Industri Penerbangan Dunia Diprediksi Rugi US$9 Miliar Pada Tahun 2009

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) memprediksi kerugian industri penerbangan global pada tahun 2009 sebesar US$9 miliar. Menurut Chief Executive Officer IATA Giovanni Bisignani, kerugian ini naik dua kali lipat dari perkiraan semula. Sebelumnya, organisasi tersebut memprediksi kerugian global hanya sebesar US$4,7 miliar. Tapi, akibat krisis, nilai kerugian itu melonjak tajam. Kerugian dramatis ini merupakan yang terburuk sepanjang sejarah penerbangan dunia. Perkiraan tersebut hampir dua kali lipat dari perkiraan yang dibuat pada tiga bulan yang lalu.

Proyeksi kerugian pada tahun 2008 juga direvisi, dari semula US$8,5 miliar menjadi US$10,4 miliar. Kondisi ini salah satu yang terberat setelah peristiwa 11 September 2001. Peristiwa tersebut menyebabkan pendapatan industri penerbangan turun hingga 7 persen dan membutuhkan waktu tiga tahun untuk pulih ke kondisi semula. Kini krisis keuangan global kembali menghantam industri penerbangan sehingga pendapatan industri ini secara bertahap berkurang hingga US$80 miliar.

Pendapatan industri penerbangan global pada tahun 2008 diperkirakan mencapai US$528 miliar dan pada tahun 2009 diperkirakan turun menjadi US$448 miliar. Pendapatan turun karena anjloknya jumlah penumpang hingga 8 persen dan bisnis kargo hingga 17 persen. Perusahaan penerbangan di seluruh kawasan diperkirakan akan melaporkan kerugian pada sepanjang tahun 2009. Kerugian terbesar dialami oleh industri penerbangan di kawasan Asia-Pasifik yang merupakan tempat terbaik dalam bisnis penerbangan, diperkirakan mencapai US$3,3 miliar. Bahkan industri penerbangan di Timur Tengah, yang mengalami pertumbuhan paling signifikan, tidak luput dari krisis sehingga kerugian pada tahun 2009 diperkirakan US$ 1,5 miliar.

Apabila kerugian industri penerbangan untuk dua tahun, yakni 2008 dan 2009 dikombinasikan, angka kurang lebih US$20 miliar. Walaupun harga bahan bakar telah menurun tajam pada akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009, perusahaan penerbangan masih terpengaruh penurunan jumlah penumpang dan kargo ini seperti diderita pada saat resesi terburuk pada tahun 1930.

IATA meminta peran nyata pemerintah sebagai mitra usaha penerbangan, agar industri penerbangan yang menyerap banyak tenaga kerja bisa bertahan dan berkembang, kerja sama pemerintah dan industri menjadi kunci mengatasi situasi ini. Selain itu agar pajak di bandar udara yang terlalu tinggi dikurangi dan menghindari penyalahgunaan praktek monopoli.

Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar mengatakan potensi kerugian industri penerbangan Indonesia tidak terlampau besar karena tertolong besarnya jumlah penumpang. Sampai akhir tahun 2009, jumlah penumpang pesawat diperkirakan 40 juta orang. Namun, untuk menyelamatkan industri penerbangan dari kerugian yang lebih besar, semua industri pendukung harus bersinergi melakukan efisiensi biaya. (Sumber: Koran Tempo dan Kompas, Selasa 9 Juni 2009).

Iklan