Efusi Pleura

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Definisi Efusi pleura adalah keadaan di mana terjadi akumulasi cairan yang abnormal dalam rongga pleura. Efusi pleura dapat terjadi karena penyakit dasar lokal atau sistemik. Pada beberapa kasus, efusi pleura dapat merupakan satu-satunya tanda penyakit sistemik. Adanya gambaran cairan dalam rongga pleura yang bertambah progresif atau bersamaan ditemukan bayangan massa dalam paru, perlu dipertimbangkan keganasan paru yang sudah bermetastasis ke pleura.

Etiologi terhadap efusi pleura adalah pembentukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh banyak keadaan yang dapat berasal dari kelainan dalam paru sendiri, misalnya infeksi baik oleh bakteri maupun virus atau jamur, tumor paru, tumor mediastinum. Efusi pleura yang disebabkan oleh perubahan pada tekanan hidrostatik akan membentuk transudat sedangkan bila permeabilitas kapiler yang meningkat seperti pada proses radang dan keganasan akan timbul eksudat. Oleh karennya, efusi pleura dapat terbentuk jika ada pembentukan cairan pleura yang berlebihan (dari pleura parietalis, ruang interstisium paru, atau kavum peritoneum) atau jika ada penurunan pengangkutan cairan oleh melalui limfatik.

Patofisiologi pada efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini tejadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan intertisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk ke dalam rongga pleura.

Penyakit-penyakit dengan efusi pleura terdiri dari dua golongan yaitu 1) Efusi pleura karena gangguan sirkulasi, 2) Efusi pleura karena neoplasma.

Efusi pleura karena gangguan sirkulasi:

  • Gangguan kardiovaskuler, Patogenesis adalah akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorbsi pembuluh darah subpleura dan getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan ke rongga pleura dan paru-paru meningkat.
  • Emboli pulmonal, efusi pleura dapat terjadi pada sisi paru yang terkena emboli pulmonal. Keadaan ini dapat disertai infark paru ataupun tanpa infark. Emboli menyebabkan menurunnya aliran darah arteri pulmonalis. Sehingga terjadi iskemia maupun kerusakan parenkim paru dan memberikan peradangan dengan efusi yang berdarah warna merah.
  • Hipoalbuminemia, efusi pleura juga terdapat pada keadaan hipoalbuinemia dengan tekanan osmotik darah, malabsorbsi atau keadaan lain dengan asites serta edema anasarka. Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan dengan tekanan osmotik darah. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat transudat.

Efusi pleura karena neoplasma:

  • Karsinoma bronkus, jenis karsinoma ini adalah yang terbanyak menimbulkan efusi pleura. Tumor bisa ditemukan dalam permukaan pleura karena penjalaran langsung dari paru-paru melalui pembuluh getah bening. Efusi dapat juga terjadi tanpa adanya pleura yang terganggu, yakni dengan cara obstruksi pneumonitis atau menurunnya aliran getah bening.
  • Imfoma maligna, kasus-kasus limfoma maligna (non-Hodgkin dan Hodgkin) ternyata 30% bermetastasis ke pleura dan juga menimbulkan efusi pleura. Biasanya ditemukan sel-sel limfosit karena sel ini ikut dalam aliran darah getah bening melintasi rongga pleura.

Gejala klinis efusi fleura yaitu nyeri dada pleuritik dan batuk kering dapat terjadi, cairan pleura yang berhubungan dengan adanya nyeri dada biasanya eksudat. Gejala fisik tidak dirasakan bila cairan kurang dari 200-300 ml. Tanda-tanda yang sesuai dengan efusi pleura yang lebih besar adalah penurunan fremitus, redup pada perkusi, dan berkurangnya suara napas.

Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik yang teliti, diagnosis pasti ditegakkan melalui pungsi percobaan, biopsi dan analisa cairan pleura. Kalau seorang pasien ditemukan menderita efusi pleura, kita harus berupaya untuk menemukan penyebabnya. Ada banyak macam penyebab terjadinya pngumpulan cairan pleura. Tahap yang pertama adalah menentukan apakah pasien menderita efusi jenis transudat atau eksudat.

Penatalaksanaan Efusi pleura yang terinfeksi perlu segera dikeluarkan dengan memakai pipa intubasi melalui sela iga. Bila cairan pus nya kental sehingga sulit keluar atau bila empiemanya multiokular, perlu tindakan operatif. Untuk mencegah terjadinya lagi efusi pleura setelah aspirasi (pada efusi pleura maligna), dapat dilakukan pleurodesis yakni melengketnya pleura viseralis dan pleura parietalis.

Cherniack, L. (1997), Basic Pathologi, Edisi 6, Saunders Company, United Stated of America, Hal 431-435.

Halim, H. (2006), Penyakit-penyakit Pleura, Tim Editor, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi Keempat, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, Hal 1066-1071.

Kusumawidjaja, K. (2005), Tumor Ganas Paru: Radiologi Diagnostik, Edisi Kedua, Gaya Baru, Jakarta, Hal 148-151.

Light, R.W. (2000), Kelainan Pada Paru: Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 3, EGC, Jakarta, Hal 1386-1388.

Tierney, L.M., Maphee, S.J., Papadalis, M.A. (2002), Karsinoma Bronkogenik: Diagnostik Dan Terapi Kedokteran (Penyakit Dalam), Salemba Medika, Jakarta, Hal; 132-140.

Tierney, L.M., Maphee, S.J., Papadalis, M.A. (2002), Penyakit Pleura: Diagnostik Dan Terapi Kedokteran (Penyakit Dalam), Salemba Medika, Jakarta, Hal 184-190.

Iklan