Efisiensi Industri Perbankan Di Antara Metode Nonparametrik dan DEA

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Tujuan dari analisis mengenai efisiensi perbankan adalah untuk memperoleh suatu frontier yang akurat. Namun demikian, kedua metode menggunakan pendekatan yang berbeda untuk mencapai tujuan ini. Pendekatan parametrik menghasilkan stochastic cost frontier sedangkan pendekatan DEA menghasilkan production frontier.

Ada keuntungan dan kelebihan dari setiap prosedur. Prosedur parametrik untuk melihat hubungan antara biaya diperlukan informasi yang akurat untuk harga input dan variabel exogen lainnya. Pengetahuan mengenai bentuk fungsi yang tepat dari frontier dan struktur dari an on-sided error (jika digunakan), dan ukuran sampel yang cukup dibutuhkan untuk menghasilkan kesimpulan secara statistika (statistical inferences).

Pendekatan DEA approach tidak menggunakan informasi, sehingga, sedikit data yang dibutuhkan, lebih sedikit asumsi yang diperlukan dan sample yang lebih sedikit dapat dipergunakan. Namun demikian, kesimpulan secara statistika tidak dapat diambil jika menggunakan metode nonparametrik. Perbedaan utama lainnya adalah bahwa pendekatan parametrik memasukkan random error pada frontier, sementara pendekatan DEA tidak memasukkan random error. Sebagai konsekuensinya, pendekatan DEA tidak dapat memperhitungkan faktor-faktor seperti perbedaan harga antar daerah, perbedaan peraturan, perilaku baik buruknya data, observasi yang ekstrim, dan lain sebagainya sebagai faktor-faktor ketidakefisienan. Dengan demikian, pendekatan nonparametrik dapat digunakan untuk mengukur inefisiensi secara lebih umum. Kelemahan dari pendekatan DEA adalah satu outlier dapat secara signifikan mempengaruhi perhitungan dari efisiensi dari setiap perusahaan.

Namun demikian, hal tersebut tidak terlalu merisaukan karena kedua pendekatan akan menghasilkan hasil yang mirip. Hal ini akan terjadi jika sampel yang dianalisis merupakan unit yang sama dan menggunakan proses produksi yang sama. DEA mempunyai beberapa keuntungan relatif dibandingkan dengan teknik parametrik. Dalam mengukur efisiensi, DEA mengidentifikasi unit yang digunakan sebagai referensi yang dapat membantu untuk mencari penyebab dan jalan keluar dari ketidakefisienan, yang merupakan keuntungan utama dalam aplikasi manajerial. Selain itu, DEA tidak memerlukan spesifikasi yang lengkap dari bentuk fungsi yang menunjukkan hubungan produksi dan distribusi dari observasi. Selain itu pendekatan parametrik sangat tergantung pada asumsi mengenai data produksi dan distribusi.

Pendugaan DEA secara statistik konsisten dengan struktur produksi dan distribusi. Namun, tidak dapat memperkirakan adanya sample error yang tak terhingga, khususnya jika banyaknya variabel input dan output relatif lebih banyak dibandingkan dengan banyaknya observasi. Hal ini berlaku untuk sebagian besar model DEA.

Konsep-konsep yang digunakan dalam mendefinisikan hubungan input output dalam tingkah laku dari institusi finansial pada metode parametrik maupun nonparametrik adalah, (1) Pendekatan produksi (the production approach), (2) Pendekatan intermediasi (the intermediation approach), dan (3) Pendekatan asset (the asset approach). Pendekatan produksi melihat institusi finansial sebagai produser dari akun deposit (deposit accounts) and kredit pinjaman (loans); mendefinisikan output sebagai jumlah dari akun-akun tersebut atau dari transaksi-transaksi yang terkait. Input-input dalam kasus ini dihitung sebagai jumlah dari tenaga kerja, pengeluaran modal pada aset-aset tetap (fixed assets) and material lainnya. Pendekatan intermediasi memandang sebuah institusi finansial sebagai intermediator, merubah dan mentransfer aset-aset finansial dari unit-unit surplus menjadi unit-unit defisit. Dalam hal ini input-input institusional seperti biaya tenaga kerja dan modal dan pembayaran bunga pada deposit, dengan outout yang diukur dalam bentuk kredit pinjaman (loans) dan investasi finansial (financial investments). Pendekatan aset melihat fungsi primer sebuah institusi finansial sebagai pencipta kredit pinjaman (loans). Pendekatan asset yang memvisualisasikan fungsi primer sebuah institusi finansial sebagai pencipta kredit pinjaman (loans); dekat sekali dengan pendekatan intermediasi, dimana output benar-benar didefinisikan dalam bentuk aset-aset.

Tiga cara dalam mendefinisikan output-output finansial dari sebuah lembaga finansial, yaitu pendekatan asset (output nya adalah kredit pinjaman yang dikeluarkan bank dan aseet-asset lainnya), Pendekatan user cost (output yang mempunyai kontribusi terhadap Pendapatan bersih), dan pendekatan value-added (output yang mempunyai kontribusi terhadap value added). Dengan menganggap hal lainnya tidak berubah (ceteris paribus), dan dengan nilai margin tertentu dari tingkat bunga yang dibayarkan pada deposit dan aset atau kewajiban finansial lainnya, sebuah gabungan kredit yang meningkatkan tingkat deposit akan meningkatkan produksi bersih nilai tambah dari lembaga finansial tersebut, dimana kekuatan yang merubah ‘pembelian’ dana inter-bank akan mengurangi produksi bersih nilai tambahnya.

Salah satu pendekatan, yang disebut sebagai pendekatan produksi, mengukur output dengan jumlah deposit dan akun jasa pinjaman kredit dari sebuah bank. Pendekatan intermediasi yang lebih umum melihat bank sebagai financial intermediary, dengan output yang diukur dalam unit Rupiah dan dengan tenaga kerja, modal, dan berbagai macam sumber pendanaan diperlakukan sebagai input.

Pendekatan intermediasi mempunyai beberapa Varians, klasifikasi aktivitas-aktivitas di mana bank-bank menciptakan value added yang tinggi, seperti kredit pinjaman (loans), demand deposit, dan time and savings deposits sebagai sebuah output yang “penting”, dengan tenaga kerja, modal, dan pembelian dana diklasifikasikan sebagai input.

Alternatif Aly sebuah kerangka “user-cost” di mana sebuah bank asset diklasifikasikan sebagai sebuah output jika return dari sebuah asset finansial diklasifikasikan sebagai sebuah output jika return finansial dari asset tersebut melebihi opportunity cost dari investasi, dan sebuah kewajiban (liability) diklasifikasikan sebagai sebuah output jika biaya finansial dari kewajiban tersebut lebih kecil dari opportunity cost-nya. Meskipun detail berbeda, pendekatan value added dan user-cost cenderung menyarankan sebuah klasifikasi yang mirip pada pemilihan variabel input dan ouput dari sebuah bank, dengan perbedaan prinsipil pada klasifikasi dari demand deposit sebagai sebuah output pada sebagian besar studi user-cost yang ada dan sebagai input maupun output ketika pendekatan value added yang diambil.

Tiga pendekatan terkait dengan aktivitas perbankan: Pendekatan produksi (the production approach), pendekatan intermediasi (the intermediation approach) dan pendekatan modern (the modern approach). Dua pendekatan pertama mengaplikasikan teori perusahaan mikroekonomi tradisional pada industri perbankan dan berbeda hanya pada spesifikasi dari aktivitas banknya. Pendekatan yang ketiga melangkah lebih jauh dan memasukkan beberapa aktivitas spesifik dari bank kedalam teori klasik yang kemudian dimodifikasi.

Dalam pendekatan produksi, aktivitas bank dideskripsikan sebagai sebuah produksi jasa bagi para depositor dan peminjam kredit. Faktor-faktor produksi tradisional seperti tanah, tenaga kerja dan modal digunakan sebagai input untuk memproduksi output-output yang diinginkan. Meskipun pendekatan ini mengenali sifat multiproduk dari aktivitas perbankan, stud-studi sebelumnya kurang memperhatikan aspek-apek dari produk perbankan tersebut, sebagian besar karena teknik-teknik yang berkaitan dengan isu skala (scale) dan sekup (scope) belum berkembang dengan baik. Pendekatan ini mempunyai kekurangan dasar dalam hal pengukuran output.

Pendekatan yang secara umum diterima adalah menggunakan jumlah nominal karena ketersediaan datanya. Pendekatan intermediasi pada kenyataannya bersifat komplemen terhadap pendekatan produksi dan menerangkan aktivitas perbankan sebagai pentransformasian uang yang dipinjamkan dari depositor menjadi uang yang dipinjamkan kepada para debitor. Aktivitas pentransformasian ini berasal dari karakteristik yang berbeda dari berbagai macam karakteristik deposit dan kredit pinjaman yang ada. Deposit biasanya dapat dibagi-bagi, likuid dan tidak beresiko, dimana pada sisi lain kredit pinjaman bersifat kurang likuid dan beresiko. Dalam pendekatan ini, input adalah modal finansial-deposit yang dikumpulkan dan dana yang dipinjam dari pasar finansial, dan output-output diukur dalam volume pinjaman dan investasi yang outstanding.

Pendekatan modern mempunyai kelebihan dalam mengintegrasikan resiko manajemen dan proses informasi kedalam teori klasik mengenai perusahaan. Adalah satu bagian yang paling inovatif dari pendekatan ini adalah pengenalan dari kualitas aset bank dan kemungkinan dari kegagalan bank dalam pengestimasian biaya. Pendekatan ini terkait pada pendekatan-pendekatan sebelumnya, dapat direpresentasikan secara terbaik melalui pendakatan CAMEL yang berdasarkan rasio. Capital adequacy (kecukupan modal), Asset quality (kualitas aset), Management (manajemen), Earnings (pendapatan) dan Liquidity (likuiditas) diturunkan dari tabel-tabel finansial bank dan digunakan sebagai variabel-variabel dalam analisis performance. Bank dianalisa sebagai sebuah unit produksi, dimana yang lainnya menganggap mereka sebagai institusi yang bersifat intermediary.

Pengembangan sebuah kerangka untuk mengkombinasikan benchmark strategis dan efisiensi dari jasa yang ditawarkan oleh (cabang) bank. Pada dasarnya model inipun bisa diterapkan pada bank secara keseluruhan, karena inti dari metode non-parametrik yang akan dipakai adalah untuk melihat kinerja efisiensi dari sebuah Decision Making Unit (DMU), baik itu sebuah bank, cabang bank, rumah sakit, perusahaan pertanian, dan sebagainya.

Sebuah benchmark efisiensi dikembangkan dengan berdasarkan service-profit chains (rantai jasa-keuntungan). Tiga model yang didasarkan pada metode non-parametrik dari teknik Data Envelopment Analysis (DEA) dikembangkan untuk diterapkan pada latar balakang kepraktisan: (i) sebuah model efisiensi operasional (operational efficiency model), (ii) sebuah model efisiensi kualitas jasa (service quality efficiency model), dan (iii) sebuah model efisiensi keuntungan (profitability efficiency model). Penggunaan dari model-model ini pada kasus mereka diilustrasikan menggunakan data cabangcabang dari bank komersial. Hasil empiris menghasilkan temuan-temuan yang superior jika kita dapat secara simultan menggunakan ketiga model secara bersamaan, yaitu melihat desain operasional dengan kualitas yang dihasilkan oleh jasa dan keuntungan yang dibandingkan dengan benchmark masing-masing dari tiga dimensi tersebut secara terpisah. Hubungan yang bagus juga terdukung secara empiris di antara efisiensi operasional dan keuntungan, dan di antara efisiensi operasional dengan kualias jasa yang dihasilkan.

Dikaitkan operasi, kualitas jasa dan keuntungan dalam sebuah benchmark kerangka efisiensi secara umum. Kontribusi dari kerangka ini adalah bahwa modelnya dapat sesuai dengan tepat pada desain dari sistem operasi ke dalam konsep rantai jasa-keuntungan serviceprofit chain, dan memberikan kemampuan untuk membuat benchmark desain operasional secara gabungan, dengan ukuran internal (operasional) dan ukuran eksternal (kostumer),yang mengukur performance dari jasa yang dihasikan (seperti kualitas) dan garis dasarnya (seperti keuntungan). Suatu metode yang mengkaitkan resiko yang ditanggung dalam memberikan impresi dari keseluruhan kerangka benchmark yang dibangun. Sebenarnya membangun sebuah hubungan model yang kompleks dan non linier. Menunjuk literatur yang ber-benchmark strategis sebagai jauh dari kesan konklusif. Jadi faktor-faktor yang mempengaruhi performance harus di-benchmark secara simultan. Tidak cukup untuk mengidentifikasi masing-masing kaitan dari rantai jasa-keuntungan (service-profit chain), ataupun mem-benchmark satu-satu kaitan tersebut.

Studi terfokus pada jaringan dari cabang-cabang (bank). Tapi ini dikarenakan keterbatasan dari data yang bisa diperoleh dan bukanlah merupakan karakteristik inheren yang dibutuhkan dalam pengambangan kerangka yang dikembangkan dan metodologi yang digunakan dalam menganalisis data empirik. Artinya, metodologi ini bisa diterapkan ke decision making unit lainnya dan dimodifikasi sesuai kebutuhan. Cabang-cabang dari bank tetap menjadi kendaraan utama dari jaringan bank yang ditakdirkan untuk mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap bank-bank secara keseluruhan.

Merger dapat membuat bank dengan manajemen yang lebih baik mengambil alih manajemen dari bank yang kurang baik untuk peningkatan performanya. Dengan hasil merger antar bank tersebut akan mempunyai manajemen yang lebih baik. Merger juga akan menurunkan biaya operasional dan menawarkan keuntungan kepada masyarakat secara keseluruhan dalam bentuk kebebasan dalam memilih sumber daya yang digunakan.

Adanya kelebihan kapasitas, di mana beberapa bank beroperasi di bawah skala efisien, kombinasi dari produk yang tidak efisien, atau berada di luar efficient frontier, membuat merger dan akuisisi harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Lebih jauh lagi, ada beberapa alasan untuk memperkirakan adanya pengaruh efisiensi dari merger beberapa bank yang dilakukan setelah krisis ekonomi tahun 1997. Dimana perubahan deregulasi perbankan, inovasi tekonologi dan peningkatan kompetisi mempengaruhi bank
untuk melakukan merger dan akuisisi. Merger dan akuisisi dapat meningkatkan skala ekonomi dan scope ekonomi, memperbaiki efisiensi dari bank yang merger, membuat bank hasil merger memiliki market power yang lebih besar atau meningkatkan size dari manajemen. Sebagai konsekwensinya, merger dari bank mempengaruhi efisiensi biaya dan profit, seperti halnya bunga dari deposito dan pinjaman. Merger berpotensi untuk memberi keuntungan kepada masyarakat dengan lebih luas jika efisiensi biaya dan profit akibat merger meningkat. Estimasi dari efisiensi biaya dan profit memungkinkan pemisahan antara perbaikan efisiensi dengan pengaruh dari market power, sesuatu yang tidak dapat dilihat hanya dari rasio cost dan profit.

Ada perubahan yang significant dari skala ekonomi pada perbankan di Eropa, akibat merger dan akuisisi. Dengan membandingkan bank yang merger dengan bank yang tidak merger, penelitian tersebut menemukan bahwa, akibat adanya merger, bank-bank yang kecil, profit efisiensinya lebih baik dibandingkan dengan bank-bank yang besar. Sedangkan efisiensi biaya dari bank-bank kecil maupun besar meningkat. Merger cenderung untuk menurukan efisiensi profit dari bank-bank yang besar, sedangkan efisiensi profit dari bank-bank yang kecil meningkat. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa tingkat suku bunga deposito cenderung meningkat akibat merger, yang mengindikasikan bahwa bank-bank hasil merger tidak dapat memperoleh market power yang lebih besar. Dalam tulisan ini kita juga akan melakukan analisis merger yang dilakukan oleh bank-bank yang ada di Indonesia untuk melihat tingkat efisiensi sebelum dan sesudah merger yang kemudian dibandingkan untuk dianalisis.

Akridge, Jay, T. (1989). Measuring Productive Efficiency in Multiple Product Agribusiness Firms: A Dual Approach. American Agricultural Economics Association.

Akridge, Jay, T. dan Thpmas W. Hertel. (1986). Multiproduct Cost Relationships for Retail Fertilizer Plants. American Agricultural Economics Association.

AltunbasL, Yener. (2001). Bank Ownership And Efficiency. Journal of Money, Credit and Banking. Vol.33, No.4.

Charles, A. (1981). Evaluating Program and Managerial Efficiency: An Application of Data Envelopment Analysis to Program Follow Through. Management Science Vol.27, No.6.

Dekker, David and Thierry Post. (1998). A Quasi-concave DEA Model With an application for Bank Branch Performance Evaluation. Department of Finance, Erasmus University Rotterdam.

Denizer, Cevdet A., Mustafa Dinc and Murat Tarimcilar (2000). Measuring Banking Efficiency in the Pre and Post-Liberalization Environment: Evidence from the Turkish Banking System. (An earlier version of this paper was presented at the INFORMS Spring Meeting in Salt Lake City, Utah)

Drake, Leigh and Maximilian J.B. Hall. (2000). Efficiency in Japanese Banking: An Empirical Analysis. Economic Research Paper No.00/25, Department of Economics, Loughborough University.

Ellinger, Paul N. (1994). Potential Gains from Efficiency Analysis of Agricultural Banks. American Journal of Agricultural Economics, Vol.76.

Emmanuel, Thanassoulis (2001). Introduction To The Theory And Application of Data Envelopment Analysis: A Fondation Text with Integrated Software, Kluwer Academic Publishers.

Evanoff, Douglas and Phillip R. Israilevich (1999). Productive Efficiency in Banking. Economic Perspectives, Vol.15, No.4.

Featherstone, Allen M. and MD. Habibur Rahman. (1996). Nonparametric Analysis of The Optimizing Behaviour of Midwestern Cooperatives. Review of Agricultural Economics. Vol.18.

Featherstone, Allen M. (1995). Farm-level Nonparametric Analysis of Cost Minimization and Profit-maximization behaviour. Agricultural Economics. Vol.13.

Maudos, Joaquin, Jose M. Pastor and Fransisco Perez (2002). Competition and Efficiency in the Spanish Banking Sector: The Importance of Specialisation. Applied Financial Economics, No.12.

Preckel, Paul V. (1997). Efficiency Measures for Retail Fertilizer Dealers. Agribusiness. Vol.13, No.5.

Seiford, Lawrence M., Joe Zhu (1999). Profitability and Marketability of the Top 55 U.S. Commercial Banks. Management Science, Vol.45, No.9.

Silkman, Richard H. (1986). Measuring Efficiency: An Assesment of Data Envelopment Anaysis. Jossey-Bass Inc. Publishers.

Soteriou, Andreas and Stavros A. Zenios (1999). Operations, Quality, and Profitability in the Provision of Banking Services. Management Science, Vol.45, No.9.

Wheerlock, David C. and Paul W. Wilson. (1999). Technical Progress, Inefficiency and Productivity Change in U.S. Banking, 1984-1993. Journal of Money, Credit and Banking.

Wheerlock, David C. and Paul W. Wilson. (1995). Explaining Bank Failures: Deposit Insurance, Regulation, and Efficiency. The Review of Economics and Statistics, Vol.77, No.4.

Worthington, Andrew C. Post Deregulation Technical Efficiency, Technological and Total Factor Productivity Change in Australian Credit. School of Economics and Finance, Queensland University of Technology.

Yeh, Quen-Jen. (1996). The Application of Data Envelopment Analysis in Conjunction with Financial Ratios for Bank Performance Evaluation. The Journal of the Operational Research Society, Vol.47.

Zhu, Suzhen. (1995). The Choice of Functional Form and Estimation of banking Inefficiency. Applied Economics Letters. Vol.2.