Kesehatan Jiwa Pada Populasi Lanjut Usia

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sakit mental, terutama depresi dan kecemasan, merupakan masalah penting bagi orang dewasa pada usia 65 tahun ke atas. Angka prevalensi pengindap penyakit mental orang dewasa di Amerika Serikat sebesar 12,3% yang hidup dalam masyarakat, 70% dalam perawatan rumah, dan 50% dalam perawatan akut di rumah sakit. Sedangkan angka prevalensi pengindap gangguan mental untuk orang tua berusia 55 ke atas: (a) 11,4% untuk anxiety disorder, (b) 4,4% untuk mood disorder, (c) 0,6% untuk skizofrenia, (d) 6,6% untuk pelemahan kognitif parah, dan (e) 19,8% untuk gangguna mental lainnya.

Sejumlah penelitian telah melaporkan hubungan antara kesehatan mental dan fisik kesehatan di kalangan populasi manula. Ada hubungan positif dan kuat antara kesehatan fisik, kesehatan fungsional, dan kesehatan mental. Dalam meta analisis dilaporkan bahwa penilaian rendah terhadap kesehatan diri yang dimiliki individu berkorelasi dengan tingkat depresi. Hal ini konsisten dengan hasil analisis hubungan antara depresi dan penyakit medis pada usia lanjut. Selain itu juga dilaporkan bahwa studi pada orang berusia 70-90 menunjukkan ada korelasi antara tingkat kesehatan dengan inteligensi.

Gangguan medis dengan masalah kesehatan mental pada populasi orang tua dapat dikaitkan dengan sejumlah faktor penyebab yang meliputi (a) hilangnya berbagai fungsi personal, (b) insomnia kronis, (c) adanya penyakit jantung dan stroke, (d) penyakit generatif saraf, (e) hilangnya dukungan sosial, dan (f) akses untuk perawatan. Mengenai akses layanan kesehatan jiwa, terdapat bukti bahwa prevalensi pada orang berusia di atas 65 yang harus dirawat di pelayanan kesehatan mental dengan waktu yang lama sekitar 12,8% dari populasi. Sekitar 9%-nya dirawat di bagian psikiatris.

Masalah utama pada kecenderungan ini adalah pengakuan yang baik dan perawatan dari penyakit mental yang cenderung kurang memadai dalam berbagai kebijakan dasar tentang kesehatan di masyarakat. Masalah keperawatan dengan kualitas masalah kesehatan mental bagi masyarakat yang lazim bagi manula terkait dengan kesehatan mental dan kesehatan pada umumnya. Prevalensi yang jelas dan dampak gangguan mental pada orang tua membuat kesadaran tentang kesehatan mental yang perlu diprioritaskan dalam pelayanan rehabilitasi. Penting untuk memperhatikan: (a) fungsi kognitif, (b) depresi, dan (c) anxiety disorders.

Fungsi Cognitive

Saat ini tidak ada kesepakatan tentang jenis perubahan dalam kesadaran dan intelektualitas manula. Secara biologis, seperti umur otak manusia, hilangnya struktural saraf, dan hubungan keduanya. Secara behavioral, seperti penurunan kerja memori, konsentrasi pada informasi yang relevan, dan kecepatan pemrosesan informasi. Fungsi kognitif seseorang pada keadaan tidak memiliki penyakit, cenderung relatif stabil sampai usia 60 tahun. Berbagai studi mengungkapkan bahwa penurunan besar kemampuan mental dialami manula setelah mencapai usia 70 tahun ke atas. Penurunan inteligensi dan memori pada hari tua, menunjukkan pengecualian pada manula yang tetap aktif bekerja. Kesehatan yang tetap terjaga dengan baik menunjukkan kemampuan bahasa yang relatif stabil.

Secara konsensus menyatakan bahwa proses menjadi tua akan diikuti dengan penurunan kemampuan kognitif. Namun, ada bukti yang menunjukkan bahwa penurunan kemampuan intelektual tidak pasti terjadi, kecuali pada orang dengan cardiovascular disorders tertentu dan masalah-masalah kesehatan lainnya atau orang-orang yang tinggal di lingkungan khusus. Jelaslah bahwa sejumlah variabel prediktor terkait dengan proses menua adalah kesehatan dan lingkungan. Pentingnya sebuah lingkungan untuk memperkaya fungsi kognitif. Di setiap usia belajar telah menunjukkan efek anatomis (mungkin volume otak) karena penyuburan dan pemiskinan tentang potensi otak manusia.

Depresi

Depresi merupakan ancaman serius terkait dengan masalah kesehatan mental pada populasi orang tua. Prevalensi depresi berkisar pada 2% hingga 8% pada populasi yang hidup dalam masyarakat. Tingkat prevalensi ini meningkat menjadi 10% pada orang tua dan 15% pada orang tua dalam perawatan akut di rumah sakit. Tingkat prevalensi depresi klinis medis pada orang tua yang telah menjadi pasien berkisar antara 18% dan 40%. Laporan lain menyatakan sekitar satu dari 10 orang berusia 65 ke atas memiliki depresi klinis.

Pada usia lanjut, depresi sering bersifat kronis dan/atau insidentil saja. Hal ini dapat dikaitkan dengan, penyakit medis, pelemahan kognitif, atau penurunan dukungan sosial. Misalnya, Faktor-faktor risiko depresi adalah penurunan kesehatan fisik, cacat, serta isolasi sosial. Depresi sering mengarah pada peningkatan status cacat hasil rehabilitasi dari stroke, myocardial infarction, penyakit kronis, dan hip fractures.

Faktor-faktor yang terkait dengan kerentanan kesehatan dan fungsi hidup dilaporkan bahwa rasa ketidakberdayaan memiliki korelasi dengan depresi, rasa tidak bahagia, termasuk hidup tidak puas, rendah diri, dan emosi negatif. Depresi pada orang tua juga memiliki hubungkan yang signifikan dengan penurunan kualitas hidup. Individu dengan gejala ini lebih rentan mengalami stressor keluarga, peningkatan penarikan sosial, dan banyak masalah di dalam pekerjaan. Mereka semakin tertekan, dianggap memiliki kesehatan menurun, kemampuan berfungsi dan penguasaan minimalis, dan berkurangnya kepuasan diri.

Penelitian longitudinal terhadap 569 anak muda mengenai apa yang akan terjadi setelah berusia 60-80 tahun atau sampai kematian dengan menilai proses menua yang ”baik” dan ”buruk”. Mereka diminta untuk meramal 13 variabel yaitu: (a) merokok, (b) penyalahgunaan alkohol, (c) body mass index, (d) pendidikan, (e) latihan rutin, (f) perkawinan stabil, (g) hilang ketahanan, (h) depresi, (i) kelas sosial, (j) kehangatan anak, (k) leluhur, (1) perilaku anak, dan (m) kecacatan.

Depresi juga dapat mengakibatkan bunuh diri, yang merupakan masalah penting dalam kesehatan mental geriatrik. Orang tua yang melakukan bunuh diri pada umumnya pria yang telah berusaha menjalani perawatan kesehatan umum dan bukan kesehatan mental yang profesional. Orang tua pria memiliki tingkat prevalensi bunuh diri enam kali lebih besar dari masyarakat umum.

Anxiety Disorder

Anxiety disorders (gangguan kecemasan) memiliki hubungan yang understudied signifikan pada populasi lanjut usia. Sekitar 11,4% dari populasi berusia 55 tahun ke atas memenuhi kriteria untuk anxiety disorder. Di samping itu, gejala post-traumatic stress disorder diindap oleh veteran perang atau eks-tentara. Anxiety disorders yang paling lazim pada orang tua yaitu panik, phobia, gangguan obsesif kompulsif, generalized anxiety disorder, gangguan stres akut, dan stress post-traumatic disorder.

Anxiety disorders secara sementara biasa muncul pada awal atau dewasa tengah, beberapa kasus muncul untuk pertama kalinya setelah umur 60 tahun. Existential Teory dapat membantu untuk menjelaskan kegelisahan bila tidak ada yang khusus dapat dikenali secara berkesinambungan dari rangsangan rasa cemas. Usia manusia harus mengatasi kematian, hilangannya hubungan interpersonal, dan hilangnya partisipasi untuk berperan. Individu dengan tingkat sensitivitas yang tinggi dikhawatirkan mudah terserang rasa ketakutan somatic dan kecenderungan untuk merespon sesuatu dengan kecemasan arousal. Sensitivitas tinggi ini sering mengarah pada keprihatinan hypochondriacal. Sensitivitas juga dapat memperkuat anxiety disorders untuk meningkatnya serangan panik pada reaksi agoraphobia.

Sekitar setengah dari orang-orang yang mendapat tekanan klinis juga didiagnosis dengan anxiety disorder, dan sekitar seperempat dari satu orang yang cemas juga memiliki diagnosa utama depresi. Jika individu mengalami kehilangan aktivitas, seperti kematian pasangan, akan semakin cenderung tertekan. Di sisi lain, jika pasangan didiagnosis mengalami kanker, maka lebih cenderung untuk menjurus pada anxiety disorder.

PUSTAKA

Administration on Aging. (2000). Older population by age: 1900 to 2050. Retrieved August 13, 2002, from http://www.aoa. gov/aoa/stats/AgePop2050.html

Aiken, L. R. (1996). Assessment of intellectual functioning. New York: Plenum.

Badger, T. A. (2001). Depression, psychological resources, and health-related quality of life in older adults 75 and above. Journal of Geropsychology, 7, 189-200.

Bearden, L. J., & Head, D. W. (1986). Attitudes of rehabilitation professionals toward aging and older persons. Journal of Applied Rehabilitation Counseling, 17(1), 17-19.

Beatty, P. T., & Burroughs, L. (1999). Preparing for an aging workforce: The role of higher education. Educational Gerontology, 25, 595-611.

Berg, S., Nilsson, L., & Svanborg, A. (1988). Behavioural and clinical aspects: Longitudinal studies. In J. P. Watt’s & I. Hindmarch (Eds.), Psychological assessment of the elderly. New York: Churchill Livingstone.

Swett, A. E., & Bishop, M. (2003). Mental Health and the aging population: Implications for rehabilitation counselors, Mental Health and Aging. Journal of Rehabilitation, April-June.

Iklan