Inovasi CV Bayu Pratama Geluti Buah Naga Menjadi Sirup Dragon Fruit

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Selain rasanya segar, juga kandungan khasiat herbal untuk kesehatan
+ Mengolah menjadi sirup agar konsumen bisa mengonsumsi dengan lebih praktis
+ Untuk bahan baku, membudidayakan buah naga sendiri di lahan 10 hektare
+ Dikemas dalam botol kaca dan aluminium foil isi 650 ml
+ Sebulan produksi 35.000 botol dengan omzet Rp525 juta dan margin laba 40%.

(kesimpulan) Berbagai macam buah lazim diolah menjadi sirup. Salah satunya sirup hasil olahan buah naga. Selain rasanya yang segar, sirup ini mengandung khasiat yang bagus untuk kesehatan tubuh. Karenanya, produk ini mulai banyak peminatnya. Omzet dan margin keuntungan dari bisnis ini pun sangat menggoda. Sejak tahun 2007, banyak wirausahawan yang meminati bisnis sirup buah naga. Salah satu produsen sirup buah naga ini adalah Agung Budi Prasetyo. Pemilik CV Bayu Pratama yang berkantor di Yogyakarta ini tertarik karena buah yang konon berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah ini mengandung khasiat bisa mengatasi berbagai penyakit.

Tri Wisnu, Manajer Marketing CV Bayu Pratama, mengatakan bahwa kebetulan sebagai produsen produk herbal, dari yang dipelajari, buah ini mengandung zat yang berkhasiat bagi penderita asam urat, darah tinggi, termasuk diabetes. Mengolah menjadi sirup, konsumen bisa mengonsumsinya dengan lebih praktis. Bayu Pratama memproduksi dua macam, yaitu sirup buah naga merah dan buah naga putih. Merek yang dipakai adalah Dragon Fruit.

Cara pembuatannya, sirup buah naga merah dicampur sari buah anggur blackcurrent, sehingga warrna akhirnya merah. Sementara sirup buah naga putih dicampur dengan sari buah pepino agar hasil akhirnya berwarna hijau. Keduanya memiliki rasa manis sekaligus asam. Juga memasukkan gula jagung dan sedikit pemanis dalam pembuatan sirup ini. Tentunya, ada proses khusus untuk membuat sirup ini. Secara umum, proses tersebut diawali dengan pemisahan daging buah naga dari bijinya dan kemudian diperas. Sari buah ini kemudian dimasak hingga tersisa sepertiganya, lalu diambil ekstraknya.

Tekstur sirup ini lebih cair dari sirup kebanyakan, karena memapakai gula jagung, sehingga tidak mengental seperti penggunaan gula biasa. Masa kadaluarsa sirup ini satu tahun. Bayu Pratama memproduksi kedua jenis sirup itu sejak tahun 2007. Sejauh ini yang lebih banyak diminati konsumen adalah sirup buah naga merah.

Untuk memperoleh bahan baku, Bayu Pratama membudidayakan buah naga sendiri di lahan 10 hektare. Juga bekerjasama dengan petani di Wonosari, Magelang dan Kulonprogo untuk menjamin bahan baku. Sirup buah naga dikemas dalam botol kaca ukuran isi 650 mililiter (ml). Harga jualnya Rp20.000-Rp23.000 per botol di tingkat distributor. Harga di konsumen akhir sekitar Rp25.000-Rp40.000 per botol, tergantung daerahnya. Bayu Pratama menjual kedua produknya dengan harga yang sama, meski di pasar harga sirup buah naga merah lebih tinggi. Alasannya, mengambil bahan baku dari kebun sendiri.

Selain di wilayah Jawa dan Jakarta, sirup Dragon Fruit juga tersebar di Lampung dan Makassar. Agar botol tidak mudah pecah, untuk ke luar Jawa, sirup dikemas dalam aluminium foil isi 650 ml. Harganya lebih tinggi 10% dibanding kemasan botol. Produksi sirup ini berlangsung setiap minggu. Sekali pembuatan, Bayu Pratama bisa menghasilkan 10.000 botol. Dalam sebulan, setidaknya mereka bisa memproduksi 35.000 botol. Sekitar 75% dari produksi laku terjual sehingga Bayu Pratama bisa meraup omzet Rp525 juta sebulan, dengan margin laba sekitar 40%.

Sirup buah naga akan kian diminati. Sebab, kandungan buah ini bagus untuk kesehatan sehingga bisa dikonsumsi semua orang. Selain itu, peluang pemasaran di dalam negeri masih terbuka luas. Bahkan, ada tawaran ekspor dari Malaysia, namun karena tidak bisa memakai pesawat, Bayu Pratama masih negosiasi untuk pengiriman lewat laut (Kontan, Laba Segar Dari Bisnis Sirup Dragon Fruit, Kamis 6 Agustus 2009)



Iklan