Ketrampilan Emosional Anak

10 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Mengembangkan ketrampilan sosial dan komunikasi, dibutuhkan suatu landasan kuat yaitu berkembangnya ketrampilan emosional dengan baik. Hal itu dikarenakan emosi dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dan sosial anak. Selain merupakan suatu bentuk komunikasi, emosi juga sangat mempengaruhi interaksi sosial. Melalui perubahan mimik wajah dan fisik yang menyertai emosi, anak-anak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka kepada orang lain dan mengenal berbagai jenis perasaan orang lain. Semua emosi, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, dapat mendorong interaksi sosial. Melalui emosi, anak belajar cara mengubah perilaku agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan dan ukuran sosial. Perkembangan ketrampilan emosional dipengaruhi oleh peran pematangan taraf intelektual dan peran belajar.

Ketrampilan emosional yang sesuai pada setiap tahap perkembangan individu, dapat membantu mengembangkan kemampuan-kemampuan sosial, bahasa, ketrampilan motorik dan kesadaran akan diri. Ketrampilan emosional tersebut terdiri dari enam tonggak penting, yaitu: regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar; keakraban; komunikasi dua arah; komunikasi kompleks; gagasan emosional; dan berpikir emosional.

Pada anak tanpa kebutuhan khusus, seringkali dapat menguasai ketrampilan-ketrampilan emosional tersebut dengan relatif mudah. Anak dengan kebutuhan khusus seringkali tidak bisa demikian. Karena masalah biologis, menyebabkan penguasaan ketrampilan-ketrampilan tersebut menjadi lebih sulit. Demikian halnya yang terjadi pada anak dengan retardasi mental ringan, penguasaan ketrampilan emosional nampaknya belum dapat berkembang optimal sesuai dengan usia mentalnya.

Emosi merupakan keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan berkaitan dengan perubahan perilaku. Karena itu emosi lebih intens daripada perasaan sederhana dan biasa, dan mencakup pula organisme selaku satu totalitas. Sedangkan emosional berkaitan dengan ekspresi emosi, atau dengan perubahan-perubahan yang mendalam yang menyertai emosi, mencakup perubahan-perubahan dalam otot, kelenjar yang mendalam, dan tingkah laku. Seseorang dikatakan memiliki ketrampilan emosional apabila mampu menampilkan ekspresi emosi yang baik. “Baik” di sini berarti sesuai dengan stimulus afektifnya.

Ketrampilan emosional adalah ketrampilan yang berdasarkan pada interaksi emosional dini dan bertujuan membangun landasan untuk kecerdasan dan pemahaman mengenai diri (sense of self). Sedangkan interaksi didefinisikan sebagai satu pertalian sosial antar individu sedemikian rupa sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu sama lainnya.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETRAMPILAN EMOSIONAL

Faktor yang mempengaruhi ketrampilan emosional, yaitu:

  1. Masalah-masalah biologis. Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki berbagai masalah biologis yang merintangi kemampuan mereka untuk berfungsi di dunia ini. Meskipun banyak cara untuk menjelaskan masalah-masalah biologis tersebut, dengan tujuan untuk memperhatikan bagaimana masalah tersebut mempengaruhi perkembangan mereka. Ada tiga jenis: 1) Kesulitan dalam reaktivitas sensorik. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam pengaturan (modulating) informasi yang diterima dari dunia melalui indera penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman, pengecap dan kesadaran tubuh (body awareness), yaitu anak mungkin kurang reaktif atau terlampau reaktif. 2) Kesulitan pemrosesan. Anak mungkin mengalami kesulitan dalam memahami data sensorik yang terima. 3) Kesulitan dalam membuat dan mengurutkan atau merencanakan berbagai respon. Anak mungkin mengalami kesulitan menggerakkan tubuhnya sesuai keinginan.
  2. Pola-pola interaksi anak. Masalah-masalah biologis anak mempengaruhi interaksi anak dengan orang lain. Anak yang kurang reaktif terhadap suara tidak mungkin menoleh ke arah suara rayuan ibunya. Anak yang terlampau reaktif terhadap sentuhan mungkin akan menjauhkan diri, atau bahkan menjerit, bila ayahnya berusaha memeluk. Bila anak terus menerus menarik diri dari ibunya, bisa dimengerti bila ibunya mengurangi tingkat usahanya membujuk si anak ke dalam interaksi yang penuh kasih. Ibu mungkin merasa bingung dan percaya bahwa si anak lebih suka dibiarkan sendirian. Di sisi lain, pemahaman khusus mengenai kurang reaktifnya seorang anak, akan memungkinkan orang tua untuk bekerja di sekitar masalah biologisnya untuk menarik anak ke dalam suatu relasi dan memulai interaksi serta komunikasi. Jadi terdapat berbagai lintasan yang berbeda yang mungkin dilakukan.
  3. Pola-pola keluarga dan sosial. Semua orang tua membawa kecenderungan tertentu dalam mengasuh anak. Sebagian secara alami bersikap demonstratif dan penuh sentuhan, yang lainnya lebih penyendiri. Sebagian dari kita senang berbicara, yang lainnya pendiam. Kecenderungan-kecenderungan ini (sebagian bawaan, sebagian diperoleh melalui keluarga dan lingkungan budaya) mempengaruhi bagaimana berinteraksi dengan anak-anak. Kecenderungan-kecenderungan tersebut bisa memudahkan atau menyulitkan anak-anak untuk menguasai tonggak penting ketrampilan emosionalnya.

Penjelasan lain menyatakan, perkembangan emosional dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:

  1. Peran pematangan. Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dimengerti, memperhatikan satu rangsangan dalam jangka waktu yang lebih lama, dan memutuskan ketegangan emosi pada satu obyek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda.
  2. Peran belajar. Bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan sistem syaraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk belajar tentang berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar itu akan menentukan reaksi potensial mana yang akan gunakan untuk menyatakan kemarahan.

Peneliti lain menyatakan dua hal yang mempengaruhi perkembangan ketrampilan emosional:

  1. Badan individu (biologis). Badan dan jiwa bukan dua hal yang terpisah dan tidak berhubungan satu sama lain, tetapi sebaliknya bereaksi bersama dan menghasilkan belbagai perasaan, pikiran dan perbuatan. Dengan demikian emosi yang bermacam-macam itu tidak diakibatkan hanya karena cakap memberi nama atau sebutan, tetapi juga karena dalam keadaan tertentu sistem urat syaraf biasanya bereaksi secara biokemis. Jika dalam keadaan bahaya, jantung akan berdebar-debar, nafas pendek dan sikap penuh energi. Reaksi ini mungkin terjadi karena merasa ada suatu ancaman dari luar. Perubahan badaniah semacam itulah yang disebut reaksi emosional.
  2. Cara berpikir individu. Dalam hidup pasti pernah disesatkan oleh pikiran yang negatif, pikiran yang tidak realistis, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Jika dapat membetulkan pikiran yang keliru itu, individu akan belajar untuk mengatur emosinya. Dengan demikian ketrampilan emosional dapat dikembangkan menjadi lebih baik lagi dengan kemampuan mengevaluasi diri.

ASPEK-ASPEK KETRAMPILAN EMOSIONAL

Menurut Hurlock (1980) suatu ketrampilan emosional dicirikan oleh beberapa aspek berikut:

  1. Ungkapan emosional melalui cara yang dapat diterima oleh lingkungan
  2. Individu dapat menilai situasi secara kritis sebelum bereaksi secara emosional
  3. Reaksi emosional stabil
  4. Katarsis emosi (individu mampu menyalurkan emosinya dengan baik)
  5. Penyesuaian pribadi dan sosial yang baik

ENAM TONGGAK PENTING KETRAMPILAN EMOSIONAL

Regulasi diri dan minat terhadap dunia sekitar

  1. Menunjukkan minat terhadap berbagai rangsang sedikitnya 3 detik
  2. Tetap tenang dan memusatkan perhatian sedikitnya 2 menit
  3. Menunjukkan minat pada orang lain

Keakraban

  1. Menanggapi tawaran orang lain
  2. Menanggapi tawaran orang lain dengan kegembiraan yang nyata
  3. Menanggapi tawaran orang lain dengan rasa ingin tahu dan minat yang asertif
  4. Mengantisipasi benda yang semula diperlihatkan kemudian dihilangkan
  5. Menjadi jengkel jika orang lain tidak menanggapi selama sedikitnya 30 detik ketika bermain
  6. Protes dan menjadi marah bila frustasi

Komunikasi dua arah

  1. Menanggapi gerak isyarat orang lain dengan gerak isyarat yang bertujuan
  2. Memprakarsai interaksi dengan orang lain.
  3. Menunjukkan emosi-emosi: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, protes atau marah, takut.

Komunikasi kompleks

  1. Menutup sedikitnya 10 siklus komunikasi sekaligus
  2. Meniru perilaku orang lain secara bertujuan
  3. Menutup sedikitnya 10 siklus menggunakan: celotehan atau kata-kata, mimik wajah, sentuhan atau pelukan timbal balik, gerakan dalam ruangan, kegiatan motorik kasar, berkomunikasi lintas ruang.
  4. Menutup sedikitnya 3 siklus sekaligus ketika merasakan emosi-emosi: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, marah, penetapan batas.

Gagasan emosional

  1. Menciptakan drama pura-pura dengan sedikitnya dua gagasan.
  2. Menggunakan kata-kata, gerak isyarat untuk mengungkapkan sedikitnya dua gagasan pada saat bersamaan.
  3. Menyatakan keinginan, niat dan perasaan menggunakan: kata-kata, beberapa gerak isyarat sekaligus, sentuhan.
  4. Bermain permainan motorik sederhana yang memiliki aturan.
  5. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata untuk menyampaikan emosi-emosi berikut yang mewakili sedikitnya dua gagasan: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, marah, penetapan batas.

Berpikir emosional

  1. Dalam bermain pura-pura, sedikitnya dua gagasan dihubungkan secara logis, meskipun gagasan itu tidak realistis
  2. Bermain pura-pura berdasarkan gagasan orang dewasa
  3. Dalam berbicara, gagasan dihubungkan secara logis
  4. Menutup sedikitnya dua siklus komunikasi verbal.
  5. Berkomunikasi secara logis, dengan menghubungkan sedikitnya dua gagasan mengenai niat, keinginan, kebutuhan atau perasaan dengan menggunakan: kata-kata, beberapa gerak isyarat sekaligus, sentuhan.
  6. Bermain permainan motorik dalam ruangan yang memiliki aturan.
  7. Menggunakan permainan pura-pura atau kata-kata untuk menyampaikan sedikitnya dua gagasan yang berhubungan secara logis dalam menghadapi emosi-emosi berikut: kedekatan, senang dan gembira, rasa ingin tahu yang asertif, takut, penetapan batas.

Albin, R. S. 1986. EMOSI Bagaimana mengenal, menerima, dan mengarahkannya, Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Greenspan, S. I; Wieder, S; Simons, R. 2006. The Child with Special Needs, Jakarta : Penerbit Yayasan Ayo Main

Hurlock, E. 2002. Perkembangan Anak. Jakarta; Penerbit Erlangga

Kaplan, H. I; Sadock, B. J; Grebb, J. A. 1997. Sinopsis Psikiatri jilid dua. Jakarta: Binarupa Aksara

Tedjasaputra, M. S. 2001. Bermain, Mainan, dan Permainan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Iklan