Ekspor Mebel Jawa Tengah Terus Menurun

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Ekspor Jawa Tengah terus menurun dalam tempo setahun, mulai triwulan I 2008 hingga triwulan 1 2009, ekspor menurun rata-rata 16,27 persen atau senilai 138,46 juta dollar AS setiap triwulan. Salah satu penyebab melemahnya ekspor Jateng adalah krisis global yang mendunia. Penurunan tersebut terjadi pada hampir semua komoditas yang menjadi produk ekspor andalan Jateng. Salah satunya adalah perabot dan produk-produk dari kayu lainnya.

Perabot dan penerangan rumah merupakan salah satu produk yang bernilai tinggi di luar negeri selain pakaian jadi. Pada Triwulan I 2008, nilai ekspor perabot mencatat angka tertinggi di antara semua produk ekspor yang ada. Komoditas jenis ini mampu memberi sumbangan devisa kepada Jateng hingga 209,8 juta dollar AS. Namun, pada triwulan berikutnya nilainya menurun. Hingga Triwulan I tahun 2009 nilai ekspor perabot dan penerangan rumah turun menjadi 72,37 juta dollar AS.

Fenomena yang sama juga terjadi pada kayu dan barang dari kayu. Kedua komoditas ini juga memiliki nilai jual yang relatif tinggi. Selama tahun 2009 perkembangan nilai ekspornya juga mengalami penurunan dari 101,8 juta dollar AS hingga 4,15 juta dollar AS. Penurunan ekspor perabot, kayu, dan barang dari kayu diperkirakan rata-rata 15,73 persen atau senilai 41,77 juta dollar AS per triwulan. Nilai ini menyumbang penurunan paling besar di antara 13 komoditas ekspor klasifikasi harmonized system lainnya.

Pada masa jayanya, industri mebel ukir Jepara tahun 1999-2000 mendulang nilai ekspor 200.514.601 dollar Amerika Serikat, menyerap tenaga kerja 8.500 jiwa, serta memiliki 3.500 unit usaha. Namun, kondisi tersebut belum terulang lagi hingga menjelang akhir Mei 2009. Banyak penyebab mebel Jepara masih tertatih-tatih, seperti kelangkaan dan mahalnya bahan pokok, yaitu kayu jati, rendahnya mutu produksi, persaingan tidak sehat antar perajin-pengusaha, hingga lemahnya desain.

Seni ukir Jepara adalah tradisi yang dirintis sejak abad VII semasa Ratu Shima memerintah Kerajaan Kalingga berupa pembuatan kapal dan rumah tradisional. Kemudian dilanjutkan masa pemerintahan Ratu Kalinyamat yang ditandai dengan bermunculan banyak pertukangan. Pada era pemerintahan Belanda, terjadi pembauran gaya seni China, India, Arab, Eropa Barat, dan gaya asli Indonesia.

Pada abad XIX, industri mebel ukir Jepara mulai dikenal di mancanegara, setelah Raden Ajeng Kartini mempromosikan melalui persembahan kerajinan khas Jepara pada perkawinan Ratu Wihelmina dan lewat lembaga Oost en West di Belanda. Bahkan, saat Soeharto berkuasa, industri mebel Jepara mendapat dukungan penuh.

Sebagai sentra pembuatan mebel, nama Kabupaten Jepara tersohor hingga ke mancanegara. Dulu, ketika krisis moneter melanda Indonesia, perajin Jepara justru mengalami booming karena pembeli dari luar negeri rajin memborong produk mereka. Nilai tukar rupiah yang melemah malah menjadi berkah bagi mereka karena pembeli asing menyambar apa saja yang mereka buat. (Sumber: Kompas, Sabtu 23 Mei 2009).