Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) Sosialisasi Piranti Lunak Sistem Operasi Terbuka atau Software Open Source (SOS)

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Sosialisasi Indonesia Go Open Source (IGOS) ke kantor pemerintah kabupaten/kota
+ 400 pemerintah kabupaten/kota telah minta migrasi ke open source software (OSS)
+ Ristek akan dampingi aplikasi OS di setiap instansi
+ Ada 21 pusat open source system (POSS), 15 IGOS Center, dan 8 komunitas OS
+ Samudra Indonesia Group pakai OSS hemat biaya sampai Rp6 miliar

(kesimpulan) Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) optimistis seluruh kantor pemerintah dan departempn akan melakukan migrasi mengunakan piranti lunak sistem operasi terbuka atau open source (OS) pada akhir 2011. Saat ini, dari sekitar 400 pemerintah kabupaten kota, 60 di antaranya telah meminta Kementerian Ristek untuk membantu migrasi ke open source software (OSS).

Menristek Kusmayanto Kadiman menjelaskan, surat edaran (SE) telah dikeluarkan Kementerian PAN pada Maret 2009, tentang penggunaan software OS untuk menggantikan software ilegal di lingkungan instansi pemerintah. Dengan demikian, migrasi peranti lunak sistim operasi terbuka harus sudah diimplementasi seluruhnya pada 2011. Untuk itu, pihaknya akan mengintensifkan sosialisasi program Indonesia Go Open Source (IGOS) ke sejumlah kantor pemerintah kabupaten/kota.

Sejak keluar SE itu mulai banyak instansi pemerintah yang aktif mencari tahu tentang software OS. Sudah ada sekitar 60-an pemkot/pemkab yang mencari tahu dan meminta penjelasan bagaimana bermigrasi ke OS ke Ristek dan Depkominfo. Pemkot Surabaya yang mengajukan diri untuk bermigrasi dari peranti lunak berlisensi atau software proprietari (berlisensi) ke OS.

Mereka akan mulai dengan sosialisasi, pelatihan, membuat lingkungan mendukung, baru kemudian bermigrasi. Prosesnya bertahap. Selain itu, Surabaya Open Source Development Center juga dibentuk guna mengembangkan sistem OS di daerah tersebut. Sebelum bermigrasi ke OS, Pemkot Surabaya sempat mengeluarkan dana sebesar Rp2 miliar untuk membeli lisensi software proprietary selama dua tahun.

Staf Ahli Menteri Ristek Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Engkos Koswara mengakui, banyaknya permintaan dan instansi-instansi pemerintah untuk menggunakan aplikasi OS. Hingga Agustus 2009, sudah ada 60 surat yang datang dari pemda yang meminta bantuan untuk migrasi ke OS.

Permintaan tersebut antara lain datang dan Pemkot Banyuwangi, Sragen, Yogyakarta, Riau, hingga Aceh. Untuk itu, Ristek akan membantu pemda untuk melakukan pendampingan dalam penggunakan aplikasi OS. Juga sudah membentuk 21 pos pusat pendayagunaan open source system (POSS), 15 IGOS Center, dan mendapatkan dukungan dari delapan komunitas yang siap membantu sosialisasi OS.

Sejumlah perusahaan mampu menghemat hingga miliaran rupiah dengan menggunakan software OS, perangkat lunak yang dalam penggunaannya tidak dikenakan biaya lisensi maupun royalti oleh pengembangnya. Pemilik perusahaan penerbitan dan percetakan Dian Rakyat Group, Mario Alisjahbana, mengatakan, dengan OS bisa menghemat US$500 untuk tiap terminal personal computer (PC) yang menjalankan fungsi office. Sedangkan untuk tiap PC workstation untuk fungsi grafts bisa dihemat US$1.500-3.000. Bayangkan jika sebuah perusahaan mempunyai 300 komputer, berapa bisa dihemat? Apalagi biaya itu harus dikeluarkan hampir tiap tahun, karena selalu ada upgrade, seperti dari Windows Vista ke Windows 7.

Sebagai perusahaan penerbitan dan percetakan, software yang dibutuhkan adalah sistem operasi, manajemen dan akuntansi, pengolahan teks, pengolahan foto dan gambar, serta software desain dan pracetak. Penggunakan software open source pengolah foto Gimp, sekelas dengan Adobe Photoshop demikian pula dengan software pengolah gambar, desain, serta pengatur tata letak yang juga berbasis OS.

Kepala Divisi Information Technology Samudra Indonesia Group, Denny Ganjar mengatakan, dengan menggunakan software OS pihaknya bisa menghemat biaya pembelian software sampai Rp6 miliar. Menghemat sampai Rp6 miliar dengan kemampuan yang sama kalau kita menggunakan software proprietary yang total biayanya sampai Rp18 miliar (Investor Daily, Ristek Perluas Pemakaian IGOS di Kalangan Pemda, Kamis 6 Agustus 2009)



Iklan