Jambore Mangrove Internasional (JMI) I di Semarang Disambut Tingkat Kerusakan 96,95 persen Habitat Bakau di Jawa Tengah

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sebanyak 96,95 persen hutan bakau atau mangrove di kawasan pantai utara Jawa Tengah rusak. Penyebabnya adalah alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, permukiman, industri, dan pengembangan pariwisata. Oleh karena itu, segenap pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, perlu segera secara terpadu menanam mangrove.

Berbagai upaya diseminasi pentingnya mangrove dan penanaman sebetulnya telah dilakukan, tetapi belum berhasil sepenuhnya mengatasi kerusakan pantai. Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT) Fakultas Perikanan dan IImu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro, Sabtu dan Minggu 26 Juli 2009, menyelenggarakan Seminar Mangrove di Kampus FPIK di tepi Pantai Teluk Awur, Jepara. Setelah seminar, mereka menanam mangrove di Teluk Awur.

Bahkan, sebanyak 60.000 bibit mangrove akan ditanam dalam Jambore Mangrove Internasional (JMI) I di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, pada 1-2 Agustus 2009. Rencananya, lokasi ini akan dijadikan salah satu pusat observasi mangrove di Jateng. Sekretaris Panitia JMI I Ismi Novia mengatakan, Penanaman tersebut akan melibatkan lebih dari 300 relawan yang antara lain berasal dari Indonesia, Jerman, Spanyol, Jepang, dan Perancis.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Tegal, Warnadi menilai, penanganan terhadap kerusakan mangrove di pesisir pantai utara harus dilakukan secara terpadu. Selama ini, penanganan cenderung secara sektoral, sehingga tidak menyelesaikan persoalan. Selain itu, penanganan masih bersifat proyek dan belum menyentuh pada persoalan.

Menurut Koordinator KeSEMaT Arief Marsudi Harjo, penyebab kegagalan penanaman hingga penyelamatan mangrove adalah “meledaknya” budidaya udang di era 1980-an hingga menjelang akhir 1990. Hal itu mengakibatkan pembabatan hutan mangrove hingga penguasaan secara ilegal kawasan pantai.

Satu udang satu pohon

KeSEMaT sendiri telah menanam mangrove sejak 2003 dengan tingkat kematian di bawah 10 per sen sehingga luas tanaman sampai saat ini mencapai 2 hektar sebagai uji coba. Setelah itu akan melebar ke seputar desa pantai. Pemkab Jepara setiap tahun juga membantu kegiatan Rp4 juta. Selain itu KeSEMaT pada akhir Februari 2009 juga menggulirkan program atau gerakan penyelamatan mangrove dengan jargon “Ingatlah setiap satu ekor udang yang kita makan, bisa satu batang pohon mangrove lebih dikorbankan”.

Kepala Dinas Kehutanan Jateng Sri Puryono mengatakan, penanaman bibit mangrove pada kegiatan JMI tersebut hendaknya tidak sekadar seremoni semata, tetapi terdapat pemeliharaan berkelanjutan dari mangrove yang ditanam. Jika tidak dirawat, maka akan sia-sia saja. Diperlukan keterlibatan masyarakat lokal untuk menjaganya. Agar mangrove tetap dilestarikan, kepentingan masyarakat lokal perlu diutamakan. Pemerintah kabupaten/kota dan swasta harus memerhatikan aspek sosial ekonomi, yaitu mendorong masyarakat untuk memiliki usaha ekonomi produktif.

Pesisir Jateng Perlu Segera Dihijaukan

Wilayah pesisir Jawa Tengah memiliki nilai jual ekonomi yang relatif tinggi. Satu indikasinya terlihat dari banyaknya potensi obyek wisata bahari yang dimiliki beberapa daerah di wilayah pantura dan pantai selatan. Namun, belum semua potensi itu tergarap dengan baik karena masih terkendalanya pengelolaan oleh pihak pemerintah daerah atau swasta setempat.

Beberapa kendala yang sulit ditangani adalah kerusakan alam yang ditimbulkan oleh perilaku negatif manusia seperti perusakan hutan bakau dan terumbu karang. Biasanya, tindakan ini dilakukan karena motif ekonomi, seperti pembukaan lahan untuk tambak ikan dan pertanian yang efeknya berupa penggundulan hutan bakau. Hal serupa juga terjadi pada kerusakan terumbu karang karena beberapa nelayan menggunakan cara tidak benar seperti penggunaan dinamit yang merusak lingkungan.

Tindakan tersebut menimbulkan efek yang sangat merugikan bagi alam, salah satunya berupa pengikisan garis pantai (abrasi). Terjangan ombak laut tanpa adanya peredam seperti mangrove dan terumbu karang menyebabkan pantai menjadi keruh dan tidak indah. Selain itu, air laut akan mudah meresap ke daratan, pencemaran atau sampah akan meningkat, dan lahan pertanian beserta tambak rawan tergenang air laut.

Hingga 2009, dari panjang garis pantai di daerah pesisir Jateng sejauh 690,95 kilometer, sekitar 16 persen telah mengalami abrasi seluas 5.600 hektar. Angka ini belum termasuk kerusakan lainnya seperti akresi 705,56 hektar, kerusakan terumbu karang sekitar 4.000 hektar, dan lahan bekas galian tambang sekitar 400 hektar. Kondisi ini perlu penanganan segera, salah satunya berupa penghijauan garis pantai sekitar 330 kilometer (Kompas Edisi Jawa Tengah, Selamatkan Pantai Jateng Segera, Senin 27 Juli 2009).

Iklan