Juice Jambu Biji dan Penurunan Kadar Glukosa Darah

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Pola makan di kota-kota telah bergeser dan pola makan tradisional yang mengandung banyak karbohidrat dan serat dan sayur, ke pola makan ke barat-baratan, dengan komposisi makanan yang terlalu banyak mengandung protein, lemak, gula, garam dan mengandung sedikit serat. Disamping itu cara hidup yang sangat sibuk menyebabkan tidak adanya kesempatan untuk berekreasi dan berolah raga. Pola hidup beresiko inilah yang menyebabkan tingginya kekerapan penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hiperlipidemia.

Karbohidrat yang ada dalam diet sebagian besar adalah polimer heksosa, diantaranya yang paling penting adalah glukosa, galaktosa, dan fruktosa. Kebanyakan monosakarida yang terdapat di dalam tubuh adalah isomer D. Produk utama pencernaan karbohidrat dan gula sirkulasi utama adalah glukosa. Dalam darah vena perifer, kadar normal glukosa plasma saat puasa adalah 70-110mg/dL (3,9-6,1mmol/L). Dalam darah arteri, kadar glukosa plasma adalah 15-30mg/dL lebih tinggi daripada dalam darah vena.

Penelitian tentang efek hipoglikemik buah jambu biji adalah: Pemberian perasan air buah jambu biji 0,517g/hr akan menurunkan kadar glukosa darah pada minggu ketiga, empat dan lima sebesar 12,3%, 24,79%, dan 7,9%. Pemberian juice 1g/kg menyebabkan hipoglikemik pada mencit yang diinduksi dengan alloxan. Berdasar studi literaur dari 269 tanaman obat disimpulkan bahwa infusa dan dekokta dari buah jambu biji dapat menurunkan kadar glukosa darah.

Buah jambu biji dapat dijadikan sebagai obat alternatif karena mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai penghambat berbagai jenis penyakit, diantaranya jenis flavonoid, minyak atsiri, tanin dan juga terdapat saponin berkombinasi dengan asam oleanolat. Penurunan kandungan glukosa dalam darah disebabkan karena adanya stimulasi sekresi insulin. Buah, daun, dan kulit batang jambu biji mempunyai kemampuan sebagai adstringensia yang dapat mempresipitasi protein selaput lendir usus dan membentuk suatu lapisan yang melindungi usus. Lapisan protein ini diduga mampu menghambat absorbsi glukosa sehingga laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi, dengan demikian, jambu biji mempunyai prospek yang cukup tinggi sebagai antidiabetes.

KARBOHIDRAT

Definisi dan Klasifikasi

Dalam alam, karbohidrat terdapat sebagai monosakarida (gula individual atau sederhana), oligosakarida, dan polisakarida. Oligosakarida umumnya didefinisikan sebagai molekul yang mengandung 2-10 unit monosakarida, dan beberapa diantaranya mempunyai berat molekul beberapa juta.

A. Monosakarida.

Ada 3 bentuk utama dan gula sederhana ini:

  1. Glukosa. Bentuk dasar dan gula tunggal dalam metabolisme tubuh adalah glukosa, yang mana bentuk gula tersebut dapat dijumpai dalam peredaran darah dan merupakan bahan bakar utama untuk sel. Gula ini tidak selalu ditemukan seperti pada makanan. Suplai utama tubuh berasal dan zat tepung pada pencernaan. Glukosa juga sering disebut dextrose.
  2. Fruktosa. Terutama dapat ditemukan pada buah atau pada madu, oleh karena itu madu merupakan salah satu bentuk gula dan tidak dapat digunakan sebagai pengganti gula. Jumlah fruktosa dalam buah tergantung pada derajat kematangannya. Fruktosa merupakan gula sederhana.
  3. Galaktosa. Tidak selalu ditemukan seperti pada makanan tetapi utamanya berasal dan pencernaan susu atau laktosa.

Seluruh jenis monosakarida atau gula sederhana dibutuhkan dalam pencernaan. Mereka dengan cepat di absorbsi dan intestinal menuju sistem peredaran darah dan di bawa ke hati. Dalam hati, mereka dikonversi oleh enzim menjadi glikogen dan digunakan untuk memenuhi energi dengan segera.

B. Disakarida:

  1. Sukrosa. Merupakan struktur umum dari gula. Terdiri dan dua gula tunggal yaitu glukosa dan fruktosa. Sukrosa digunakan dalam bentuk butiran, bubuk, atau gula coklat dan dibuat dari gula mej a atau sugar bit.
  2. Laktosa. Terdiri dan 2 gula tunggal yaitu glukosa dan galaktosa. Laktosa adalah gula umum yang tidak ditemukan pada tanaman dan daya kelarutannya rendah serta lebih manis dibandingkan dengan serosa. Sisa laktase di intestinal lebih banyak dibandingkan gula lain dan mendorong pertumbuhan bakteri khusus.
  3. Maltosa. Biasanya tidak ditemukan pada makanan. Maltosa diperoleh di tubuh dan pencernaan segera zat tepung. Karena zat tepung dibuat dengan memasukkan beberapa glukosa tunggal, 2 unit glukosa tersebut diolah menjadi maltosa. Maltosa digunakan sebagai pemanis dalam berbagai macam pengolahan makanan.

C. Polisakarida

Polisakarida menghasilkan lebih dan sepuluh molekul monosakarida pada hidrolisis. Pati pada tumbuh-tumbuhan dan glikogen pada binatang adalah polisakarida yang dapat dengan cepat dimobilisasi untuk menghasilkan glukosa, bahan bakar utama untuk pembentukan energy.

  1. Zat tepung. Merupakan polisakarida signifikan yang jauh lebih baik yang terkandung dalam makanan. Zat tepung ini terdapat dalam butiran padi, polong-polongan, dan sayur-sayuran lainnya, dan pada beberapa jenis buah. Zat tepung mempunyai struktur yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan gula sederhana.
  2. Glikogen. Bukan merupakan karbohidrat signifikan dalam makanan. Persedian kecil glikogen menolong dalam menopang kadar gula darah normal selama periode yang lama (selama tidur) dan menyediakan bahan bakar dengan segera untuk aktivitas otot. Glikogen juga membantu melindungi sel dan penurunan fungsi metabolisme dan kerusakan.
  3. Makanan berserat. Beberapa jenis makanan berserat tennasuk dalam polisakarida. Makanan berserat ini tidak mampu dicerna, namun merupakan aset material yang penting dalam makanan.

Pengaturan Kadar Glukosa Darah

Pada orang normal, pengaturan besarnya konsentrasi glukosa darah sangat sempit, pada orang yang sedang berpuasa kadar glukosa darah ini biasanya antara 80 dan 90mg/dL darah yang diukur pada waktu sebelum makan pagi. Konsentrasi ini meningkat menjadi 120 sampai 140mg/dL selama jam pertama atau lebih setelah makan, tetapi sistem umpan balik yang mengatur kadar glukosa darah dengan cepat mengembalikan konsentrasi glukosa ke nilai kontrolnya, biasanya terjadi dalam waktu 2 jam sesudah absorpsi karbohidrat yang terakhir. Sebaliknya, pada waktu kelaparan, fungsi glukoneogenesis dari hati menyediakan glukosa yang dibutuhkan untuk mempertahankan kadar glukosa darah sewaktu puasa.

  1. Hati berfungsi sebagai sistem penyangga glukosa darah yang sangat penting. Artinya, saat glukosa darah meningkat hingga konsentrasi yang tinggi, yaitu sesudah makan, dan kecepatan sekresi insulin juga meningkat. Lalu, selama beberapa jam berikutnya, bila konsentrasi glukosa darah dan kecepatan sekresi insulin berkurang, maka hati melepaskan glukosa kembali ke dalam darah. Dengan cara ini, hati mengurangi fluktuasi konsentrasi glukosa darah sampai kira-kira sepertiga dan yang dapat terjadi.
  2. Sudah jelas bahwa fungsi insulin dan glukagon sama pentingnya dengan sistem pengatur umpan balik untuk mempertahankan konsentrasi glukosa darah normal. Bila konsentrasi glukosa darah meningkat sangat tinggi, maka timbul sekresi insulin, insulin selanjutnya akan mengurangi konsentrasi glukosa darah kembali ke nilai normalnya. Sebaliknya, penurunan kadar glukosa darah akan merangsang timbulnya sekresi glukagon, selanjutnya glukagon ini akan berfungsi berlawanan, yakni akan meningkatkan kadar glukosa darah agar kembali ke nilai normalnya.
  3. Juga, pada keadaan hipoglikemia berat, timbul suatu efek langsung akibat kadar glukosa darah yang rendah terhadap hipotalamus, yang akan merangsang sistem saraf simpatis. Sebaliknya, hormon epinefi-in yang disekresikan oleh kelenjar adrenal menyebabkan pelepasan glukosa lebih lanjut dan hati. Jadi, epinefrin juga membantu melindungi tidak timbul hipoglikemia yang berat.
  4. Dan akhirnya, sesudah beberapa jam dan beberapa hari, sebagai suatu respon terhadap keadaan hipoglikemia yang lama, akan timbul sekresi honnon pertumbuhan dan kortisol, dan kedua hormon ini mengurangi kecepatan pemakaian glukosa oleh sebagian besar sel tubuh, sebaliknya mengubah jumlah pemakaian lemak menjadi lebih besar.

Kadar glukosa plasma pada suatu saat ditentukan oleh keseimbangan antara jumlah glukosa yang masuk ke dalam aliran darah dan jumlah yang meninggalkannya. Kecepatan pemasukan dalam sel otot, jaringan adiposa, dan organ-organ lain, dan aktivitas glukostatik hati. Lima persen dari glukosa yang dikonsumsi langsung dikonversi menjadi glikogen di dalam hati, dan 30-40% dikonversi menjadi lemak. Sisanya dimetabolisme di dalam otot dan jaringan-jaringan lain. Pada waktu puasa, glikogen hati dipecah dan hati menambahkan glukosa dalam aliran darah. Kalau puasanya lebih panjang lagi, glikogen habis dan terjadi peningkatan glukoneogenesis dalam asam amino dan gliserol di dalam hati. Terjadi penurunan sedang glukosa plasma menjadi sekitar 60mg/dL, selama kelaparan berkepanjangan pada orang nonnal, tetapi tidak timbul gejala hipoglikemia karena glukoneogenesis mencegah terjadinya penurunan lebih lanjut.

EKSTRAK

Taksonomi

Jambu biji secara taksonomi tergolong ke dalam famili Myrtaceae, genus Psidium, spesies guajava. Karena itu, dalam bahasa Latin disebut Psidium guajava.

Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Sub divisi: Angiospermae
Kelas: Dicotyledone
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Psidium
Spesies: Psidium guajava L

Penyebaran & Morfologi

Jambu biji berasal dan Amerika tropic, tumbuh pada tanah yang gembur maupun liat, pada tempat terbuka dan mengandung air. Sering tumbuh liar dan dapat ditemukan pada ketinggian 1-1200m/dpl.

Perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10m, percabangan banyak. Batangnya berkayu, keras, kulit batang limn, mengelupas, berwarna coklat kehijauan. Daun tunggal, bertangkai pendek, letak berhadapan, daun muda berambut halus, pennukaan atas daun tua licin. Helaian daun berbentuk bulat telur agak jorong, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata agak melekuk ke atas, pertulangan menyirip, panjang 6-14cm, lebar 3-6cm, berwarna hijau. Bunga tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun. Buahnya buah buni, berbentuk bulat sampai bulat telur, berwarna hijau sampai hijau kekuningan. Daging buah tebal, buah yang masak bertekstur lunak, berwarna putih kekuningan atau merah jambu. Biji buah banyak mengumpul di tengah, kecil-kecil, keras, berwarna kuning kecoklatan.

Kandungan Kimiawi

Daun mengandung tanin, minyak atsiri (eugenol), minyak lemak, damar, zat sarnak, triterpenoid, asam malat, dan asam apfel. Buah mengandung asam amino (triptofan dan lisin), pektin, kalsium, fosfor, besi, mangan, magnesium, belerang dan vitamin (A,B1, dan C). Jambu biji juga kaya dengan serat yang larut dalam air, terutama di bagian kulitnya sehingga dapat menganggu penyerapan glukosa dan lemak yang berasal dan makanan dan membuangnya keluar.

  1. Tanin. Merupakan senyawa yang termasuk golongan alkohol dalam bentuk fenol yang memberikan rasa sepat, tanin mempunyai aktivitas antioksidan & menghambat pertumbuhan tumor. Senyawa ini disebut pula mempunyai aktivitas hipoglikemik yaitu dengan meningkatkan glikogenesis. Selain itu tanin juga berfungsi sebagai astringent atau pengelat yang dapat mengkerutkan membran epitel usus halus sehingga mengurangi penyerapan sari makanan akibatnya menghambat asupan glukosa & laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi.
  2. Flavonoid. Merupakan senyawa yang teimasuk golongan alkohol dalam bentuk fenol. Flavonoid diduga ikut berperan dalam meningkatkan glikogenesis sehingga tidak terjadi penimbunan glukosa dalam darah. Senyawa flavonoid yang bersifat hipoglikemik tersebut adalah golongan flavonoid, flavon atau biflavonil.
  3. Vitamin C. Dibutuhkan untuk sintesis dan kolagen, yang mana penting untuk komponen struktur dari pembuluh darah, tendon, ligament dan tulang. Vitamin C dibutuhkan untuk sintesis carnitine, sebuah molekul kecil yang digunakan untuk transport lemak ke organel sel yang disebut mitokondria, untuk dikonversi menjadi energy. Vitamin C mempunyai efektifitas yang tinggi sebagai antioksidan, dan dapat melindungi molekul dalam tubuh seperti protein, lemak, karbohidrat dan DNA dan kerusakan oleh radikal bebas dan reaktivasi oksigen yang dapat dihasilkan selama metabolisme normal yang dapat mengeliminasi racun dan bahan polutan.
  4. Vitamin E. Ada berbagai jenis tokoferol yang ditemukan di alam. Semua merupakan senyawa 6-hidroksikromana yang tersubstitusi-isoprenoid. D-a-Tokoferol mempunyai distribusi alami yang paling luas dan aktivitas biologik terbesar.
  5. Serat. Mencegah terjadinya gangguan metabolisme sehingga tubuh terhindar dan kegemukan dan kemungkinan serangan penyakit diabetes mellitus, jantung koroner, dan batu empedu. Hasil penelitian Jenkins tahun 1976, menyebutkan bahwa penambahan serat larut air pada diet penderita diabetes mellitus ringan, dapat menurunkan kadar gula darah dan menyebabkan respon terhadap insulin semakin menurun.

Khasiat

Daun rasanya manis, sifatnya netral, berkhasiat astringent (pengelat), antidiare, antiradang, penghenti perdarahan (hemostatis), dan peluruh haid. Buah berkhasiat antioksidan karena karena kandungan beta karoten dan vitamin C yang tinggi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Mekanisme Kerja

Sebagian besar karbohidrat yang dapat dicerna di dalam makanan akhirnya akan membentuk glukosa. Karbohidrat di dalam makanan yang dicerna secara aktif mengandung residu glukosa, galaktosa dan fruktosa yang akan dilepas di intestinum. Zat-zat ini lalu diangkut ke hati lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di hati. Pada konsentrasi glukosa yang tinggi di dalam usus, jumlah glukosa yang diabsorbsi dapat sebesar dua sampai tiga kali lipat.

Tanin berfungsi sebagai astringent atau pengelat yang dapat mengkerutkan membran epitel usus halus sehingga mengurangi penyerapan sari makanan akibatnya menghambat asupan glukosa & laju peningkatan glukosa darah tidak terlalu tinggi. Flavonoid berperan dalam meningkatkan glikogenesis sehingga tidak terjadi penimbunan glukosa dalam darah.

Vitamin C dan vitamin E memiliki efek yang menguntungkan karena melindungi pankreas dari gangguan fungsi akibat kerusakan oksidatif. Sehingga efektifitas vitamin C dan vitamin E ini melindungi fungsi pancreas dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Di dalam usus serat dapat memperlambat penyerapan glukosa dan meningkatkan kekentalan isi usus secara tidak langsung dapat menurunkan kecepatan difusi pennukaan mukosa usus halus. Akibat kondisi tersebut, kadar gula dalam darah mengalami penurunan secara perlahan, sehingga kebutuhan akan insulin juga berkurang.

PUSTAKA

Dina S, 2002, Sehat dengan Menu Berserat, Trubus Agriwidya, Jakarta, 14.

Kusumawati D, 2004, Bersahabat Dengan Hewan Coba, Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

BPOM, 2001, Mengenal Beberapa Tanaman yang Dipergunakan sebagai Antidiabetika. http://www.pom.go.id dikutip tanggal 9 Desember 2006.

Setiawan D, 2000, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2, Trubus Agriwidya, Jakarta.

Donosepoetro M, 2007, Oxygen – Centered Radicals and Human Disease, Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU Dr. Soetomo, FK UNAIR Surabaya.

William F.G, 2002, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 20, EGC, Jakarta.

Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 9, EGC, Jakarta.

Robert K, 2003, Biokimia Harper, Edisi 25, EGC, Jakarta.

Robinson, Trevor, 1999, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, ITB, Bandung, 71-72, 193.

Rahmat R, 1999, Jambu Biji, Kanisius, Yogyakarta, 18.

Suharmiati, 2003, Khasiat dan Manfaat Jati Belanda, Agromedia Pustaka, Jakarta, 8.

Suyono S, 2006, Diabetes Melitus di Indonesia, FKUI, Jakarta, 1874.

Lubert S, 2002, Biokimia, Volume 2, Edisi 4, EGC, Jakarta.

Masonari S, 2004, Plasma Insulin Concentration was Increased by Long-Term Ingestion of Guava Juice in Spontaneous Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus Rats, Journal of Health Science, 50(6): 674-678.

Symposium, 2007, The Only Strongest and Safest Antioxidant without Any Pro-oxidant, Pusat Diabetes dan Nutrisi RSU Dr. Soetomo, FK UNAIR Surabaya.

Sue R, 2001, Basic Nutrition & Diet Therapy, Mosby, Inc.

Yusof, R.M., and Said, M., 2004, Effect of high fibre fruit (Guava-psidium guajava L.) on the serum glucose level in induced diabetic mice, Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition (2004) 13 (suppl).

Cheng, JT., Yang, R.S., 1983, Hypoglycemic effect of Guava juice in mice and human subjects, Am J. Chin Med.1983;11(1-4):74-6.

Galicia, E.H., Contreras, A.A., Santamaria, L.A., Miranda, A.A.C., Vega, L.M.G., Saenz, J.L.F., and Alarcon, F.J., 2002, Studies on Hypoglycemic Activity of Mexican Medical Plants, Proc. West. Pharmacol. Soc. 45: 118-124 (2002).