Lima Krisis yang Melanda Partai Golkar Penyebab Kekalahan Pemilu 2009

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Partai Golkar sedang dilanda multikrisis sehingga butuh energi baru untuk memperbaikinya. Salah satu solusinya adalah dengan memberikan porsi yang memadai kepada kader mudanya. Pengamat politik Bima Arya Sugiarto mengatakan hal itu dalam diskusi tentang kepemimpinan muda di Bandung, Jawa Barat, Sabtu 8 Agustus 2009. Lima krisis yang dialami Golkar adalah:

  1. Krisis elektoral. Suara Golkar pada Pemilu 2009 paling terpuruk dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Meski nama M Jusuf Kalla sebagai calon presiden dan Ketua Umum Golkar bersinar, tetapi hal itu tidak mampu meningkatkan perolehan suaranya. Ini karena masyarakat tidak percaya lagi dengan Golkar.
  2. Krisis orientasi. Wacana yang diembuskan Golkar saat ini hanya menjadi bagian dari pemerintahan atau menjadi oposisi. Sebagai parpol besar, semestinya tak bergantung pada hal itu. Yang penting, kelembagaan dan kepemimpinan parpol.
  3. Krisis kader muda. Golkar tak memberikan tempat yang proporsional kepada kader mudanya. Akibatnya, mereka sulit maju secara internal.
  4. Krisis basis sayap. Mandulnya organisasi sayap Golkar. Mereka ini hidup segan mati tak mau.
  5. Krisis loyalitas. Muncul berbagai faksi yang saling melemahkan. Bila faksi itu saling mendukung, tentu suara Golkar bisa lebih dari 17 persen dalam Pemilu 2009.

Munculnya Yuddy Chrisnandi sebagai salah satu calon ketua umum Golkar dapat mendobrak kultur parpol yang kurang memberikan tempat kepada anak muda. Menang atau kalah, itu tidak masalah. Yang penting, ada upaya mendobrak. Peluang Yuddy memang kecil untuk bisa mengalahkan pesaingnya, seperti Aburizal Bakrie dan Surya Paloh. Sebab, dengan kultur transaksional di tubuh Golkar, sulit bagi Yuddy untuk menang karena dananya terbatas. Namun, Yuddy unggul di sisi komunikasi politik. Yuddy lebih bisa bergaul dengan berbagai kalangan (Kompas, Lima Krisis Lilit Golkar, Senin 10 Agustus 2009)