Ibrahim Datoek Tan Malaka Selalu Dikejar-kejar oleh Polisi Rahasia Perancis, Amerika Serikat, China, dan Belanda

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sejarawan Universitas Leiden, Harry A Poeze, yang juga Direktur Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde Leiden, dalam diskusi di Megawati Institute, Jakarta, Kamis 20 Agustus 2009, mengatakan bahwa Ibrahim Datoek Tan Malaka atau dikenal dengan nama Tan Malaka hadir mendampingi Soekarno pada saat rapat akbar di Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta), 19 September 1945. Kehadirannya diperkuat pula dengan keterangan Bung Hatta yang membenarkan kehadiran Tan Malaka tersebut.

Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta menjelaskan, Tan Malaka termasuk salah satu tokoh yang menjadi sumber inspirasi bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, selain Soekarno. Fakta baru yang ditemukan Harry ini merupakan penemuan baru akan keterlibatan Tan Malaka pada masa-masa proklamasi.

Penelitian yang cukup lama dilakukan oleh Harry juga untuk mengungkap kematian Tan Malaka. Berdasarkan penelitian Harry, Tan Malaka meninggal di Desa Selopanggung, di kaki Gunung Wilis, sekitar 20 kilometer dari Kediri, Jawa Timur. Tan Malaka ditembak mati di sana. Masa lalu Tan Malaka yang selalu dikejar-kejar oleh Perancis, Amerika Serikat, China, dan Belanda membuat Tan Malaka menjadi sosok yang sangat hati-hati. Ia selalu hidup berpindah-pindah. Akibatnya, kata Harry, Tan Malaka disebut sebagai pribadi yang terlambat beraksi dan tidak memakai kesempatan yang baik. Semua ini, kata Harry, karena selama lebih dari 20 tahun ia selalu diburu polisi rahasia dari beberapa negara.

Direktur Eksekutif Megawati Institute, Arif Budimanta menjelaskan, Tan Malaka termasuk salah satu tokoh yang menjadi sumber inspirasi bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, selain Soekarno. Fakta baru yang ditemukan Harry ini merupakan penemuan baru akan keterlibatan Tan Malaka pada masa-masa proklamasi (Kompas, Tan Malaka Hadir di Lapangan Ikada, Jumat 21 Agustus 2009)

Iklan