Kenaikan Temperatur Bumi Tidak Boleh Melebihi 2 Celsius

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Peningkatan Temperatur Bumi 2 Celsius
+ Negara G-8, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Australia, China, dan India
+ Data dan kebijakan pengurangan emisi dunia

(kesimpulan) Negara maju dan berkembang akhirnya sepakat mengendalikan temperatur bumi. Negara yang tergabung dalam G-8, Uni Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan China berkomitmen untuk mengendalikan pemanasan bumi, tidak boleh naik melebihi 2 derajat celsius di atas suhu rata-rata semenjak tahun 1900. Kesepakatan dicapai dalam deklarasi Major Economics Forum pada saat pertemuan G8 di L’Aquila, Italia.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyebut sebagai langkah penting, karena di atas ambang batas tersebut sistem iklim di planet ini menjadi labil dan berbahaya. Major Economics Forum diikuti oleh 16 negara maju dan berkembang, yakni G-8, G-5, Australia, Korea Selatan, Indonesia, dan Uni Eropa. Negara-negara G-8 yaitu Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, dan Amerika Serikat, akan berusaha mencapai angka pemangkasan emisi sebesar 80% hingga tahun 2050. Namun, negara berkembang menolak pemangkasan emisi sebesar 50% pada 2050.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon merasa kurang puas karena dianggap tidaklah istimewa. Bahkan negara-negara pencemar tersebut tidak menyetel sasaran emisi untuk jangka yang lebih dekat yakni 2020. Meski tetap menerima kesepakatan G-8, Ban Ki-moon menginginkan target pemotongan emisi jangka menengah yang memang kuat dan berambisi.

Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) RK Pachauri memuji deklarasi tersebut karena menyinggung ambang 2 Celcius. Namun, deklarasi tersebut diaggap tidak membawa dunia pada satu peta jalan yang bisa menunjukkan bagaimana supaya pemangkasan tercapai. Tetapi paling tidak dunia dapat menerjemahkan destinasi dari upaya menahan laju pemanasan global.

  1. Uni Eropa dalam kesempatan tersebut berjanji akan menurunkan 20% emisi rata-rata 1990 pada 2020. Kelompok ini berniat menaikkan porsi hingga 30% dengan syarat kesepakatan internasional yang dicapai dalam beberapa tahun ke depan akan memuaskan.
  2. Amerika Serikat, negara pembuang emisi terbesar di dunia, sedang menunggu pengesahan rancangan undang-undang pemangkasan emisi yang saat ini digarap di dalam negeri. Dalam rancangan itu, untuk pertama kalinya akan mengerem volume emisi supaya turun 17% dari emisi pada 2005, dan target akan dipenuhi pada 2020. Pada 2050, pemangkasan akan mencapai 83%. Selain itu, draf mengharuskan Amerika Serikat memenuhi 20% kebutuhan listrik dari energi terbarukan dan pemerintah merancang ulang standar bangunan, peralatan rumah tangga, dan industri, dengan berpatokan pada teknologi hemat energi.
  3. Jepang merancang target penurunan emisi sebesar 15% pada 2020, tetapi dasar reduksi yang dipakai adalah rata-rata emisi pada 2005, bukan 1990. Pada 2005 emisi Jepang lebih tinggi 6% dibanding 1990.
  4. Australia akan memangkas emisi pada kisaran 5%-25% untuk 2020. Dasar penghitungan yang dipakai adalah emisi 2000. Pemotongan emisi tersebut rencananya akan meningkat menjadi 60% saat memasuki 2050. Australia juga sudah berniat memperkenalkan skema jual beli emisi, namun sejumlah kalangan di Senat menolaknya.
  5. Adapun India dan Brasil, yang emisinya juga besar, tidak bersedia menetapkan target penurunan emisi.

Rencana Penggunaan Energi dari Sumber Terbarukan Hingga 2020 (%)

EU-27
Swedia 49%, Latvia 40%, Finlandia 38%, Austria 34%, Portugal 31%, Denmark 30%, Estonia 25%, Slovania 25%, Rumania 24%, Perancis 23%, Lithuania 23%, Spanyol 20%, Jerman 18%, Yunani 18%, Italia 17%, Bulgaria 16%, Irlandia 16%, Inggris 15%, Polandia 15%, Belanda 14%, Slovakia 14%, Belgia 13%, Siprus 13%, Rep Ceko 13%, Hongaria 13%, Luksemburg 11%, Malta 10%.

OECD/ Negara Berkembang
India 31%, Australia 20%, Kanada 16%, China 15%, Mesir 14%, AS 5%, Jepang 3%.

Penyumbang Emisi Karbon Dioksida Perkapita (2006 / ton)

Qatar 61, Bahrain 38, UEA 35, Singapura 31, Kuwait 31, Brunei 27, Luksemburg 26, Australia 21, AS 20, Kanada 19.

Konsumsi Energi Global (2006 / %)

Minyak Fosil 79%, Terbarukan 18%, Biomasa 13%, Nuklir 3%, Air 3%, Lainnya 2

Pengguna Terbarukan (2006 / gigawatt)

China 50, Jerman 27, AS 25, Spanyol 13, India 10, Jepang 8

Sumber: Media Indonesia, Selasa 14 Juli 2009