Krisis Ekonomi Tidak Berpengaruh Terhadap Niat Belanja Online atau E-commerce

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Krisis ekonomi dan moneter ternyata tidak berpengaruh terhadap niat banyak orang untuk berbelanja secara elektronik atau e-commerce. Fenomena tersebut juga ditemukan di Indonesia. Hasil penelitian itu diperoleh dari Visa dalam E-commerce Consumer Monitor yang dipublikasikan menyatakan bahwa angka belanja e-comerce pada kuartal terakhir tahun 2008, relatif sama dengan kuartal-kuartal sebelumnya.

Rata-rata responden di wilayah Asia Pasifik menghabiskan uang hingga US$3.109 atau setara dengan Rp34 juta, lewat layanan e-commerce. Angka tersebut melonjak jika dibandingkan dengan kondisi sebelum turbulensi ekonomi terjadi. Survei yang dilakukan terhadap 9.142 responden berumur 18-49 tahun di enam negara yakni Hong Kong, Singapura, Jepang, Korea, Australia, dan India. Pada kuartal II 2009, rata-rata pembelanjaan e-commerce lewat, internet sebesar US$3.009 atau Rp33 juta per orang. Apalagi jika dibandingkan dengan transaksi yang terjadi di kuartal III 2009 hanya sebesar US$2.784 atau Rp30,6 juta.

Konsumen tiga negara di Asia Pasifik yang paling besar berbelanja di Internet adalah:

  1. Singapura dengan nilai US$4.018
  2. Hong Kong dengan nilai US$3.791
  3. India dengan nilai US$3.442.

Pembelanjaan online di ketiga negara tersebut juga menunjukkan peningkatan dari kuartal ke kuartal terbesar. Survei menunjukkan belanja online lebih memberikan kenyamanan selama kondisi ekonomi yang sedang tidak pasti. Pilihan tersebut diambil karena konsumen sekarang memang lebih cerdas, belajar dari pengalaman ketika krisis lalu pada 1998-1999. Dengan berbelanja lewat internet, konsumen merasa leluasa melihat berbagai macam penawaran ritel untuk memperoleh perbandingan harga dan barang.

Lonjakan belanja secara daring tersebut terdongkrak semakin banyaknya konsumen yang menghabiskan uang untuk melakukan perjalanan plus mencari akomodasinya. Itu diperlihatkan dalam tiga area yang paling diminati konsumen dalam survei yaitu sektor yang terkait dengan layanan traveling, diantaranya:

  1. Maskapai/tiket penerbangan dengan nilai US$970
  2. Travel agent online dengan nilai US$647
  3. Akomodasi dengan nilai US$527.

Internet semakin kuat memiliki daya tarik yang kuat bagi konsumen di Asia Pasifik yang memiliki minat travelling (melakukan perjalanan), tren belanja juga dinilai masih terus menjanjikan. Berdasarkan survei tersebut sebanyak 81% responden menyatakan akan terus melakukan pembelanjaan daring sampai 12 bulan mendatang. Untuk itu mereka menjadi sasaran ”empuk” yang layak diburu. Responden dari Korea menjadi yang paling banyak ingin melakukan belanja daring di wilayah Asia Pasifik, disusul Jepang, dan Australia.

Lonjakan berbelanja via internet dengan penggunaan kartu kredit memiliki korelasi yang cukup erat, karena setiap kali transaksi, konsumen harus mencantumkan identitas dan alat bukti pembayaran seperti kartu kredit. Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) mencatat sebanyak 11,5 juta kartu kredit telah diterbitkan. Transaksi menggunakan kartu kredit saat ini sudah sekitar 307 kali setiap 1 menit dengan total belanja Rp107 triliun. (Sumber: Media Indonesia, ”Belanja Via Internet Tidak Tersentuh Krisis”, Selasa 16 Juni 2009).

Iklan