut situasi tempat yang akan dijalani akan membuat orang merasa cemas dengan situasi itu. Perubahan yang akan terjadi pada individu terhadap situasi yang belum jelas membuat individu merasa tidak nyaman dengan kondisi yang dihadapinya.

Pendapat lain menyatakan faktor – faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah: 1) Faktor Individu, adanya rasa kurang percaya diri pada individu, masa depan tanpa tujuan dan adanya perasaan ketidakmampuan bekerja. 2) Faktor Lingkungan, hubungan individu dengan orang lain. Perasaan cemas muncul karena individu merasa tidak dicintai orang lain, tidak memiliki kasih sayang, tidak memiliki dukungan dan motivasi, jauh dengan orang yang paling dekat.

Sigmund Freud mengemukakan bahwa ada lima macam sumber kecemasan, yaitu: 1) Frustasi (tekanan perasaan), rintangan terhadap aktivitas yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Frustasi adalah suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhannya, atau menyangka bahwa akan terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya. 2) Konflik, adanya dua kebutuhan atau lebih yang berlawanan dan harus dipenuhi dalam waktu yang sama. Konflik adalah terdapatnya dua macam dorongan atau lebih, yang bertentangan satu sama lain, dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang sama. 3) Ancaman, adanya bahaya yang harus diperhatikan. Ancaman merupakan peringatan yang harus diperhatikan dan diatasi agar tidak terlaksana. Keadaan lingkungan yang mengancam atau membahayakan keberadaan, kesejahteraan dan kenyamanan diri seseorang serta kurangnya stimulus pada suatu masyarakat akan menimbulkan perasaan kesepian, kesendirian, dan kecemasan. 4) Harga Diri, suatu penilaian yang dibuat oleh individu tentang dirinya sendiri dan dipengaruhi oleh interaksinya dengan lingkungannya. Harga diri bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir tetapi merupakan faktor yang dipelajari dan terbentuk berdasarkan pengalaman yang dimiliki oleh individu-individu yang kurang mempunyai harga diri akan menganggap bahwa dirinya tidak cakap atau cenderung kurang percaya pada kemampuan dirinya dalam menghadapi lingkungan secara efektif dan akhirnya akan mengalami berbagai kegagalan. 5) Lingkungan, faktor yang dapat mempengaruhi kecemasan adalah lingkungan di sekitar individu. Adanya dukungan dari lingkungan dapat membuat individu berkurang kecemasannya, lingkungan yang dimaksud di atas dapat berupa dukungan sosial. Dukungan sosial yang positif berhubungan dengan hilangnya kecemasan, depresi, rasa jengkel, dan gejala-gejala jasmaniah pada orang-orang yang sedang stres.

Dukungan sosial merupakan umpan balik bagi individu yang dapat mempengaruhi perilaku, pikiran mau pun emosional yang negatif dari individu tersebut. Dukungan sosial merupakan bagian dari lingkungan yaitu dukungan yang diperoleh seseorang dari lingkungan sekitar. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah dukungan yang didapat dari keakraban sosial (teman, keluarga, anak ataupun orang lain) berupa pemberian informasi, nasehat verbal atau non verbal, bantuan nyata atau tidak nyata, tindakan yang mempunyai manfaat sosial dan efek perilaku bagi penerima yang akan melindungi diri dari perilaku negatif dan stres.

Kaitan kecemasan dalam hubungan sosial, bahwa dalam keadaan tertekan individu berusaha mencoba memecahkan masalahnya dengan bantuan dari teman dan keluarga. Selain itu ada dukungan dari teman-teman dan keluarga dapat menenteramkan perasaan individu sehingga merasa berharga dan dikasihi orang lain.

Salah satu sumber dukungan sosial adalah keluarga yang mana merupakan tempat pertumbuhan dan perkembangan individu. Kebutuhan fisik dan psikologis mula-mula terpenuhi dari lingkungan keluarga termasuk kelompok terdekat dengan individu.

Dukungan emosional merupakan salah satu bagian dari dukungan sosial. Dukungan emosional terdiri dari informasi atau nasehat verbal dan non verbal, bantuan nyata atau tindakan yang diberikan oleh keakraban sosial atau didapat kerena kehadiran dan mempunyai manfaat emosional atau efek perilaku yang diperoleh individu ini. Status dukungan emosional mengacu pada kesenangan yang dirasakan, penghargaan akan kepedulian atau membantu orang menerima dari orang-orang atau kelompok-kelompok lain. Perkawinan dan keluarga merupakan sumber dukungan yang paling penting. Dukungan sosial adalah salah satu di antara fungsi pertalian (ikatan) sosial.

Dukungan emosional sebagai dukungan yang diperoleh atau didapatkan dari anggota keluarga. Anak sangat berperan dalam kehidupan emosional keluarga, figur ayah, figur ibu, dan figur anak saling terkait dan menjadi saling mengisi satu sama lain. Pengalaman afektif yang dialami oleh salah satu anggota keluarga memiliki pengaruh terhadap anggota lain sehingga dukungan secara emosional sangat dibutuhkan dan sudah menjadi efek yang alami dalam simbiosa-mutualisme keluarga.

Dukungan emosional keluarga mempunyai pengaruh yang kuat dalam permasalahan yang dihadapi oleh istri dalam hal ini ibu rumah tangga yang sedang mengalami kecemasan atau frustasi karena harus berpisah dengan suami. Empat aspek dukungan emosional adalah empati, simpati, kepedulian, dan perhatian.

Dukungan emosional dalam keluarga mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kepercayaan diri individu dalam mengatasi kecemasannya itu. Dukungan emosional anak yang diberikan kepada seorang istri akan mempengaruhi cara seorang istri dalam menghadapi stres dan kecemasan. Semakin tinggi dukungan emosional anak semakin rendah tingkat kecemasan istri begitu juga, sebaliknya semakin rendah dukungan emosional anak semakin tinggi tingkat kecemasan istri.

Posisi keluarga menjadi sangat penting dalam situasi tersebut, karena keluarga merupakan orang yang paling dekat dengan sosok ibu. Konsep yang terjadi dari efek saling ketergantungan dalam hubungan antara keluarga dengan ibu dalam kaitanya dengan konsep maternal dan identifikasi yang terjadi secara altrusme melalui proses emosional yang dimuati unsur empati dan intuitif. Empati yang intuitif adalah suatu hubungan secara emosional seperti menjadi satu kesatuan yang saling bergantung satu sama lain, saling melibat, dan saling mempengaruhi. Dengan kata lain, antara ibu dan anggota keluarga lain terdapat proses simbiosa-mutualisme (hidup bersama, yang timbal-balik). Hubungan antara anak dengan ibunya menjadi lebih bermanfaat secara lebih bijaksana apabila hubungan tersebut yang bermula dari unsur afektif-intuitif berintegrasi dengan unsur intelektualnya (unsur perasaan dengan unsur akal budi).

Pada saat seorang individu mempunyai seorang teman dan dukungan dari orang-orang terdekat maka keyakinan akan kemampuan mengatasi kecemasan dan stres yang merugikan akan meningkat. Kecemasan merupakan dari bagian hidup yang tidak mungkin ditiadakan, setiap individu pasti pernah merasakan kecemasan di dalam hidupnya sehingga tidak satupun orang yang tidak pernah mengalami rasa cemas. Titik temu dari dukungan emosional keluarga terhadap kecemasan ibu terletak pada sejauh mana anggota keluarga yang lain tersebut melakukan empati dan simpati terhadap kecemasan yang dialami oleh ibu tersebut.

Ancok, D. (1987), Teknik Penyusunan Skala Psikologi. Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Badudu, J. S dan Zain, M. (1994). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Crow, C. dan Crow, A. (1989). Psychologi Pendidikan. Yogyakarta: Nur Cahaya.

Daradjad, S. (1990). Kesehaian Mental. Jakarta: Haji Masagung.

De Clerq, L. (1994), Tingkah l.aku Abnormal. Jakarta: Haji Mas Agung.

Effendi, RW., Tjahjono, E. (1999). Hubungan Antara Perilaku Ucapan Coping dan Dukungan Sosial dengan Kecemasan pada Ibu Hamil Anak Perlama: Anima. Surabaya : Fakultas Psikologi Ubaya Volume 14. No. 54 (214 –227)

Farhati, F dan Rosyid, H.F. (1996), Karakteristik Pekerjaan, Dukungan Sosial dan Tingkat Burn – Out pada Non Human Service Corporation, Jurnal Psikologi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM. Th. XXX/No. 1.

Ganster, D. Fusilier, M.R. and Mayer, B.T. (1991). Role of Social Support in The Experience of Stress at Work. Journal Applied Psychology. Washington: American Psychological Association. Vol 71. 102 – 110.

Gibson, J. (1985). Diagnosa Gejala Klinis. Alih Bahasa: Rossi Sanusi, Edisi ke -I. Yogyakarta : Yayasan Ekstentia Medica.

Gottlieb, B.H. (1983). Social Support Strategis Guardedness for Mental Health Practice. New York : Sage Publication

Hall, C. dan Gardener, L. (1981). Theorities of Personality. 3rd . Singapura: A.Billey Trans Edition.

Hambly, K. (1995), Psikologi Populer: Bagaimana Meningkatkan Rasa Percaya Diri. Alih Bahasa; E. Diah Marsidi, Jakarta: Arcan.

Hartanti dan Dwijayanti, J. E. (1997), Hubungan Antara Komsep Diri dan Kecemasan Menghadapi Masa Depan Dengan Penyesuaian Sosial. Anima Vol. XII no.46 hal. 145 – 155

Hurlock, E.B. (1979). An Introduction to Theories of Learning. New Jersey: Prentise Hall Inc.

Kerlinger, Fred N. (1993), Asas-Asas Penelitian Behavioral. Alih Bahasa: Landung Simatupang, Edisi ke – III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Kartono, K. (1992). Psikologi Wanita. Bandung: Mandar Maju

Priest, R. (1987). Kecemasan dan Persepsi. Semarang: Dahara Prize,

Sarwono, S.W. (1992). Psikologi Lingkungan. Jakarta: PT. Grasindo.

Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT. Grasindo.

Sudjana. (1991). Teknik Analisis Regresi dan Korelasi: Bagi Para Peneliti. Bandung: Tarsito.

Supratiknya. (1995). Komunikasi Antar Pribadi: Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kanisius.

Suryabrata, S. (1993 ). Psikologi Kepribadian. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Suryobroto, S. (1993). Pembimbing Ke Psikodiagnostik Edisi II. Yogyakarta: Rake Sarisin.

Taylor, S-E. (1991). Health Psychology (2nd .ed). New York: McGrow Hill inc.

Thalis, F. (1992). Mengatasi Rasa Cemas (Penerjemah: Meitasari Tjandrasa) Jakarta: Penerbit Arcan.

Iklan