Kompetensi Interpersonal

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Sebelum memberi pengertian lebih jauh mengenai kompetensi interpersonal, ada baiknya apabila dijelaskan terlebih dahulu mengenai pengertian kompetensi itu sendiri. Pengertian secara umum dari kompetensi atau kemampuan adalah kesanggupan, kecakapan dan kekuatan. Kompetensi atau kekuatan dapat diukur dari tingkat kesanggupan, kecakapan, dan kekuatan yang dimiliki, misalnya dapat dilihat dari kemampuannya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.

Kemampuan adalah segala daya, kesanggupan, kekuatan, dan kecakapn ketrampilan teknis maupun sosial yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan adalah kesanggupan, kekuatan, dan kecakapan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya.

Kompetensi dianggap sebagai kornunikasi global dan terbagi menjadi berbagai jenis kompetensi. Jenis kompetensi yang berbeda dibutuhkan untuk jenis hubungan dan tingkat kedekatan yang berbeda. Kompetensi dalam konteks hubungan sosial ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan memprediksi perilaku orang lain dan kemampuan untuk memahami perilaku diri sendiri dalam kaitannya dengan lingkungan sosial.

Hubungan interpersonal yang efektif (seperti persahabatan) dapat terbina jika masing-masing memiliki kemampuan-kemampuan dalam membina hubungan interpersonal. Kemampuan-kemampuan tersebut secara khusus disebut sebagai kompetensi interpersonal. Penelitian Buhrmester membuktikan bahwa kompetensi interpersonal pada remaja berperan penting dalam keberhasilan seorang remaja dalam menjalani kehidupan sosialnya di masa dewasa. Hal ini dikarenakan dalam hubungan interpersonal dapat membantu remaja untuk mencapai popularitas dalam kelompok teman sebaya dan keberhasilan atau kesuksesan remaja dalam berkencan, selain itu juga membuat interaksi dengan orang lain menyenangkan dan penuh pengalaman yang nyaman.

Hubungan interpersonal adalah hubungan antara pribadi yang terdiri dari dua orang dimana satu sama lain sating tergantung. Lebih lanjut dikemukakan bahwa hubungan interpersonal biasanya bersifat menetap dan menggunakan pola interaksi yang tetap. Hubungan interpersonal adalah hubungan antara individu satu sama lain saling mempengaruhi.

Seseorang yang memiliki kompetensi dalam hubungan interpersonal berarti mempunyai kemampuan untuk memulai hubungan pribadi dengan seseorang dan mampu mempertahankan hak-hak pribadinya serta mampu berikap tegas terhadap seseorang yang memperlakukan dirinya dengan tidak menyenangkan. Hal yang paling menarik seseorang untuk menyukai orang lain adalah karena orang tersebut memiliki kemampuan dalam hubungan interpersonal cenderung mampu mengontrol diri, memiliki pengetahuan yang luas dan dapat bertindak efisien dalam menghadapi persoalan. Seseorang yang remiliki kompetensi interpersonal cenderung lebih disukai dan dianggap positif daripada orang yang tidak berkemampuan.

Seseorang yang mempunyai kompetensi dalam hubungan interpersonal memiliki sifat terbuka dan mampu menerima diri pribadi apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Pada umumnya seseorang lebih menyukai orang yang terampil sosial, cerdas, dan kompeten, sebab orang yang berkompeten biasanya lebih dihargai untuk diajak menjalin hubungan daripada orang yang tidak berkemampuan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kompetensi interpersonal adalah kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan antara pribadi yang bersifat menetap dengan teman sebaya dimana dalam hubungan tersebut terjadi proses saling mempengaruhi dan saling tergantung.

Anantoputro, T. 1983. Ortopedagogik. Surakarta: Sekolah Pendidikan Luar Biasa Negri. Surakarta.

Atmodiwiryo, E.T. 1993. Sikap Orang Tua terhadap Anak Penyandang Cacat. Jakarta. YPAC Pusat.

Bicanawati, F. M., A. Qoeljoe D. 1999. Pengaruh Keikutsertaan Pada Kegiatan Olah Raga terhadap Kemampuan Melakukan Hubungan Interpersonal, Jurnal Anima, vol. 14.

Buhrmester, D. Furman W., Witterberg, MT, Reisht. 1988. Five Domain of Interpersonal Competence in Peer Relationship. Journal of Personality and Social Psychology, vol. 55.

Burns, R.B. 1993. Self Concept Development and Education, London: Hold Rinehont and Winston.

Berzonsky, M.D. 1981. Adolesense Development, New York: McMilian.

Bratanata. 1975. Pendidikan untuk Anak Luar Biasa. Surakarta: Sekolah Pendidikan Luar Biasa Negri Surakarta.

Cohen, J. B. 1983. Sosiologi Suatu Pengantar. Alih Bahasa : Sahat, S. Jakarta: Bina Aksara.

Crow, L and Crow, A. 1987. Psikologi Pendidikan. Diterjemahkan Z. Kasijah. Buku Pertama. Surabaya: PT. Bina Ilmu.

Dikson, M.F. 1986. Self Disclousure with Friends Across The Life Cyle. Journal of Social and Personality Relationship. No.4.

Fitts, W.H. Adams, J.L. Radford, G. Richard, C.W. Thomas, B.K, M.M and Thompson, W, 1971, The Self Concept and Self Actualisasion, Publishing: WPF, LA: California.

Hardy, M. dan Heyes, S. 1988. Pengantar Psikologi. Alih Bahasa: Soenardji. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, E. 1973. Perkembangan Anak. Alih Bahasa Tjandrasa. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jones, H.E. 1979. Introduction of Social Psychology. Massachussets: Sinaeur associates inc.

Meichati, S. 1984. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Percetakan Studying.

Middlebrooks, N. 1980. Social Psychology and Modern Life. New York: Alfi-eid Axnopt.

Pudjijogyanti, C. L. 1985. Konsep Diri Dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya.

Rachmat, 1992, Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosda Karya.

Sears, D.O. 1992. Psikologi Sosial (alih bahasa: Mikael Adryanto). Jakarta: Erlangga.

Suhartono. 1987. Keadaan Psikologis Penyandang Cacat Tubuh. Pelita BPKS XII, 11-15.