Jaringan Teroris di Indonesia Diindikasi Didanai Dari Luar

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Peledakan bom secara paralel di dua hotel, JW Marriott dan Ritz-Carlton, disinyalir didanai jaringan internasional Al Qaeda. Kedatangan beberapa orang dari Pakistan dan suatu negara di kawasan Timur Tengah sebelum peledakan juga disinyalir terkait rencana peledakan bom.

Jamaah Islamiyah Dan Jaringan Internasional Al Qaeda

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Direktorat Imigrasi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, Barimbing Maroloan mengatakan bahwa tren arus imigran dari timur tengah ada peningkatan, terutama asal Pakistan dan Afganistan berlangsung sejak akhir 2008 hingga semester pertama 2009. Mereka masuk melalui beberapa wilayah Riau, Ambon, dan Cilegon. Berdasarkan data Ditjen Imigrasi per Juni 2009, terdapat 1.400 imigran yang masih berada di Indonesia (1).

Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai mengatakan, fakta-fakta obyektif temuan di lapangan dan rekam jejak serangan teroris, menunjukkan indikasi jaringan di luar negeri. Merujuk fakta persidangan terorisme bom Bali I dan JW Marriott 2003, intelijen Pakistan menangkap Gun Gun Busman Gunawan (adik Hambali) dan lima pelajar WNI di Pakistan. Gun Gun berperan mengorganisasi dana dari Pakistan, yakni dari tokoh Al Qaeda, Khalid Sheikh Mohammad, melalui keponakannya, Ammar Al-Baluchi (1).

Dari Pakistan, dana dibawa ke Thailand, Malaysia, lalu ke Dumai (Riau), lalu digunakan untuk pengeboman Marriott 2003. Ada indikasi keterlibatan Al Qaeda dengan tersangka terorisme yang ditangkap di Cilacap, Jawa Tengah, Juni 2009 yaitu Saefudin Zuhri, rekanan dan pelindung Noordin M Top, yang masih diburu. Terlebih bahan peledak dalam penangkapan di Cilacap serupa dengan bahan peledak yang digunakan pada peledakan Marriott-Ritz Carlton (1).

Peneliti Terorisme, Al Chaidar, mengatakan bahwa pengeboman Hotel JW Marriott ialah Nur Hasbi, teman Asmar Latin Sani dari Jamaah Islamiyah, sedangkan pelaku pengeboman Hotel Ritz-Carlton mungkin antara Sabit dan Sukarso. Serangan kelompok ini mengarah ke target yang sama dan itu biasanya sudah menjadi tradisi dan ciri khas mereka. Hotel JW Marriott di Islamabad, juga diserang dua kali dan JW Marriott Jakarta dua kali. Mereka lebih suka mengebom daerah dengan pengamanan sangat ketat (2).

Pengamat Intelijen, Wawan Purwanto menyatakan bahwa tes DNA bisa dipakai untuk mencocokkan identitas pelaku dengan keluarganya. Dan darah bisa tampak karena ada faktor genetik. Pihak kedokteran forensik sebelumnya sudah pernah melakukan hal seperti ini, yakni pada saat terjadi ledakan bom di Kedubes Australia. Ternyata identitas cocok dengan keluarganya. Hasil tes DNA bisa memberi clue sejauhmana keterlibatannya. Hasil tes DNA menunjukkan ke arah yang bisa dipertanggungjawabkan (2).

Struktur Jaringan Kelompok Jamaah Islamiyah (JI)

Direktur International Crisis Group, Sidney Jones, mengatakan pelaku pengeboman Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton mungkin anggota kelompok Noordin M Top. Kalau benar polisi mengatakan kemungkinan bom bunuh, ini menuju kelompok lama di sekitar Noordin M Top. Aksi kelompok Noordin ini dapat dilihat dari pola yang digunakan saat pengeboman. Polanya dengan bom bunuh diri dengan target hotel. Kelompok Noordin tidak termasuk Jamaah Islamiyah (JI). Noordin telah membuat kelompok sempalan baru di luar JI (2).

Jika disebut sebagai organisasi, mungkin Jamaah Islamiyah (JI) sudah nyaris habis. Sebab, banyak tokohnya yang ditangkap. Namun, pecahannya diduga kuat masih ada. Ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton Jumat 17 Juli 2009, bisa jadi merupakan bukti eksistensi pecahan Jamaah Islamiyah. Seorang perwira di lingkungan Densus 88 Antiteror pernah mengatakan sudah memantau sekitar 30 orang yang diyakini sebagai “calon teroris”.

Kasus penangkapan di Palembang November 2008, Densus 88 menangkap Abdurrahman Taib, Sugiarto, dan tiga orang lainnya. Mereka adalah “teroris baru”, yakni baru saja direkrut dan diajari cara melakukan pengeboman. Sugiarto ternyata telah merangkai 20 bom “siap pakai”. Sugiarto hafal di luar kepala soal penggunaan dan pencampuran bahan kimia dan bagaimana memperlakukannya. Kini, sel-sel kecil bentukan Noordin dengan kemampuan merakit bom seperti itu diduga telah tersebar (3).

Kehadiran Jamaah Islamiyah bermula ketika sejumlah peserta kamp pelatihan Mujahidin di Afghanistan ingin mendirikan NII (negara Islam Indonesia), bersama Ustad Abdullah Sungkar, kemudian mendirikan Jamaah Islamiyah. Bermoto lqomatu Khilafah ‘Ala Nahji Nubuwah (Mendirikan khilafah yang sesuai dengan sunnah Rasul)”, kelompok Jamaah Islamiyah bergerak secara rahasia (3).

Para pelopornya adalah Ali Ghufron alias Muklas, Nasir Abbas, Imam Hambali, dan kemudian dibantu “adik kelas” seperti Ali Fauzi, Ali Imron, Mubarak, Kudamar alias Imam Samudera, Dulmatin, Abu Dujana, Umar Patek, dan sejumlah nama lain. Struktur operasionalnya menyesuaikan struktur di zaman pemerintahan Nabi Muhammad SAW, baik sistem maupun namanya. Yakni, mulai tingkatan terbawah: majmu’ah, tashkil, fashil, sariyyah, katibah, dan liwa’. Struktur seperti itu juga diadopsi oleh Brigade Izzudin Al Qassam, sayap militer Hamas (3).

Seiring dengan kembalinya para mujahidin tersebut di Indonesia, makin besar pula afiliasi sejumlah internal Jamaah Islamiyah ke Usamah Bin Ladin dan Al Qaedah.Afiliasi ini dilakukan faksi Ali Ghufron dan Imam Hambali. Kedua orang itu key person untuk masuk jaringan Al Qaedah. Bahkan, keduanya punya akses langsung ke Usamah (3).

Pada 1999, Imam Hambali mendapat desakan dari Al Qaedah untuk melakukan aksi serangan karena struktur kewilayahan sudah dirasakan cukup mapan (mempunyai tiga mantiqi atau wilayah dakwah) dan dana pasokan dari Al Qaedah sudah cukup banyak. Selain itu, Indonesia dianggap sebagai darulharbi, negara yang boleh diperangi. Ali Fauzi, alumnus Hudaibiyah yang juga adik kandung Amrozi, pelaku utama bom Bali mengatakan bahwa dalam pikiran Jamaah Islamiyah, saat ini adalah kondisi perang, sehingga dianggap sebagai alasan sebuah serangan (3).

Hasilnya, antara 2000-2002, Indonesia diguncang serangkaian pengeboman, mulai pengeboman Istiqal, pengeboman gereja di sejumlah kota, dan puncaknya adalah bom Bali I pada 12 Oktober 2002. Tim Cobra, satgas bom yang khusus dibentuk Mabes Polri untuk mengungkap kasus tersebut, berhasil mengungkap dan menahan sejumlah pentolan. Dari serangkaian nama yang ditahan diantaranya trio bom Bali yang dieksekusi mati pada November 2008, yakni Ali Ghufron alias Muklas, Amrozi, dan Imam Samudra. Sejumlah nama lain adalah Ali Imron dan Mubarak. Imam Hambali ditangkap pemerintah AS dan kini mendekam di Guantanamo Bay, penjara khusus untuk kasus terorisme. Serangkaian serangan bom terus berlanjut, seperti di bom JW Marriott I 2003, bom Bali II, dan Kedutaan Australia. Abu Dujana, kemudian bergabung menjadi anggota JI (3).

Selain itu, muncul nama Dr Azahari dan Noordin Mohd Top, dosen-mahasiswa UTM. Pemerintah Indonesia akan memberi hadiah Rp1 miliar bagi kepalanya. Azahari kemudian tertembak mati dalam sebuah penggerebekan bom yang diwarnai dengan ledakan bom di Batu, November 2005. Noordin nyaris tertangkap setelah Tedi (tangan kanan sekaligus lapis terakhir kurir sebelum Noordin) digerebek di Simpang Lima, Semarang (3).

Setelah itu, gelombang penangkapan terhadap sejumlah pentolan JI, di antaranya Abu Dujana dan Ustad Zarkasih alias Mbah, amir JI terakhir yang ditangkap di Sleman, Jogjakarta. Sementara itu, Dulmatin dan Umar Patek yang belum ditangkap. Dulmatin dikabarkan tewas di Moro, Filipina, dalam sebuah serangan tentara Filipina. Sebuah kabar yang tak pernah bisa dikonfirmasikan kebenarannya (3).

Namun, JI ternyata telah beranak dan bercucu, Noordin yang meneruskannya selama dalam pelarian. Noordin dipercaya telah merekrut dan membentuk majmu’ah-majmu’ah (sel-sel) kecil. Selain itu, sel-sel baru kelompok teroris tersebut menjadi fleksibel. Bahkan, keputusan melakukan serangan bom pun bisa dilakukan hanya dalam tingkat sel. Tak perlu koordinasi dengan Noordin atau sel lain (3).

Operasi Pelacakan

Ngruki kembali disebut-sebut menyusul terjadinya ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan. Nur Said alias Nur Hasbi, yang diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri adalah alumnus Ngruki. Meski sempat dibantah, sinyalemen itu kemarin dibenarkan oleh Direktur Pondok Pesantren Ngruki Wahyudin. Nur masuk 1988 dan lulus 1994 (4). Nur Said adalah satu angkatan dengan Asmar Latin Sani, yang tewas dalam peristiwa bom bunuh diri di JW Marriott pada Agustus 2003 (5).

Sidney Jones, Direktur International Crisis Group, menyebut Nur adalah “orang lama” dalam jaringan gembong teroris Noor Din M. Top. Hal senada diungkapkan oleh Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia Habib Abdurahman Assegaf, bahwa Nur direkrut oleh Noor Din di Semarang pada tahun 2005 (5).

Terungkapnya Nur sebagai alumnus Ngruki memperpanjang daftar alumnus pondok itu yang terkait dengan kasus teror bom. Selain Asmar Latin Sani, dalam pengeboman JW Marriott pada 2003, ada Syaifuddin Umar alias Abu Fida (di Ngruki 1990-1994, dipenjara 10 tahun) dan Toni Togar alias Indrawarman (di Ngruki 1987-1990, di penjara 12 tahun). Sedangkan dalam kasus bom Bali 2002, ada Mukhlas alias Ali Ghufron, yang dieksekusi mati pada November 2008 (5).

Di Media Centre di Bellagio Kuningan, Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan, polisi sedang menguji sampel DNA dua keluarga, yaitu keluarga Nur Sahid dan keluarga Ibrahim. Pasangan suami istri Muh Nasir-Tuminem (orangtua Nur Sahid) dibawa ke Polda Jateng dari tempat tinggalnya di Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jateng, Senin pagi 20 Juli 2009. Adik Nur Sahid, Udin Mas’ud, juga diperiksa. Pemeriksaan DNA juga dilakukan terhadap keluarga Ibrahim, penata bunga taman yang bekerja di Hotel JW Marriott sejak 2005. Ibrahim, warga Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, menghilang sejak 13 Juli 2009 dan hingga kini keberadaannya masih misterius (1).

Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Al Muaddib, Mahfudz, juga menolak anggapan pondok pesantren yang dipimpinnya di Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, itu sebagai sarang teroris. Dia juga mengaku tidak mengetahui hubungan Ketua Yayasan Dakwah Islam Al Muaddib, Bahrudin Latif, dengan jaringan teroris. Mahfudz menegaskan, pencarian Bahrudin oleh polisi bukan berarti Ponpes Al Muaddib merupakan sarang teroris (1).

Pembantu Direktur III Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Muhammad Sholeh Ibrahim, menolak dugaan keterlibatan pesantrennya atas kejadian pengeboman. Menurutnya, materi yang diajarkan di Ngruki tidak ada yang menyangkut doktrin jihad dan pengeboman. Sementara itu, Abubakar Ba’asyir, pendiri Pesantren Ngruki, menyatakan, bisa saja pelaku adalah oknum umat Islam yang memang ingin berjihad dengan mati-matian, termasuk dengan pengeboman (4).

Menurut Noor Huda Ismail, Direktur Eksekutif International Institute for Peace-Building, keterlibatan alumni Ngruki dalam aksi pengeboman, salah satunya, karena kedekatan emosional dan ideologi, karena memang ada social connection. Koneksi sosial itu berbentuk kedekatan individual, ikatan emosional, dan rasa saling kenal. Untuk memastikan bahwa Nur Said adalah pelaku bom di Marriott, hingga kemarin polisi masih membandingkan DNA (deoxyribonucleic acid) milik Nur dengan sampel DNA orang tuanya, Muh Nasir dan Tuminem, asal Temanggung, Jawa Tengah (5).

Pasca pengeboman di Mega Kuningan, semua wilayah di Indonesia, dalam status Siaga I (6). Polisi juga menggeledah wilayah basis mantan laskar Mujahidin Poso, Sulawesi Tengah. Kepala Polres Poso Ajun Komisaris Besar Adeni Mohan mengatakan razia bertujuan membatasi ruang gerak masuknya para pelaku teror yang ingin mengacaukan kembali Poso (7).

1. Kompas, Dana Diindikasi Dari Luar, Rabu 22 Juli 2009
2. Media Indonesia, Sempalan Jamaah Islamiyah di Balik Bom, Selasa 21 Juli 2009
3. Jawa Pos, Bikin Bom Seperti Bikin Mi Telur, Senin 20 Juli 2009
4. Koran Tempo, Di Ngruki Tak Ada Doktrin Jihad, Rabu 22 Juli 2009
5. Koran Tempo, Ngruki Akui Nur Said Alumnusnya, Rabu 22 Juli 2009.
6. Kompas Edisi Jawa Tengah, Semua Wilayah Jateng Dijaga, Rabu 22 Juli 2009.
7. Koran Tempo, Penata Bunga Ritz-Carlton Dicurigai, Rabu 22 Juli 2009

Iklan