Gaya Komunikasi Orang Tua Pada Anak

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Selain berempati, berusaha menciptakan pesan yang mudah dipahami oleh anak dan melakukan modifikasi, gaya komunikasi yang diterapkan orang tua juga perlu mendapat perhatian. Gaya komunikasi adalah cara orang berkomunikasi (menyampaikan pesan, ide, gagasan) dengan orang lain. Gaya komunikasi dapat dilihat dan diamati ketika seseorang berkomunikasi baik secara verbal (bicara) maupun non verbal (melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh dan tangan serta gerakan anggota tubuh lainnya).

Gaya komunikator ditandai oleh beberapa karakteristik: (1) dapat diamati, jika seseorang dikatakan mempunyai gaya berkomunikasi yang “hidup”, maka diyakini bahwa ada hal-hal tertentu yang membuat gaya komunikasinya menjadi hidup yang dapat diamati melalui frekuensi gesture, gerakan badan, dan mata serta mimik wajah yang ekspresif. Dalam setiap interaksi komunikatif, cara seseorang memberi bentuk terhadap makna harfiah dapat diamati. (2) beraneka segi, gaya komunikasi seseorang mempunyai banyak segi. Seorang individu tidak hanya mempunyai satu gaya, melainkan beberapa aspek dari bermacam gaya. Seseorang secara simultan dapat berkomunikasi dengan menggunakan gaya bersahabat, penuh perhatian, santai, ataupun serius maupun beberapa kombinasi lainnya. Singkatnya, ada banyak variabel dan kombinasi gaya seperti halnya kombinasi atribusi dalam sebuah bahasa. (3) multikolinear, maksudnya adalah banyak variabel gaya yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, variasinya saling terkait. Kombinasi gaya dapat menghasilkan pengaruh yang sinergik. Campuran dari beberapa gaya dapat digabungkan secara sinergik untuk menyampaikan pesan-pesan yang khas/khusus. Seorang komunikator mempunyai kombinasi gaya yang luar biasa banyaknya, yang dapat memberi bentuk pada makna harfiah. (4) tidak tetap tapi cukup berpola, gaya bukanlah suatu peran yang mutlak dalam hal cara seseorang berkomunikasi. Dalam interaksi tertentu, seseorang bisa saja tidak menggunakan pola gaya yang biasanya ia gunakan. Setiap interaksi komunikatif memberikan kontribusi dalam penentuan sebuah gaya yang akan digunakan. Dengan memahami karakteristik anak maka orang tua akan lebih mudah dalam menentukan gaya komunikasi yang akan diterapkan terhadap si anak. Semakin kita memahami seseorang, maka semakin akurat kita memprediksi perilaku orang tersebut. Proses asosiasi yang lama dengan seseorang akan membuat kita lebih memahami caranya berkomunikasi.

Dalam menerapkan gaya komunikasi orang tua harus mempertimbangkan banyak hal, apalagi mengingat anak dengan kebutuhan khusus. Tuntutan yang melebihi kemampuannya seharusnya dihindari karena akan membuat anak menjadi semakin tegang dan akhirnya menghambatnya untuk berpikir leluasa.

Orang tua juga berperan dalam pembentukan dasar pembelajaran di rumah, termasuk melanjutkan pelajaran yang diperoleh di sekolah dan pengajaran keterampilan-keterampilan yang diperoleh dari masyarakat. Orang tua perlu dibekali pengetahuan dalam mengaplikasikan metode-metode instruksional yang paling efektif untuk mengajari anak dengan baik melalui keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah perilaku.

Komunikasi ibarat rantai yang menghubungkan manusia dengan dunia, alat yang digunakan untuk mengekspresikan diri, menciptakan kesan dan mempengaruhi orang lain, serta mengungkapkan diri. Demikian fundamental arti komunikasi dalam kehidupan manusia, hingga para ahli menyimpulkan bahwa gangguan pada bidang ini akan menyebabkan berbagai masalah dalam kehidupan manusia. Tanpa komunikasi hubungan kita dengan dunia akan terputus, manusia merasa terkucil sehingga muncul berbagai perilaku negatif. Sebuah penelitian secara ekstrim menunjukkan bahwa orang yang terkucil secara sosial cenderung lebih cepat mati. Selain itu kemampuan komunikasi yang buruk juga sering diidentifikasikan sebagai pencetus berbagai penyakit dan masalah kesehatan.

Kemampuan berkomunikasi tidak diperoleh sejak lahir, melainkan dipelajari sejak kecil melalui significant others. Sepanjang hidup akan berinteraksi dengan banyak orang, sambil terus belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungan. Umumnya mungkin terdengar begitu simple sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa komunikasi, khususnya komunikasi yang efektif, sebenarnya merupakan suatu proses yang kompleks. Kemampuan berkomunikasi melibatkan banyak sekali elemen pendukung. Keberhasilan suatu tindak komunikasi, mulai dari pembuatan pesan sampai proses interpretasi oleh komunikan sehingga dapat menciptakan communal meaning di antara para pelakunya, seringkali tidak semudah yang diperkirakan. Apalagi jika berhadapan dengan orang-orang yang secara fisik memiliki keterbatasan dalam kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi sosial.

Cara seseorang berkomunikasi berpengaruh pada pemahaman dan penafsiran terhadap realitas sosial. Gaya komunikasi mempunyai 9 variabel independen dan 1 variabel dependen, yaitu:

  1. Independen: mendominasi (dominant), perilaku dramatis (dramatic), suka berdebat (contentious), bersemangat (animated), meninggalkan kesan (impression leaving), relaksasi/santai (relaxed), penuh perhatian (attentive), terbuka (open), ramah (friendly).
  2. Dependen: image/citra komunikator (communicator image).

Agar dapat menyesuaikan gaya komunikasinya dengan kebutuhan anak, orang tua terlebih dahulu perlu memahami lebih jauh mengenai kondisi dan karakteristik anaknya. Misalnya, kemampuan visual anak umumnya lebih menonjol dibandingkan dengan kemampuan auditif. Dalam hal ini, untuk berkomunikasi orang tua bisa menggunakan gaya komunikasi yang dramatis atau bersemangat dengan memperbanyak stimuli fisik dan pesan-pesan non-verbal.

Dalam proses interaksi, komunikasi non-verbal menjalankan sejumlah fungsi penting, dua orang periset non-verbal mengidentifikasikan enam fungsi utama:

  1. Untuk menekankan beberapa bagian dari pesan verbal.
  2. Untuk melengkapi (complement) yang memperkuat sikap yang dikomunikasikan secara verbal.
  3. Untuk menunjukkan kontradiksi dengan pesan verbal.
  4. Untuk mengatur arus pesan verbal.
  5. Untuk mengulangi atau merumuskan ulang makna dari pesan verbal.
  6. Untuk menggantikan pesan verbal.

Setiap orang mempunyai gaya tersendiri dalam mengungkapkan ide dan gagasan, berbagi cerita, pengetahuan dan pengalaman. Saat berinteraksi dengan orang lain, seringkali tanpa sadar melakukan adaptasi gaya komunikasi seiring dengan perubahan yang terjadi dalam konteks pembicaraan, topik yang dibicarakan, dan terutama juga sangat ditentukan oleh faktor dengan siapa kita berinteraksi.

Konsistensi dan akumulasi dari perubahan dan kombinasi gaya komunikasi yang digunakan dari waktu ke waktu inilah yang akan menimbulkan kesan (communicator image) mengenai diri di mata orang lain. Seseorang akan dinilai sebagai orang yang dominan, misalnya, jika dalam setiap kesempatan selalu mendominasi percakapan; ingin selalu didengarkan; dan tidak memahami pentingnya untuk bertukar peran sebagai komunikator dan komunikan saat bercakap-cakap dengan orang lain. Mungkin juga orang lain akan mempunyai kesan bahwa seseorang adalah komunikator yang ekspresif dan atau dramatis jika dalam hampir setiap interaksi dengan orang lain selalu bercerita dengan penuh semangat, melibatkan banyak ekspresi dan bahasa non-verbal secara frekuentatif seperti menggunakan ekspresi wajah, kontak mata, dan gesture.

Dalam interaksi dan komunikasi di kehidupan sehari-hari, agar dapat memahami dan dipahami oleh orang lain atau untuk menimbulkan kesan tertentu, seseorang secara sadar atau tidak selalu berusaha mengubah gaya komunikasi. Proses adaptasi ini sedikit banyak akhirnya mempengaruhi proses penyusunan dan penyampaian pesan kepada orang yang diajak berkomunikasi.

Abdillah Hanafi. 1984. Memahami Komunikasi Antar Manusia. Ed. 1., Cet. 3. Surabaya: Usaha Nasional.

Cangara Hafied. 2002. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Devito, Joseph A. 1997. Komunikasi Antar Manusia. Ed. Ke-5. Ir. Agus Mulyana MSM, translator, Jakarta: Professional books.

E. Koeswara. 1991. Teori-Teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco.

Jalaluddin Rakhmat. 2001. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Monks, F.J., A.M.P. Knoers dan Siti Rahayu Haditono. 1998. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Norton, Robert. 1983. Communicator Style: Theory, Applications and Measures. California: Sage Publications.

Tubbs, Stewart L. dan Sylvia Moss. 2000. Human Communication Prinsip Prinsip Dasar. Dr. Deddy Mulyana, M.A., editor, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Iklan