Jenasah Pria Saat Penggerebegan Tim Densus 88 di Temanggung Tunggu Tes DNA Untuk Memastikan Noordin M Top

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pengepungan selama 18 jam oleh tim Densus 88 terhadap rumah Muh. Djahri di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, kemarin Sabtu 8 Agustus 2009 telah berakhir. Seorang pria di rumah tersebut yang diduga sebagai Noordin M. Top tewas setelah tubuhnya diberondong peluru. Dari sejumlah sumber, diperoleh beberapa alasan yang menguatkan dugaan bahwa pria yang tewas di rumah Djahri tersebut adalah Noordin. Di antaranya, berdasar pemantauan tim Densus 88 selama tiga bulan terakhir yang mengikuti jejak Noordin. Selain itu, Temanggung adalah salah satu daerah yang difavoritkan Noordin, selain Cilacap, Wonosobo, dan Semarang.

Namun, sumber lain justru meragukan bahwa jenazah tersebut adalah Noordin. Beberapa alasannya, antara lain; setelah dilihat secara fisik, pria yang tewas tertembak itu kurang pas dengan ciri-ciri fisik Noordin. Misalnya, pria yang tewas tersebut lebih pendek daripada tinggi Noordin. Jasad itu lebih pendek dari profil Noordin. Mengubah tampilan fisik bisa-bisa saja, tapi mengubah tinggi badan tampaknya hal yang mustahil. Berdasar data yang diperoleh polisi tentang Noordin, gembong teroris tersebut berkulit putih dan selalu mengenakan kemeja lengan panjang untuk menutupi penyakit kulit di sekujur tubuhnya yang menyerupai kudis. Ciri-ciri itu tidak ditemukan pada jasad yang ditemukan di rumah Djahri tersebut.

Selain itu, pola perlawanan pria di rumah Djahri tersebut bukan khas teroris sekaliber Noordin. Salah satu ciri utama yang tidak tampak dalam penangkapan adalah bom. Tidak ditemukan rompi bom bunuh diri yang menjadi “seragam” Noordin. Kalau itu Noordin, sungguh sangat mengherankan. Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri ketika memberikan keterangan pers pada 8 Agustus 2009, belum berani memastikan bahwa jasad di rumah Djahri itu adalah Noordin. Untuk memastikan, diperlukan langkah-langkah lanjutan. Di antaranya, tes DNA. Polisi, meyakini masih ada pelaku-pelaku teror selain Noordin. Beberapa di antaranya sudah diidentifikasi inisial UR, AJ, WR, dan ST.

Dalam pengepungan di Temanggung yang dimmlai sejak Jumat sore 7 Agustus 2009, jasad yang diduga sebagai Noordin tersebut ditemukan di kamar mandi. Sekitar pukul 08.30, pria yang terkepung sendirian itu sempat membalas tembakan dengan pistol. Setelah penyerbuan yang dihadiri langsung oleh Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri dan Kapolda Jateng Irjen Pol Alex Bambang Riatmodjo tersebut, petugas identifikasi langsung melakukan olah TKP. Polisi juga mengamankan satu karung besar barang-barang pria anggota komplotan teroris tersebut. Setelah olah TKP, jenazah tersebut dimasukkan dalam satu peti yang dibawa mobil kedokteran Polda Jawa Tengah. Jenazah itu langsung dikirim menggunakan pesawat dari Bandara Adi Sutjipto, Jogjakarta, menuju Jakarta.

Penggerebekan di rumah milik keluarga Muh. Djahri itu tergolong cukup lama. Dibutuhkan waktu lebih dari setengah hari untuk melumpuhkan gembong teroris tersebut. Dimulai pada Jumat 7 Agustus 2009 pukul 16.00, sekitar 200 personel Densus 88 Antiteror langsung mengepung rumah tersebut. Perimeter sekitar 1 km pun disterilkan dan lampu sorot berkekuatan 400 watt dikerahkan untuk menerangi. Setengah jam mengepung, polisi kemudian mulai menembaki rumah tersebut. Sepanjang malam hingga dini hari rentetan tembakan terus dilancarkan. Rentetan tembakan sepanjang malam tersebut ditambahi suara ledakan sekitar pukul 05.30. Diikuti tiga ledakan bom polisi yang ditambah rentetan tembakan. Pukul 09.45, empat anggota polisi yang menyerbu mendekat ke rumah. Yang dituju pertama adalah kamar mandi. Sebelumnya, tim sniper di atas bukit merasa yakin sejumlah tembakannya mengenai sosok yang terlihat di kamar mandi. Seorang anggota tim tersebut kemudian mengacungkan jempol tanda sasaran telah tewas. Pukul 09.55, police line mulai dipasang. Itu merupakan tanda bahwa rumah tersebut sudah sepenuhnya dikuasai polisi.

Selain Kapolri dan Kapolda Jawa Tengah, turut juga hadir di TKP yaitu Kombespol Tito Karnavian, Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji, Kabagintelkam Irjen Pol Sala Saaf, Deputi Bidang Operasi Polri Irjen Pol Silvanus Yulian Wenas, dan Kadiv Humas Irjen Pol Nanan Sukarna. Sasaran penangkapan berikutnya sebenarnya sudah diendus di Solo. Wilayah itu sebelumnya ditetapkan sebagai daerah operasi tim Densus 88, selain Jatiasih dan Temanggung. Menurut Kapolri, penyebab gagalnya operasi di Solo adalah cepatnya pemberitaan tentang operasi di Temanggung. Selain Solo, Densus 88 memiliki target di sebuah kota di Jawa Timur. “Yang dan Temanggung langsung ke sana. Istirahat di sana,” katanya.

Kepolisian tidak menyebutkan hasil operasi di Temanggung adalah Noordin M. Top. Pihaknya masih menunggu hasil tes DNA untuk memastikan bahwa yang bersangkutan adalah gembong teroris. Ssampel DNA juga akan diambil dari keluarga tersangka, sehingga secara yuridis formal bisa di pertanggungjawabkan. Saat penggerebekan tersebut tim Densus 88 menduga ada tiga pelaku di rumah di tengah persawahan itu. Ketiganya sudah diikuti dari Jatiasih, rumah yang menjadi safe house. Berdasar hasil interogasi terhadap Aris dan Hendra yang ditangkap di Kedu, pihaknya menduga yang di dalam rumah adalah Noordin M. Top. Itu berdasar atas foto-foto terbaru Noordin yang juga ditunjukkan kepada wartawan. Ternyata hanya seorang di rumah itu.

Keberhasilan Polri dalam melakukan operasi di Jatiasih dan Temanggung, tidak lepas dari pengembangan penyelidikan pasca peledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton. Ketika itu, pada malam setelah peledakan, polisi menyimpulkan bahwa aksi tersebut adalah bom bunuh diri. Pada 1 Agustus, tim sudah mengendus sebuah rumah kos di kawasan Mampang yang menjadi safe house. Dan rumah itulah, kamar 1808 Hotel Marriott dipesan. Selain itu, identitas tukang ojek yang sempat mengantar juga diketahui. Sebelum 1 Agustus, sudah diketahui dan diperiksa pengemudi taksi Blue Bird yang membawa dua pelaku. Dari safe house itulah, polisi berhasil mendapatkan dua pelaku peledakan born di Marriott dan Ritz Carlton, yaitu Danni Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana. Kemudian, pada 5 Agustus, Densus 88 mengungkap Amir Abdillah (Kapolda Metro Jaya menyebut Amir Ibrahim).

Penangkapan Amir yang pernah bekerja di Hotel Mulia itu seperti membuka jalan bagi Densus 88 untuk mengembangkan perburuan terhadap Noordin. Itu terbukti dengan penggerebekan rumah di kawasan Jatiasih, Bekasi. Sebelumnya, tim juga menangkap Yayan yang direkrut dan disiapkan untuk menjadi pelaku bom bunuh diri berikutnya. Di safe house Jatiasih itu Noordin sempat transit setelah peledakan Marriott dan Ritz-Carlton. Di rumah itu sudah siap kendaraan untuk aksi peledakan bom bunuh diri. Aksinya direncanakan dua minggu sejak 1 Agustus. Itu berdasar fakta yuridis tersangka Amir Abdillah yang memesan kamar 1808 Hotel JW Marriott. Bom mobil yang disiapkan menggunakan pikap merah itu, rencananya, dikemudikan Ibrahim, florist Ritz-Carlton. Akan ditabrakkan atau diledakkan dengan model bunuh diri. Terkait pemilihan lokasi safe house di Jatiasih, itu didasari alasan bahwa kawasan tersebut tidak jauh dari Cikeas, kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Waktu tempuhnya hanya sekitar 12 menit dalam kondisi tidak macet. Dari TKP menuju gerbang tol lingkar luar (JORR) hanya butuh waktu lima menit. Dari gerbang JORR itu menuju Cikeas memerlukan waktu sekitar 10 menit. Rencana serangan itu juga klop dengan informasi bahwa akan ada aksi bom mobil untuk SBY.

Mengapa kediaman presiden menjadi sasaran? Mantan Kapolda Sumut itu mengungkapkan, pada 30 April 2009, Noordin memimpin rapat jaringannya di daerah Kuningan, Jawa Barat. Saat itu ditetapkan bahwa SBY menjadi salah satu sasaran teror karena dianggap membuat keputusan atas eksekusi mati tiga terpidana bom Bali, Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra (Jawa Pos, Kapolri: Tunggu Tes DNA, Minggu 9 Agustus 2009)



Iklan