Filsafat Modern dan Post Modern

9 tahun ago kesimpulan 0
(kesimpulan)

CIRI-CIRI FILSAFAT MODERN

Subjektivitas. Manusia menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas yang menjadi ukuran segala sesuatu. Manusia dalam masyarakat abad pertengahan lebih mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, partai, keluarga atau kolektif. Lewat modernisasi, manusia lebih menyadari dirinya sebagai individu, kemajuan ekonomi dan terutama seni sangat besar andilnya dalam peningkatan kesadaran akan subjektivitas ini. Pernyataan Descartes yang termasyhur, cogito ergo sum (saya berpikir maka saya ada) menjadi formulasi padat kesadaran zaman modern yang terus dipertahankan bahkan sampai abad ke-20 ini bahwa manusia (individu) bisa mengetahui kenyataan dengan rasionya sendiri. Di abad ke-19, Marx, (ilham dari Hegel), menegaskan bahwa manusia adalah subjek sejarah, manusia tidak hanyut dipermainkan waktu, melainkan perancang sejarahnya sendiri. Dengan demikian subjektivitas dipahami dalam matra historisnya.

Kritik. Rasio tidak hanya sumber pengetahuan, melainkan juga menjadi kemampuan praktis untuk membebaskan individu dari wewenang untuk menghancurkan prasangka yang menyesatkan. Kant merumuskan kritik sebagai keberanian untuk berpikir sendiri di luar tuntunan tradisi atau otoritas. Dia mengatakan “terbangun dari tidur dogmatis”, yaitu: kemampuan kritis rasio membuatnya bebas dari prasangka-prasangka pemikiran tradisional. Subjektivitas dan kritik pada gilirannya mengandaikan keyakinan akan kemajuan.

Kemajuan. Manusia menyadari waktu sebagai sumber langka yang tak terulangi. Waktu dialami sebagai rangkaian peristiwa yang mengarah pada satu tujuan yang dituju oleh subjektivitas dan kritik itu.

POKOK-POKOK DALAM FILSAFAT MODERN

Pemikiran abad pertengahan ditandai oleh kesatuan, keutuhan, dan totalitas yang koheren dan sistematis dalam bentuk metafisika atau ontologi. Oleh pemikir abad pertengahan kenyataan dilukiskan sebagai sebuah tatanan sistematis yang hierarkial (kenyataan tertinggi dan terendah, terabstrak dan konkret), Thomas Aquinas adalah puncak dari pemikiran abad pertengahan ini. Pemikiran modern sebagai suatu pemberontakan terhadap alam pikir abad pertengahan itu. Filsafat modern sebagai pemberontakan intelektual terus-menerus terhadap metafisika tradisional. Dari pemberontakan ini, cara berpikir filosofis yang mendasarkan pada rasio menjadi otonom dari pemikiran atas dasar iman (“teologi”). Pemisahan filsafat dari teologi berlanjut pada abad ke-18 dan 19 menjadi pemisahan ilmu pengetahuan dari filsafat.

Filsafat Modern sebagai Pemberontakan Intelektual. Di satu sisi, modernitas dianggap sebagai disintegrasi intelektual. Filsafat modern lebih menampilkan dirinya sebagai anarkhi dan kekacauan dari pada keutuhan dan ketertiban, sebuah kemerosotan intelektual. Di lain sisi, filsafat modern dianggap sebagai emansipasi, sebuah kemajuan berpikir, dari kemandegan dan pendewaan pemikiran metafisis yang mendukung sistem kekuasaan gerejawi tradisional. Pihak kedua mendukung radikalisasi lebih lanjut, pemisahan ilmu pengetahuan dari filsafat. Hancurnya metafisika tradisional disambut gembira Nietzsche, Kant, Comte, di lain pihak, Hegel dan Marx ingin mengembalikan integrasi metafisis itu dari puing-puingnya.

Usaha melepas diri dari tradisi, filsafat modern meluncurkan tema-tema baru, pengetahuan yang sekarang dikenal sebagai “ilmu pengetahuan modern”, yakni ilmu-ilmu alam, seperti Galileo, Bacon dan Descartes sangat menekankan “metode” untuk mengetahui. Kalau filsafat tradisional ramai mempersoalkan kenyataan adikodrati (Allah, roh, dst), para filsuf modern sibuk mempersoalkan cara untuk menemukan dasar pengetahuan yang sahih tentang semua itu. Lambat laun minat refleksi akan Allah bergeser ke refleksi atas manusia dengan segala kemampuan kodratinya. Jadi, teosentrisme bergeser ke antroposentrisme. Kemampuan manusia sebagai subjektivitas, seperti: rasio, persepsi, afeksi, dan kehendaknya menjadi tema-tema refleksi baru.

Di awal zaman modern, rumusan “Cogito ergo sum” dari Descartes bersesuaian dengan interpretasi subjektif atas iman dari Luther. Jika pengetahuan dicapai oleh dirinya sendiri dan iman ditafsirkan sendiri, yang dilawan di sini bukan hanya ajaran-ajaran resmi tentang pengetahuan yang benar, melainkan juga praktik-praktik totaliter gereja Abad Pertengahan yang dilegitimasikan ajaran-ajaran itu. Di abad ke-18, John Locke dan Adam Smith merumuskan hak-hak milik yang menandai praktik-praktik ekonomi kapitalis zaman itu. Praktik-praktik yang lama mendapat serangan gencar dari Marx yang memperlihatkan hak milik sehagai biang keladi penindasan dalam masyarakat.

Renaisans dan Gerakan Humanisme. Memang warisan-warisan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno dipelajari lagi oleh para cendikiawan yang pada zaman itu disebut “kaum humanis”. Namun hasil pengolahan kembali warisan antik itu adalah sesuatu yang baru, sehingga renaisans itu bukanlah reproduksi kultur antik, melainkan interpretasi baru atasnya. Gerakan humanisme lalu ditandai oleh kepercayaan akan kemampuan manusia, hasrat intelektual, dan penghargaan akan disiplin intelektual. Kaum humanis percaya bahwa rasio dapat melakukan segalanya dan lebih penting dari pada iman. Karena itu, penelitian filologis tidak hanya dilakukan atas sastra klasik, artinya, teks suci ini mulai dipelajari dengan rasio belaka. Karena percaya akan kemampuan intelektual, kaum humanis juga menekankan pentingnya perubahan-perubahan sosial, politis dan ekonomi. Kekuasaan absolut gereja makin keropos, dan sebagai gantinya muncul kecenderungan membentuk negara-negara nasional. Kaum humanis mendorong sekularisasi (pemisahan kekuasaan politis dari agama).

Goncangan yang lebih keras lagi di ambang modernitas, dihasilkan oleh penemuan-penemuan ilmiah. Nicolas Copernicus (1473-1543), lewat penelitian astronomisnya, menghancurkan otoritas astronomi tradisional yang didominasi oleh teori Aristoteles dan Ptolemaeus yang mengandaikan bumi adalah pusat semesta. Konsep-konsep kuno ditolak secara matematis bahwa bumi mengitari matahari sebagai pusat semesta. Copernicus mengguncangkan kemapanan penafsiran religius saat itu paling jelas ditampilkan dalam peristiwa Galileo-Galilei (1564-1642), berhasil membuktikan teori Copernicus lewat teleskop temuannya pada tahun 1610. Karena dianggap menyebarkan teori heliosentrisme, dia dihukum oleh Inkuisisi (intelejen gereja), dicukil matanya. Apa yang berkembang di sini tak lain pada observasi empiris, sebuah metode yang sangat sentral bagi perkembangan ilmu-ilmu modern.

Reformasi dan Pengaruhnya atas Filsafat. Jika Renaisans dengan humanismenya merupakan gerakan elite intelektual, Reformasi adalah gerakan massa. Renaisans adalah gerakan kebudayaan, sedang Reformasi adalah gerakan teologis dan politis. Martin Luther (1483-1546) sebagai peletusan gerakan massal yang pada mulanya adalah protes atas ulah seorang teolog bernama John Tetzel (mengusahakan uang bagi Paus Leo X dan uskup Magdeburg dengan mengkotbahkan hukuman neraka yang bisa dikurangi dengan membeli surat aflat). Dengan 95 tesis, protesnya bukan hanya didukung dari kelas menengah Jerman, meluas menjadi gerakan demokratisasi religius sampai ke gerakan-gerakan petani.

KELAHIRAN PERIODE POST MODERN

Pemikiran Nietzsche dianggap sebagai penutup dari periode filsafat modern untuk menyongsong periode filsafat post-modern. Ide-ide seperti Tuhan, kebebasan, keabadian, dunia, Sang Awal, dan Sang Akhir hanyalah sebuah fungsi regulatif pengetahuan, sejak mereka tak mampu mendapatkan kejadian-kejadian yang memuaskan diantara objek-objek pengalaman. Menurut Hegel, kesiapan relasi subjek-objek itu sendiri nampak menyesatkan, “kita mendapati bahwa tidak Yang Satu juga tidak Yang Lain hadir secara serta merta dalam kepastian-rasa, akan tetapi masing-masing pada waktu yang sama diperantarai”, karena subjek dan objek keduanya merupakan permisalan dari “ini” dan “sekarang”, yang keduanya tidak terasa secara serta merta. Oleh karena itu, persepsi yang seketika (immediate perception) tidak memiliki kepastian keseketikaan itu sendiri, sebuah kepastian yang harus ditangguhkan karena tidak bekerjanya sistem pengalaman yang Iengkap. Logika Hegel mensyaratkan konsep-konsep seperti identitas dan negasi yang tidak bisa dengan dirinya sendiri diterima sebagai ada secara seketika, dan yang karenanya harus dipertimbangkan dalam cara lain yang non-dialektis.

Akhir abad 19 merupakan era modernitas sebagai sebuah realitas nyata, di mana sains dan teknologi, termasuk jaringan komunikasi dan transportasi massa, membentuk ulang persepsi manusia. Akibatnya, tak ada perbedaan yang jelas antara pengalaman alamiah dan pengalaman artifisial. Bahkan, banyak pendukung posmodernisme menentang kelangsungan perbedaan semacam itu tout court, setelah melihat kemunculan sebuah masalah yang berusaha ditekan oleh tradisi filosofis ada pada modernisme nyata. Konsekuensi dari modernisme nyata adalah apa yang mungkin disebut oleh kaum post-modernis sebagai de-realisasi. De-realisasi mempengaruhi subjek dan objek pengalaman sekaligus, seperti perasaan identitas, keteguhan, dan substansi mereka terbengkalai atau terkecewakan. Para pelopor penting dari ide ini adalah Kierkegaard, Marx, dan Nietzsche.

Kierkegaard, menggambarkan masyarakat modern sebagai suatu jaringan relasi di mana individu-individu dilevelkan menjadi sebuah konsep abstrak yang dikenal sebagai “publik”. Publik modern, kebalikan dari masyarakat primitif dan abad pertengahan, merupakan hasil kreasi dari media, yang merupakan satu-satunya instrumen yang mampu mengikat massa individu-individu yang tidak nyata secara bersama “yang tidak pernah dan tidak akan bisa pernah disatukan dalam sebuah situasi atau organisasi aktual”. Dalam hal ini, masyarakat menjadi sebuah realisasi dari pemikiran abstrak, yang diikat secara bersama oleh sebuah medium artifisal yang berbicara tidak untuk dan tidak atas nama siapapun.

Pada Marx, di sisi yang lain, kita mempunyai sebuah analisa tentang fetisisme komoditas, di mana objek kehilangan soliditas nilai guna mereka dan menjadi figur-figur yang terpecah belah di bawah aspek nilai jual-beli. Fitrah semu mereka dihasilkan dari meresapnya mereka ke dalam jaringan relasi sosial, di mana nilai-nilai mereka berfluktuasi secara bebas dari kebutuhan jasmaniah mereka. Subjek manusia itu sendiri mengalami de-realisasi karena komoditas merupakan produk dari tenaga mereka. Pekerja secara paradoks kehilangan daya untuk merealisasikan diri, dan menjadi semakin melekat bagi mereka yang menyatakan sensibilitas post-modern.

Kita juga menemukan gagasan de-realisasi pada Nietzsche, yang mengatakan bahwa ciptaan adalah “nafas terakhir dari realitas yang menguap” dan memberikan perhatian khusus pada pembubaran pembedaan antara dunia “nyata” dan dunia “samar”. Ia menelusuri sejarah perbedaan ini dari Plato sampai masanya sendiri, dimana “dunia sejati” menjadi idea yang sia-sia dan tak berguna. Apa yang tersisa bukanlah dunia sejati dan bukan juga dunia samar, melainkan sesuatu yang berada diantara keduanya, dan karenanya bertalian erat dengan realitas virtual dari model yang lebih baru.

Nietzsche menghadirkan tragedi Yunani sebagai sebuah sintesis dari impuls-impuls seni alamiah yang direpresentasikan oleh dewa Apollo dan Dionysus. Di mana Apollo adalah dewa bentuk dan citra indah, Dionysus adalah dewa kegilaan dan kemabukan, di bawah mana orang-orang yang melontarkan mantra eksistensi individuasi hancur pada momen kebersatuan dengan alam. Sementara seni tragic merupakan sebuah afirmasi kehidupan dalam penggabungan dua impuls ini, logika dan sain dibangun di atas representasi Apollonian yang membeku dan tak bernyawa. Dengan demikian, Nietzsche percaya hanya dengan mengembalikan impuls seni Dionysian tersebut masyarakat modern dapat diselamatkan dari sterilitas dan nihilisme. Interpretasi ini menandai konsep-konsep post-modern tentang seni dan representasi, dan juga mencegah keterpesonaan kaum posmodernis pada prospek momen revolusioner yang memberikan harapan akan sebuah perasaan baru dan anarkis tentang komunitas.

Nietzsche juga merupakan seorang pelopor posmodernisme dalam analisa genealoginya tentang konsep-konsep fundamental, khususnya apa yang dipikir menjadi inti dari konsep metafisika Barat, yakni Sang “Aku”. Menurut Nietzsche, konsep Sang “Aku” bertanggung jawab secara moral terhadap tindakan-tindakan kita, dan kausal ini berlangsung sepanjang waktu, mempertahankan identitasnya, sehingga imbalan dan hukuman diterima sebagai konsekuensi atas tindakannya sambil mempertimbangan keuntungan dan kerugian terhadap yang lain. Dengan cara ini, konsep Sang “Aku” muncul sebagai sebuah konstruksi sosial dan ilusi moral. Menurut Nietzsche, sense moral dari Sang “Aku” sebagai sebuah sebab identikal diproyeksikan ke kejadian-kejadian di dunia, di mana identitas sesuatu, sebab, akibat, dan lain sebagainya mengambil bentuk representasi yang dapat dikomunikasikan dengan mudah. Logika tersebut terlahir dari tuntutan untuk menyatu ke norma-norma sosial bersama yang membentuk umat manusia menjadi sebuah masyarakat subjek yang sadar dan bertindak.
Bagi kaum posmodernis, konsep genealogi Nietzsche juga merupakan sebuah rujukan penting. Nietzsche mengajukan hipotesis bahwa konsep saintifik merupakan rantai metafora yang diperkeras ke dalam kebenaran-kebenaran yang diterima. Dalam hal ini, metafora bermula ketika sebuah nadi stimulus ditiru sebagai sebuah citra, kemudian diimitasi dalam suara, muncul sebagai kata ketika diulang, yang menjadi sebuah konsep pada saat kata dipakai untuk membentuk multi-instances dari peristiwa tunggal. Metafora konseptual dengan demikian merupakan kebohongan karena mereka menyamakan sesuatu yang tidak sama, sebagaimana rantai metafora bergerak dari satu level ke level lainnya. Persoalan Hegel dengan pengulangan “ini” dan “sekarang” diperluas untuk memasukkan pengulangan instances melewati kesenjangan yang tidak berlanjut antara jenis dan tingkatan sesuatu.

Nietzsche mengkritik historisisme abad 19, bahwa kehidupan individual dan budaya bergantung pada kemampuan mereka untuk mengulangi sebuah momen ahistoris, semacam sebuah keterlupaan, bersama dengan perkembangan berkelanjutan mereka sepanjang waktu, dan studi sejarah dengan demikian seharusnya menekankan pada bagaimana setiap orang atau budaya mengalami dan mengulangi momen ini. Jadi, tak ada keraguan menggapai titik posisi di luar sejarah atau mengkonsepsikan masa lalu sebagai tahapan menuju masa kini. Pengulangan sejarah (historical repetition) tidak berlangusng secara linear, akan tetapi setiap masa mempunyai bentuknya sendiri mengulangi momen ahistoris yakni masa kininya sendiri sebagai “baru”. Nietzsche sepakat dengan Charles Baudelaire, yang menggambarkan modernitas sebagai “kesementaraan, kecepatberlaluan, dan kebetulan” yang diulang-ulang sepanjang masa, dan posmodernis setuju dengan konsep Nietzsche tentang pengulangan abadi (eternal return).

Nietzsche menampilkan konsep sebuah keabadian, pengulangan identikal dari segala sesuatu di alam semesta, bahwasannya tak ada kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga sejarah merupakan pengulangan dari sebuah momen ahistoris, sebuah momen yang selalu baru dalam setiap kejadiannya. Dalam pandangan mereka, Nietzsche hanya dapat memaknai bahwa sang baru terus-menerus berulang sebagai sang baru, dan karenanya keterusbaruan merupakan perkara pembedaan (difference) daripada identitas. Post-modernis menggabungkan konsep pengulangan abadi dengan kehilangan perbedaan antara dunia nyata dan dunia samar. Perbedaan itu sendiri tidak hadir kembali, dan yang berulang bukanlah yang nyata dan yang samar dalam pandangan tradisional, akan tetapi sebuah simulacra.

Nietzsche merupakan titik temu antara filosof postmodern dan Martin Heidegger, yang mana meditasinya atas seni dan teknologi selalu mereka kutip dan komentari. Kontribusi Heidegger terhadap sense de-realisasi dunia berangkat dari ungkapan penting seperti: “everywhere we are underway amid beings, and yet we no longer know how it stands with being”, dan “precisely nowhere does man today any longer encounter himself, be his essence”. Heidegger melihat teknologi modern sebagai pemenuhan metafisika Barat, yang dikarakterisasikan sebagai metafisika masa kini. Sejak masa filosof awal, tepatnya Plato, pemikiran Barat memahami being sebagai kehadiran being, yang dalam dunia modern berarti ketersediaan being untuk dipakai. Kehadiran being cenderung lenyap ke dalam transparansi ketidakbergunaan mereka sebagai sesuatu yang siap pakai. Esensi teknologi, yang ia namai sebagai “the enframing” mereduksi entitas being menjadi sebuah susunan kalkulatif. Dengan demikian, gunung bukanlah gunung melainkan setumpuk batu, sungai Rheine bukanlah sungai Rheine melainkan sebuah mesin energi hidro-elektrik, dan manusia bukanlah manusia melainkan reserves dari kekuatan manusia. Pengalaman dunia modern, kemudian, adalah sebuah penarikan diri being di hadapan the en framing. Namun demikian, manusia dipengaruhi oleh penarikan dirinya dalam momen-momen kecemasan atau kebosanan, dan disitulah terletak jalan ke sebuah kemungkinan return of being, yang mungkin sama dengan pengulangan pengalaman being yang diungkap oleh Parmenides dan Heraclitus.

Heidegger melihat hal ini sebagai realisasi kehendak berkuasa, konsep Niersche yang lain, bersama dengan konsep pengulangan abadi, merepresentasikan kelelahan tradisi metafisika. Bagi Heidegger, kehendak berkuasa merupakan keterusbaruan yang abadi sebagai menjadi (becoming), dan permanen merupakan momen perhentian dari metafisika kehadiran. Becoming merupakan kemunculan dan kematian being di dalam dan di antara being yang lain dari pada kebangkitan dari being. Jadi, bagi Heidegger, Nietzsche menandai akhir pemikiran metafisika tetapi bukanlah sebuah ruang di atasnya, dan Heidegger melihatnya sebagai ahli metafisika terakhir dalam oblivion of being belum selesai. Harapan bagi sebuah ruang dalam pemikiran non-metafisika terletak pada Holderlin, yang pendapatnya mendukung tanda-tanda yang diberikan oleh being saat penarikan dirinya.

Sementara post-modernis berhutang banyak pada refleksi Heidegger tentang being yang tidak nyata dan terhadap de-realisasi being melalui teknologi enframing, mereka secara tajam menolak karya-karya Nietzsche.

Banyak filosof posmodern menemukan di dalam Heidegger sebuah nostalgia being yang tidak mereka miliki. Malahan, Iebih memilih perasaan melupakan yang membahagiakan (cheerful forgetting) dan kreativitas yang menyenangkan (playful creativity) dalam konsep Niezsche tentang pengulangan abadi (eternal return) sebagai sebuah pengulangan dari yang baru dan yang berbeda. Para pengarang besar yang diasosiasikan dengan posmodernisme telah mencatat bahwa Barat lain yang terlupakan dan terpinggirkan, termasuk Heidegger, difigurisasikan oleh Yahudi. Dengan cara ini, mereka bisa membedakan proyek mereka dari pemikiran Heidegger dan mempertimbangkan secara kritis keterlibatannya dengan National Socialism dan sikap diamnya tentang the Holocaust, sekalipun untuk mengatakannya sebagai sesuatu yang bukan bersifat pribadi. Pencarian Heidegger atas tindakannya dan penolakannya untuk bertanggung jawab tidak akan ditemukan dalam pendapat-pendapat posmodernis. Namun demikian, mereka akan menemukan banyak titik berangkat dari Heidegger pada signifikansi filosofis Nietzsche dan banyak contoh di mana gagasan-gagasan Nietzsche digunakan secara kritis melawan Heidegger.

Iklan