Gugatan Representative Atau Class Action

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pelaksanakan konsep negara kesejahteraan, salah satunya perlindungan bagi warga negara baik sebagai individu maupun sebagai kelompok merupakan sisi yang penting, karena tanpa ada perlindungan yang menimbulkan rasa aman bagi rakyat tidak mungkin tercapai suatu kesejahteraan bagi masyarakat.

Perlindungan bagi masyarakat ini berdimensi banyak, salah satunya adalah perlindungan hukum. Apabila dikaitkan dengan keseluruhan individu dalam masyarakat yang secara sendiri sebagai konsumen, perlindungan konsumen merupakan bagian dari pembangunan secara keseluruhan. Dengan demikian merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat dihindarkan bagi negara untuk selalu berupaya memberikan perlindungan kepada konsumen.

Sengketa hukum pada masyarakat yang sering terjadi adalah tuntutan hak yang dikemukakan oleh masyarakat karena merasa dirugikan oleh suatu pihak atau kebijakan pemerintahan. Dalam kaitan ini, setidak-tidaknya ada tiga masalah yang sering menjadi bahan diskusi yaitu: Pertama, masalah prinsip ganti rugi yang di dalamnya mencakup sistem pembuktian; Kedua, masalah lembaga tempat penyelesaian sengketa, termasuk didalamnya peranan lembaga-lembaga di luar pengadilan; Ketiga, cara mengajukan tuntutan hak (gugatan) apakah harus selalu individual atau boleh berkelompok (class/representative action).

Mengajukan tuntutan hak secara kelompok ini memang sudah banyak disuarakan, namun sampai saat ini masih sering mendapat kendala pada mekanisme di pengadilan.

Ada dua sistem hukum yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan hukum di dunia yaitu Anglo Sakson dan Eropa Kontinental. Kedua sistem hukum tersebut secara teoritis mempunyai perbedaan ekstrim dalam pertumbuhannya. Sistem Eropa Kontinental kedudukan hakim tidak berperanan strategis dalam membuat atau menciptakan hukum, sedangkan dalam sistem hukum Anglo Sakson hakim sangat berperan dalam menciptakan hukum (doktrin precedent), suatu yurispridensi putusan pengadilan harus diikuti dalam memutus suatu perkara selanjutnya.

Begitu juga dengan class action secara nyata lebih berkembang di negara-negara yang menggunakan sistem hukum Anglo Sakson yang dimulai sejak tahun 1954. Dalam sistem hukum Inggris tujuan dan kegunaan representative action lebih ditekankan pada adanya kesamaan kepentingan yang sejenis dari tergugat yang berjumlah banyak. Padahal apabila diperhatikan sistem writ, pengajuan tuntutan hak dalam pengadilan Inggris sedikit kaku.

Namun dalam perkembangan di Amerika Serikat, class action tidak semata-mata melalui putusan pengadilan tetapi juga ditunjang oleh pembentukan undang-undang (Act) yang lebih mempercepat berlakunya tuntutan demikian.

“a class action provides a mean by which, where a large group of persons are interested in a matter, one or more may sue or be sued as representatives of the class without needing to join every member of the class.

There are general requirements for the maintanance of any class suit. These are that the persons constituting the class must be numerous that it is impractable to bring them all before the court, and the named representatives must be such as will fairly insure the adequate representaton of them all.

In must be an ascertainable clas and there must be a well defined conununity of interest in the questions of law and fact involved affecting the parties to be represented.”

Sebelum ada revisi pada civil Procedure Rule 23 tahun 1966, ada tiga kategori Class action yang dikenal dengan true, hybrid dan spurious. Pada masa sekarang hanya ada dua kategori yaitu hybrid dan spurious Class action.

Suatu class action adalah suatu cara yang diberikan kepada sekelompok orang yang mempunyai kepentingan dalam suatu masalah, baik seorang atau lebih anggotanya menggugat atau digugat sebagai perwakilan kelompok tanpa harus turut serta dari setiap anggota kelompok.

Persyaratan umum yang perlu ada mencakup banyak orangnya, tuntutan kelompok lebih praktis, dan perwakilannya harus jujur dan adequate (layak). Dapat diterima oleh kelompok dan mempunyai kepentingan hukum serta fakta dari pihak yang diwakili.

Dari pengertian tersebut disimpulkan bahwa class action dapat diartikan adanya gugatan yang mencakup kepentingan orang banyak yang mempunyai kesamaan kepentingan dan diharapkan lebih praktis dari pada gugatan individual, dan tidak perlu setiap orang, turut serta dalam proses gugatan.

Ahli lain memberikan pengertian tentang Class action sebagai “beberapa orang yang merasa dirugikan oleh suatu produk menuntut ganti rugi di pengadilan bukan untuk diri mereka sendiri akan tetapi juga untuk semua orang yang telah mengalami kerugian yang sama”. Kesulitan dari acara ini adalah: Pertama, sulit menentukan orang yang merasa dirugikan. kedua, kalau gugatan diterima, pengadilan harus membuka daftar tempat orang yang merasa dirugikan oleh hal yang sama mendaftarkan diri. Ketiga, memakan waktu lama dan biaya mahal.

Selain itu, ada juga yang memberikan pengertian bahwa Class action hanya sebagai suatu metode bagi orang perorangan yang mempunyai tuntutan yang sejenis untuk bergabung bersama mengajukan tuntutan agar lebih efisien. Dan, seseorang yang akan turut serta dalam Class action harus memberikan persetujuan kepada perwakilan. Untuk Class action ini keterlibatan pengadilan sangat besar karena setiap perwakilan untuk dapat maju kepengadilan harus mendapat persetujuan dari pengadilan dengan memperhatikan:

  1. Class action merupakan tindakan yang paling baik untuk mengajukan gugatan,
  2. Mempunyai kesamaan tipe tuntutan yang sama,
  3. Penggugatnya sangat banyak,
  4. Perwakilan layak/patut.

Menurut US Federal Rule Of Civil Procedure, persyaratan untuk mengajukan Class action meliputi alasan sebagai berikut:

  1. Numerosity, yaitu adanya jumlah orang yang cukup banyak, sehingga sedemikian banyaknya akan menjadi tidak efisien dan tidak praktis atau tidak ekonomis dan tidak ada persamaan hukum kalau gugatan tersebut diajukan secara individual oleh masing-masing penggugat.
  2. Commonality, yaitu kesamaan dalam arti bahwa harus ada kesamaan fakta maupun kesamaan hukum (question of law) antara pihak yang mewakili dan diwakili.
  3. Typicality, yaitu bahwa tuntutan yang diajukan oleh penggugat maupun pembelan dari seluruh anggota yang diwakili dalam masyarakat itu haruslah sejenis.
  4. Adequacy of Representatition, yaitu kelayakan perwakilan, artinya kewajiban class yang mewakili untuk menjamin secara jujur dan adil serta mampu melindungi kepentingan mereka yang diwakilkan.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk berjalannya proses Class action cukup berat yaitu tuntutan anggota kelompok itu hanya dapat digabung kalau mereka secara bersama mempunyai kepentingan dalam satu hak. Kelompoknya harus jelas dan terlalu besar untuk ditangani dalam perkara gabungan biasa. Masalah-masalah hukumnya harus merupakan masalah buat setiap anggota kelompok. Wakil yang mengajukan perkara harus dibuktikan cukup mampu mewakili kepentingan anggota-anggota kelompok. Harus dibuktikan bahwa upaya berkelompok merupakan upaya yang lebih baik daripada cara-cara lain dalam menyelesaikan persoalan. Wakil kelompok harus memberitahu setiap anggota kelompok secara Tujuan dan kegunaan class action secara mendasar dapat dilihat dari segi: efisiensi perkara, proses berperkara yang ekonomis, menghindari putusan yang berulang-ulang yang dapat berisiko adanya putusan inkonsistensi dalam perkara yang sama.

Dengan class action akan memberi kemudahan bagi masyarakat karena gugatan seorang penggugat akan dapat diterima sebagai Class action bagi pihak lain yang merasa mendapat kerugian yang sama dan sejenis. Artinya, tidak perlu setiap orang yang dirugikan ikut menuntut, tetapi dapat dilakukan atas nama seluruh konsumen yang mendapat kerugian yang sama.

Hal lain yang sering menjadi kondisi dalam melakukan class action ini adalah selalu menggunakan jasa pengacara dan biasanya memang fee antara 15% hingga 49% dari tuntutan.

Dari uraian disimpulkan beberapa kriteria untuk menentukan suatu perkara dapat tidaknya menjadi suatu class action yaitu:

  1. Orang yang terlibat sangat banyak, dengan kelompok yang jelas.
  2. Adanya kesamaan tuntutan dari suatu fakta dan hukum yang lama dan sejenis.
  3. Tidak memerlukan kehadiran setiap orang yang dirugikan upaya Class action lebih baik dari pada gugatan individual Perwakilan harus jujur, layak dan dapat melindungi kepentingan orang yang diwakili.
  4. Disahkan oleh pengadilan.

Filosofi class action adalah untuk efisiensi, mempercepat proses dan konsistensi putusan. Namun dalam pelaksanaan, terdapat beberapa kesulitan, salah satunya karena perwakilan harus disetujui pengadilan dan melibatkan orang banyak, sehingga memerlukan biaya banyak.

Apeldoorn, Van. Inleiding Tot De Srudie Van Het Nederlanche Redit, Terjemahan Oetaried Sadino. Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, 1976.

Frick, William G & Lydia N Wegman. Air Polition Control, dalam Enviromental Law Hand Book, Goverment Institutes Inc, 1985.

Gregory Churchil, Pranata-pranata Perlindungan Konsumen di Amerika Serikat, Jakarta 1980

Kiralfy A.K.R., The English legal System, Sweet & Maxwell, London, 1973.

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1982.

Tahir, Toto, Kemungkinan Gugatan Class Action dalam Upaya Perlindungan Hukum Pada Era Pasar Bebas: Hukum Perlindungan Konsumen, Mandar Maju, Bandung, 2000.

Iklan