Jenis Perlindungan Tenaga Kerja Atau Arbeidscherming

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Secara Prinsipil, perlindungan tenaga kerja dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yaitu:

  1. Perlindungan ekonomis, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk penghasilan yang cukup, termasuk bila tenaga kerja tidak mampu bekerja di luar kehendaknya.
  2. Perlindungan sosial, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk jaminan kesehatan kerja, dan kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi.
  3. Perlindungan teknis, yaitu perlindungan tenaga kerja dalam bentuk keamanan dan keselamatan kerja.

Ketiga jenis perlindungan tersebut bersifat mutlak sehingga harus dipahami dan dilaksanakan sebaik-baiknya oleh pengusaha sebagai pemberi kerja. Jika pengusaha melakukan pelanggaran, maka dikenakan sanksi.

Berdasarkan objek perlindungan tenaga kerja Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur perlindungan khusus bagi pekerja/buruh perempuan, anak, dan penyandang cacat sebagai berikut:

PERLINDUNGAN TENAGA KERJA ATAU BURUH PEREMPUAN

  1. Pengusaha dilarang mempekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00 terhadap pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun, Pasal 76 ayat (1).
  2. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya, apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00, Pasal 76 ayat (2).
  3. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00, Pasal 76 ayat (3) wajib: 1) Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan 2) Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
  4. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan 05.00, Pasal 76 ayat (4).

PERLINDUNGAN ANAK

Pengertian anak adalah setiap orang yang berumur di bawah 18 (delapan betas) tahun, Pasal 1 angka 26 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

  1. Pengusaha dilarang mempekerjaan anak, Pasal 68.
  2. Ketentuan Pasal 68 dapat dikecualikan bagi anak berumur antara 13 (tiga betas) tahun sampai dengan 15 (lima betas) tahun untuk melakukan pekerjaan ringan sepanjang tidak mengganggu perkembangan dan kesehatan fisik, mental, dan sosial, Pasal 69 ayat (1).
  3. Pengusaha yang mempekerjakan anak pada pekerjaan ringan harus memenuhi persyaratan, Pasal 69 ayat (2) yaitu: 1) Izin tertulis dari orang tua atau wali; 2) Perjanjian kerja antara pengusaha dengan orang tua atau wali. 3) Waktu bekerja maksimum 3 (tiga) jam sehari; 4) Dilakukan pada slang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah; 5) Keselamatan dan kesehatan kerja; 6) Adanya hubungan kerja yang jelas; dan 7) Menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  4. Dalam hal anak dipekerjakan bersama-sama pekerja/buruh dewasa, maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa, Pasal 72.
  5. Anak dianggap bekerja bilamana berada di tempat kerja, kecuali dapat dibuktikan sebaliknya, Pasal 73.
  6. Siapa pun dilarang mempekerjakan dan melibatkan anak pada pekerjaan-pekerjaan yang terburuk, Pasal 74 ayat (1), meliputi segala pekerjaan: 1) Dalam bentuk perbudakan atau sejenisnya; 2) Yang memanfaatkan, menyediakan, atau menawarkan anak untuk pelacuran, produksi pornografi, pertunjukan porno, atau perjudian; 3) Yang memanfaatkan, menyediakan, atau melibatkan anak untuk produksi dan perdagangan minuman keras, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya, dan/atau 4) Yang membahayakan kesehatan, keselamatan, atau moral anak.

PERLINDUNGAN PENYANDANG CACAT

Pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat wajib memberikan perlindungan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya, Pasal 67 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Bentuk perlindungan tersebut seperti penyediaan aksesibilitas, pemberian alat kerja, dan alat pelindung diri.

Iklan