Efektivitas Terapi Permainan Sosiodrama Untuk Mengembangkan Ketrampilan Emosional Pada Anak Retardasi Mental Ringan

9 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan) Retardasi atau Mental Retardation (MR) adalah suatu gangguan heterogen yang terdiri dari fungsi intelektual yang di bawah rata-rata dan gangguan dalam ketrampilan adaptif yang ditemukan sebelum orang berusia 18 tahun. Gangguan dipengaruhi oleh faktor genetik, lingkungan dan psikososial. Pada DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat), MR sebagai suatu kondisi di mana fungsi intelektual keseluruhan secara bermakna di bawah rata-rata menyebabkan atau berhubungan dengan gangguan pada perilaku adaptif dan bermanifestasi selama periode perkembangan yaitu sebelum usia 18 tahun. MR ringan memiliki tingkat IQ 50-55 sampai kira-kira 70 dengan karakteristik perkembangan dapat mengembangkan ketrampilan sosial dan komunikasi (usia pra sekolah 0-5 tahun), dapat belajar ketrampilan akademik sampai kira-kira kelas enam pada usia remaja dan dapat dibimbing untuk menyesuaikan diri dengan sosial (usia sekolah 6-20 tahun).

Mengembangkan ketrampilan sosial dan komunikasi, dibutuhkan landasan kuat yaitu ketrampilan emosional yang baik. Emosi dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dan sosial anak. Selain merupakan suatu bentuk komunikasi, emosi juga sangat mempengaruhi interaksi sosial. Melalui perubahan mimik wajah dan fisik yang menyertai emosi, anak-anak dapat mengkomunikasikan perasaan kepada orang lain dan mengenal berbagai jenis perasaan orang lain. Semua emosi, baik menyenangkan maupun tidak menyenangkan, dapat mendorong interaksi sosial. Melalui emosi anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Perkembangan ketrampilan emosional dipengaruhi oleh peran pematangan taraf intelektual dan peran belajar.

Ketrampilan emosional yang sesuai pada setiap tahap perkembangan individu, dapat membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan sosial, bahasa, ketrampilan motorik dan kesadaran akan diri. Ketrampilan emosional tersebut terdiri dari enam tonggak penting, yaitu; regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar; keakraban; komunikasi dua arah; komunikasi kompleks; gagasan emosional; dan berpikir emosional. Pada anak tanpa kebutuhan khusus, seringkali dapat menguasai ketrampilan-ketrampilan emosional tersebut dengan relatif mudah. Anak dengan kebutuhan khusus seringkali tidak bisa demikian. Karena masalah biologis, menyebabkan penguasaan ketrampilan tersebut menjadi lebih sulit. Demikian halnya yang terjadi pada anak dengan MR ringan, penguasaan ketrampilan emosional nampaknya belum dapat berkembang optimal sesuai dengan usia mentalnya. Oleh karena itu membutuhkan bantuan terapis dan orang tua serta seringkali membutuhkan waktu lebih untuk menguasainya.

Teori Maslow, anak dengan MR pun memiliki kebutuhan emosional, sosial dan fisiologis yang sama dengan anak lain. Untuk mengoptimalkan perkembangan ketrampilan emosional pada anak MR ringan, dapat digunakan dengan metoda terapi bermain. Bermain sebagai bagian integral dari masa anak-anak, suatu media unik sebagai sarana mengembangkan ketrampilan bahasa ekspresif, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosional, ketrampilan sosial, kemampuan membuat keputusan dan perkembangan kognisi pada anak. Singkatnya bermain adalah bentuk yang paling kompleks dari perkembangan ekspresi diri pada individu.

Permainan sosiodrama sebagai suatu teknik untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan bermain peran. Individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu situasi masalah sosial. Dalam permainan sosiodrama, individu akan bereaksi satu sama lain, dan juga berinteraksi satu sama lain dalam bentuk permainan sosial. Bentuk permainan ini menggabungkan semua unsur permainan drama ditambah bermain pura-pura yang mengungkapkan perasaan dan berinteraksi secara verbal antara dua anak atau lebih. Anak-anak membutuhkan anak lain agar dapat meniru perbuatan, reaksi, dan menghasilkan dunia seperti yang mereka lihat. Melalui permainan interaktif ini, dapat mempraktikkan ketrampilan bahasa, mengekspresikan emosi, dan memecahkan interpretasi mereka sendiri dari dunia sosial mereka.

Emosi sebagai suau keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan berkaitan dengan perubahan perilaku. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan sederhana dan biasa, dan mencakup pula organisme selaku satu totalitas. Sedangkan emosional adalah berkaitan dengan ekspresi emosi, atau dengan perubahan-perubahan yang mendalam yang menyertai emosi, mencakup perubahan-perubahan dalam otot, kelenjar yang mendalam, dan tingkah laku. Seseorang dikatakan memiliki ketrampilan emosional apabila ia mampu menampilkan ekspresi emosi yang baik. “Baik” disini berarti sesuai dengan stimulus afektifnya.

Ketrampilan emosional yang berdasarkan pada interaksi emosional dini dan bertujuan membangun landasan untuk kecerdasan dan pemahaman mengenai diri kita (sense of self). Sedangkan interaksi sebagai satu pertalian sosial antar individu sedemikian rupa sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

Gambaran klinis mengenai MR ringan mungkin tidak terdiagnosis sampai anak yang terkena memasuki sekolah, karena ketrampilan sosial dan komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun prasekolah. Tetapi, saat anak menjadi lebih besar, defisit kognisi tertentu seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik mungkin membedakan dirinya dari anak lain dalam usianya. Defisit komunikasi, harga diri yang buruk, dan ketergantungan mungkin berperan dalam relatif tidak adanya spontanitas sosialnya. Beberapa orang terMR mungkin masuk ke dalam hubungan teman sebaya yang mempergunakan kelemahannya. Pada sebagian kasus, orang dengan MR ringan dapat mencapai suatu tingkat keberhasilan sosial dan kejuruan dalam lingkungan yang mendukung.

Beberapa faktor yang mempengaruhi ketrampilan emosional, yaitu: 1) Masalah-masalah biologis, anak-anak berkebutuhan khusus memiliki berbagai masalah biologis yang merintangi kemampuan mereka untuk berfungsi di dunia ini. Meskipun banyak cara untuk menjelaskan masalah-masalah biologis tersebut, dengan tujuan untuk memperhatikan bagaimana masalah tersebut mempengaruhi perkembangan mereka. 2) Pola-pola interaksi anak, masalah-masalah biologis anak mempengaruhi interaksi anak dengan orang lain. Anak yang kurang reaktif terhadap suara tidak mungkin menoleh ke arah suara rayuan ibunya. Anak yang terlampau reaktif terhadap sentuhan mungkin akan menjauhkan diri, atau bahkan menjerit, bila ayahnya berusaha memeluk.Bila anak terus menerus menarik diri dari ibunya, bisa dimengerti bila ibunya mengurangi tingkat usahanya membujuk si anak ke dalam interaksi yang penuh kasih. Ibu mungkin merasa bingung dan percaya bahwa si anak lebih suka dibiarkan sendirian. Di sisi lain, pemahaman khusus mengenai kurang reaktifnya seorang anak, akan memungkinkan orang tua untuk bekerja di sekitar masalah biologisnya untuk menarik anak ke dalam suatu relasi dan memulai interaksi serta komunikasi. Jadi terdapat berbagai lintasan yang berbeda yang mungkin dilakukan. 3) Pola-pola keluarga dan sosial, semua orang tua membawa kecenderungan tertentu dalam mengasuh anak. Sebagian dari kita secara alami bersikap demonstratif dan penuh sentuhan, yang lainnya lebih penyendiri. Sebagian dari kita senang berbicara, yang lainnya pendiam. Kecenderungan-kecenderungan ini (sebagian bawaan, sebagian diperoleh melalui keluarga dan lingkungan budaya kita) mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan anak-anak kita. Kecenderungan-kecenderungan tersebut bisa memudahkan atau menyulitkan anak-anak kita untuk menguasai tonggak penting ketrampilan emosionalnya.

Perkembangan emosional dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu: 1) Peran pematangan. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu obyek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda. 2) Peran belajar. Bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk belajar tentang berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka itu akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.

Dua hal yang mempengaruhi perkembangan ketrampilan emosional yaitu: 1) Badan individu (biologis). Badan dan budi bukan dua hal yang terpisah dan tidak berhubungan satu sama lain, tetapi sebaliknya bereaksi bersama dan menghasilkan pelbagai perasaan, pikiran dan perbuatan. Dengan demikian emosi kita yang bermacam-macam itu tidak diakibatkan hanya karena kita cakap memberi nama atau sebutan, tetapi juga karena dalam keadaan tertentu sistem urat syaraf kita biasanya bereaksi secara biokemis. Kalau dalam keadaan bahaya, jantung kita akan berdebar-debar, nafas pendek dan sikap kita penuh energi. Reaksi ini mungkin terjadi karena kita merasa ada suau ancaman dari luar, seperti seekor ular atau dari dalam diri seperti rasa marah yang tak bisa kita kuasai. Perubahan badaniah semacam itulah yang disebut reaksi emosional. 2) Cara berpikir individu. Dalam hidup pasti pernah disesatkan oleh pikiran yang negatif, pikiran yang tidak realistis, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau dapat membetulkan pikiran yang keliru itu, kita akan menolong diri untuk mengatur emosi kita. Dengan demikian ketrampilan emosional dapat kita kembangkan menjadi lebih baik lagi.

Bermain sebagai bagian integral dari masa anak-anak, yaitu suatu media unik yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan ketrampilan bahasa ekspresif, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosional, ketrampilan sosial, kemampuan membuat keputusan dan perkembangan kognisi pada anak. Singkatnya bermain adalah bentuk yang paling kompleks dari perkembangan ekspresi diri pada individu.

Bermain terdiri atas empat mode dasar yang membuat kita mengetahui tentang dunia meniru, eksplorasi, menguji, dan membangun. Bermain dapat membantu anak dalam perkembangan mereka dan merupakan teknik yang efektif untuk mengontrol lingkungan mereka yang tampaknya memberikan suatu kesempatan untuk bereaksi dengan orang dewasa yang berbeda sikap dengan mereka. Bermain sebagai suatu terapi memiliki nilai yang sangat penting. Bermain membantu mengembangkan hubungan terapeutik, membantu anak dalam mengkomunikasikan masalah-masalah mereka, membantu dalam pengukuran serta mempromosikan kesembuhan dan pertumbuhan. Karena bermain merupakan pusat dalam proses pengukuran, sangat memungkinkan terapis untuk mengerti kebutuhan anak, emosi, konflik, ketakutan dan dalam waktu yang sama membawanya ke dalam terapi. Bermain juga dapat menyembuhkan anak karena membiarkan anak bebas mengendalikan emosi dan menciptakan kembali kejadian dan pengalaman-pengalaman traumatik. Melalui bermain, anak dapat menemukan pemecahan masalah dalam bereksperimen dengan tingkah laku baru.

Teknik permainan sosiodrama dipergunakan sebagai suatu teknik untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan bermain peran. Di dalam sosio drama ini, individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu situasi masalah sosial.

Permainan sosiodrama, berdasarkan pada rumus bahwa individu akan bereaksi satu sama lain, dan juga berinteraksi satu sama lain dalam bentuk permainan sosial. Bentuk permainan ini menggabungkan semua unsur permainan drama ditambah bermain pura-pura yang mengungkapkan perasaan dan berinteraksi secara verbal antara dua anak atau lebih. Dalam bentuk permainan ini, anak-anak membutuhkan anak lain agar dapat meniru perbuatan, reaksi, dan menghasilkan dunia seperti duniayang mereka lihat. Melalui permainan interaktif ini, anak-anak dapat mempraktikkan ketrampilan bahasa, mengekspresikan emosi, dan memecahkan interpretasi mereka sendiri dari dunia sosial mereka.

Terapi bermain adalah suatu bentuk terapi yang menggunakan media unik sebagai bagian integral dari masa anak-anak untuk mengembangkan ketrampilan bahasa ekspresif, ketrampilan komunikasi, perkembangan emosional, ketrampilan sosial, kemampuan membuat keputusan dan perkembangan kognisi pada anak. Dalam terapi bermain terdapat beberapa macam teknik yang dapat dilakukan tentunya disesuaikan dengan kondisi dan tujuan yang hendak kita capai. Penelitian ini menggunakan teknik permainan sosiodrama. Permainan sosiodrama dipergunakan sebagai suatu teknik untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui kegiatan bermain peran. Di dalam sosio drama ini, individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu situasi masalah sosial. Teknik ini efektif apabila dilakukan setiap hari pada subyek yang akan kita kenai perlakuan untuk melihat perkembangan dari perilaku yang kita inginkan. Lamanya bisa mencapai kira-kira satu setengah bulan hingga dua bulan.

Perkembangan emosional pada setiap anak berbeda-beda sesuai dengan taraf intelektual dan kondisi fisiknya saat itu. Anak MR ringan, taraf intelektualnya di bawah rata-rata, yaitu berkisar antara 50-55 sampai dengan 70. Dengan keterbatasan segi intelektual tersebut, MR ringan memperlihatkan perbedaan dengan anak lain seusia dalam menguasai ketrampilan emosional mereka.

Ketrampilan emosional pada anak MR ringan dapat dikembangkan dengan bantuan dari orang tua, pendidik dan terapis. Peran terapis di sini berkaitan dengan terapi apa yang akan digunakan untuk dapat mengoptimalkan ketrampilan tersebut. Melalui terapi bermain, anak MR dapat dibantu untuk mengembangkan ketrampilan emosional mereka agar kelak mereka dapat memiliki kesadaran akan diri (sense of self) sehingga mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Albin, R. S. 1986. Emosi, Bagaimana mengenal, menerima, dan mengarahkannya, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Greenspan, S. I; Wieder, S; Simons, R. 2006. The Child with Special Needs, Jakarta : Penerbit Yayasan Ayo Main.

Hurlock, E. 1978. Perkembangan Anaka. Jakarta; Penerbit Erlangga.

Kaplan, H. I; Sadock, B. J; Grebb, J. A. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid dua. Jakarta: Binarupa Aksara.

Tedjasaputra, M. S. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Iklan