Mantan Presiden Liberia, Charles Taylor Bantah Semua Dakwaan

9 tahun ago kesimpulan 0

+ Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda
+ Dakwaan kejahatan perang sipil di Sierra Leone
+ Perdagangan berlian untuk belanja persenjataan

(kesimpulan) Mantan Presiden Liberia, Charles Taylor, membantah semua dakwaan yang ditujukan kepadanya, khususnya kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Taylor menganggap semua tuduhan tersebut hanya berdasarkan “kebohongan” dan “desas-desus” semata.

Taylor menyampaikan jawaban atas semua dakwaan yang tertuju kepadanya di depan persidangan Mahkamah Internasional di Den Haag, Belanda, pada Selasa 14 Juli 2009 bahwa tuduhan tersebut sangat disayangkan karena terjadi disinformasi, misinformasi, kebohongan, dan desas-desus yang dikumpulkan Tim jaksa penuntut kemudian menghubungkan dirinya dengan sejumlah julukan, sebagai pembunuh, pemerkosa, dan mantan panglima perang.

Pengacara Taylor, Courtenay Griffiths, mengatakan bahwa kliennya mengaku terkejut atas munculnya gambaran yang luar biasa tersebut. Taylor menolak bahwa dirinya telah terlibat dengan RUF (Fron Persatuan Revolusioner), yang mengambil berlian-berlian untuk membeli persenjataan. Salah satu tuduhan dalam pengadilan tersebut yaitu menggunakan penjualan berlian untuk perang dan kejahatan atas kemanusiaan lainnya.

Charles Taylor sebagai mantan pemimpin Liberia yang berusia 61 tahun, merupakan pemimpin pertama Afrika yang diadili di pengadilan internasional dan tampil memberikan kesaksian untuk pertama kalinya, sekitar 18 bulan setelah dimulainya pengadilan atas dirinya.

Negara tetangga Liberia yaitu Sierra Leone, Taylor juga mendapat dakwaan serupa. Para penuntut di Pengadilan Khusus bagi Sierra Leone yang didukung PBB menuduh Taylor mempersenjatai dan memimpin para pemberontak di Sierra Leone pada perang sipil pada tahun 1996-2002 dan terlibat dalam serangan sistematis dan meluas terhadap warga-warga sipil. Pengadilan yang berbasis di Freetown, Sierra Leone, berusaha mengadili Taylor di sebuah ruang sidang yang disewa dari Pengadilan Kejahatan Internasional di Den Haag karena kekhawatiran kasus itu bisa memicu kerusuhan di negara Afrika Barat tersebut.

Dakwaan yang ditujukan kepadanya pada tahun 2003 kemudian diubah pada tahun 2006, dengan mengatakan Taylor terkait dengan tidak mengawasi atau gagal mencegah pasukan pemberontak RUF melakukan kejahatan perang dan kejahatan atas kemanusiaan.

Dengan mengenakan jas berwarna gelap, Taylor yang kesaksian-kesaksiannya sangat dinantikan mengatakan, bahwa dirinya adalah seorang ayah dari 14 anak, cucu, dan cinta kepada kemanusiaan, telah berjuang sepanjang hidup untuk melakukan apa yang dianggap benar, menurut kepentingan keadilan dan kejujuran. Taylor juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menerima keranjang berlian dari RUE

Pengacara Taylor menyatakan telah menyiapkan 249 saksi yang akan meringankan yang untuk tampil di pengadilan. Para saksi beralasan, Taylor tidak mungkin mengelola operasi pemberontak di Sierra Leone karena harus mengurus negerinya sendiri. (Kompas, Taylor Beri Kesaksian, Rabu 15 Juli 2009)


Iklan