Kebijakan 3 Opsi Dari British Airways Kepada Pekerjanya Dalam Atasi Kesulitan Keuangan

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Akibat krisis perekonomian global terus menghantam perusahaan-perusahaan besar dunia. Kondisi yang parah juga terjadi pada industri penerbangan, selain didera dampak krisis global, sektor penerbangan juga harus menanggung akibat secara langsung merebaknya wabah virus flu Babi (H1N1). Salah satu maskapai penerbangan terkemuka yaitu British Airways (BA) harus melakukan penghematan keuangan.

Ratusan pekerja maskapai penerbangan British Airways (BA) setuju untuk bekerja tanpa dibayar selama satu hingga empat minggu. Sikap itu muncul setelah pada bulan Mei 2009, British Airways melaporkan telah merugi hingga GBP400 juta atau sekitar Rp6,748 triliun dan menyatakan tidak sanggup lagi membayar seluruh pegawainya. Kerugian tersebut merupakan yang terbesar sepanjang sejarah perusahaan yang telah diswastakan oleh pemerintah Inggris.

Pihak manajemen British Airways memberikan tiga opsi penawaran berkaitan dengan status pegawainya, yaitu:

  1. Cuti di luar tanggungan
  2. Berpindah menjadi pekerja paro waktu
  3. Tetap bekerja tapi tidak dibayar hingga 4 minggu

Dari sekitar 40.000 karyawan total yang dimiliki British Airways, sebanyak 6.940 karyawan diberi kebijakan untuk memilih salah satu di antara tiga opsi yang diberikan tersebut. Berdasarkan kebijakan pada 6.940 pekerja mendapatkan keputusan:

  1. Memilih cuti di luar tanggungan sebanyak 4.000 pekerja
  2. Memilih menjadi pekerja paro waktu sebanyak 1.400 pekerja
  3. Memilih bekerja tanpa dibayar selama empat minggu sebanyak 800 pekerja

Sisanya sebanyak 740 pekerja yang berada di luar Inggris belum memberikan sikap secara pasti. Kebijakan pemberlakuan ketiga opsi tersebut mulai berlaku per 24 Juni 2009. atas keputusan tersebut maka British Airways dapat menyelamatkan keuangan perusahaan hingga GBP10 juta atau sekitar Rp 168,826 miliar.

Buruknya kondisi keuangan British Airways disebabkan oleh perekonomian dunia yang terus memburuk. Juga merebaknya virus flu H1N1 yang menurunkan jumlah penumpang pesawat hingga tingkat terendah. Penurunan itu juga dirasakan bahkan hingga penerbangan kelas termurah. Hal lain yang memperparah adalah rencana kenaikan biaya bahan bakar hingga mencapai GBP3 miliar atau Rp50,597 triliun. Penyampaian tiga opsi disampaikan kepada seluruh karyawan via e-mail pada 16 Juni 2009. (Jawa Pos, ”Ratusan Staff British Airways Siap Kerja Tanpa Gaji”, Sabtu 27 Juni 2009)


Iklan