Industri Perhotelan Hadapi Dilema Pengamanan Tentang Ancaman Terorisme

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Industri perhotelan menghadapi dilema antara menangkal kejahatan, seperti terorisme, semaksimal mungkin dan menjaga kenyamanan tamu. Penerapan sistem pengamanan ketat dikhawatirkan pihak hotel akan mengurangi kenyamanan tamu. Konsultan keamanan yang juga Ketua Harian Asosiasi Bidang Usaha Jasa Pengamanan Indonesia (Abujapi), Toto Trihamtoro, mengungkapkan hal itu seusai menghadiri diskusi mengenai sistem pengamanan hotel-hotel terkait dengan peristiwa peledakan bom di Hotel JVV Marriott dan The Ritz-Carlton, Kamis 30 Juli 2009, di Grand Tropic Hotel.

Pengamanan di hotel-hotel selama ini, sekalipun hampir 10 tahun serangan teroris di Indonesia, masih bertumpu pada pengamanan rutin. Padahal, model pengamanan seperti ini berbahaya karena mudah dibaca polanya oleh jaringan teroris. Dari model pengamanan yang dilakukan di hotel-hotel selama ini tecermin tujuannya hanya sekadar meningkatkan rasa aman pengunjung, jadi bukan menangkal kejahatan.

Dua tujuan yang berbeda ini menghasilkan model pengamanan yang beda. Berlainan dengan model pengamanan rutin yang memeriksa satu per satu setiap pengunjung, antisipasi serangan teror sebenarnya dapat dilakukan dengan disiplin pengawasan secara acak dan penguasaan metode profiling yang dikembangkan di negara Barat. Metode itu lebih mengutamakan peningkatan sensitivitas petugas keamanan dalam mengamati perilaku orang, baik tamu atau karyawan hotel. Dengan demikian, perilaku atau obyek yang mencurigakan sekecil apa pun segera terdeteksi. Penggunaan sebanyak apa pun CCTV akan percuma tanpa kemampuan profiling tersebut.

Kemampuan profiling itu juga harus dimiliki oleh, misalnya, petugas di meja resepsionis. Petugas resepsionis biasakan berkontak mata dengan tamu dan tak ragu banyak bertanya jika ada tamu yang di luar kebiasaan saat booking. Untuk merencanakan serangan terhadap JW Marriott dan Ritz-Carlton, diperlukan waktu berbulan-bulan. Bahkan, teroris berlatih di hotel yang menjadi sasaran dengan menjadi tamu sampai merekrut orang dalam. Teroris setidaknya melakukan empat langkah, yakni pengumpulan informasi soal target, pengamatan, geladi resik (tanpa ledakan), baru kemudian eksekusi ledakan (Kompas, Perhotelan Hadapi Dilema Soal Pengamanan, Jumat 31 Juli 2009)

Iklan