Jurnal Ilmiah Perguruan Tinggi Indonesia Kesulitan Menerbitkan Jurnal Internasional

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Memasukkan ke Spocus (database abstrak dan citation) bayar 2.500 dollar AS setahun
+ Terbit berkala, editing bagus, dan peer review akademisi internasional
+ Jurnal ilmiah tidak membolehkan ada iklan tidak diperbolehkan
+ Penjualan jurnal ilmiah kepada masyarakat hanya cukup untuk menutupi biaya cetak
+ Untuk satu kali penerbitan jurnal dibutuhkan biaya Rp.15 juta
+ Memublikasikan hasil riset belum menjadi tradisi

(kesimpulan) Jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola perguruan tinggi masih sulit untuk ditingkatkan menjadi jurnal internasional. Peningkatan kualitas dan pembiayaan menjadi persoalan utama. Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu 12 Agustus 2009, Arif Satria menyatakan, ada 28 jurnal di IPB. Empat jurnal berakreditasi nasional dan 11 jurnal dalam proses untuk akreditasi nasional. Sebuah jurnal yang sudah terbit sejak tahun 1994, Jurnal Hayati, sedang diupayakan menjadi jurnal internasional.

Tidak mudah membuat sebuah jurnal menjadi jurnal internasional. Umumnya, adalah dengan memasukkan jurnal ke dalam situs Spocus, yang merupakan situs web database abstrak dan citation terbesar dengan data bersumber dari literatur-literatur yang dievaluasi oleh peer. Ada pula persyaratan terkait dengan kualitas jurnal, seperti terbit berkala dan editing yang bagus serta peer review yang melibatkan akademisi internasional atau dari luar negeri. Pemuatan dalam database Spocus terkait dengan citation (menjadi acuan bagi para peneliti). Setelah sebuah jurnal memenuhi persyaratan Spocus, setiap tahunnya harus membayar 2.500 dollar AS.

Selama ini pengembangan kualitas jurnal dan biaya penerbitan menjadi permasalahan. Apalagi di Indonesia, memublikasikan hasil riset belum menjadi tradisi. Jurnal ilmiah hidup dengan pembiayaan para penulis atau sponsor (biasanya lembaga pemberi dana). Iklan tidak diperbolehkan. Penjualan jurnal ilmiah kepada masyarakat hanya cukup untuk menutupi biaya cetak. Untuk satu kali penerbitan jurnal, misalnya, dibutuhkan biaya Rp 15 juta.

Perguruan tinggi akan kesulitan kalau harus mendorong jurnal ilmiah menjadi berkelas internasional hanya dengan mengandalkan dana peneliti. Oleh karena itu, bantuan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berupa dana Rp150 juta untuk mengembangkan jurnal internasional merupakan angin segar. Institut Teknologi Bandung (ITB) juga tengah mengupayakan jurnal-jurnal ilmiahnya bertaraf internasional. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan ITB, Prof Indratmo Soekarno mengatakan, di ITB, dari 32 jurnal ilmiah, dua di antaranya sudah jurnal internasional. Saat ini dua jurnal lainnya tengah diupayakan menjadi berkelas internasional.

Tidak mudah menciptakan jurnal internasional. Editor harus betul-betul pilihan. Untuk jurnal internasional ITB Journal of Science, naskah yang masuk datang dari peneliti di berbagai negara dan diperiksa kelayakannya oleh para editor. Para editor tersebut tidak hanya dari Indonesia saja. Ada sekitar 20 editor yang tersebar di Indonesia dan berbagai negara.

Kepala Subdit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, Yoki Yulizar, Ph.D mengatakan, tahun 2009 enam jurnal di UI dalam persiapan untuk jurnal internasional. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal ilmiah, UI melakukan koordinasi dengan pengelola teknis dan dewan editor secara berkala (Kompas, Sulit Buat Jurnal Internasional, Kamis 13 Agustus 2009)

Iklan