Masinis dan Kecelakaan Kereta Api

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Kecelakaan Kereta Api (KA) terus saja berulang, pada Januari-Agustus 2009 saja telah terjadi 23 kasus kecelakaan, baik kereta anjlok maupun bertabrakan. Penyebab kecelakaan kereta api (KA) selama ini secara umum terbagi empat faktor, yakni prasarana, sarana, sumber daya manusia (SDM), dan lain-lain. Dari laporan pemerintah menyebutkan, penyebab dominan terjadinya kecelakaan KA di Indonesia adalah faktor manusia (human error). Bentuknya berupa pelanggaran kecepatan oleh masinis atau pelanggaran sinyal oleh masinis atau petugas. Tuduhan diperkuat oleh data yang menyebutkan Tahun 2008, kecelakaan KA karena faktor SDM meningkat dari 21% di 2007 menjadi 35%.

Sertifikasi Masinis

Dirjen Perkeretaapian Tundjung Inderawan di Semarang, Senin 10 Agustus 2009, mengatakan bahwa pemerintah akan menerapkan standardisasi melalui seleksi psikotes dalam proses perekrutan masinis oleh PT KAI. Kalau nilai psikotes peserta ujian di bawah yang ditetapkan, harus digugurkan. Ditjen Perkeretaapian sebagai regulator telah menyampaikan hal itu kepada pihak operator, yaitu PT Kereta Api (KAI). Direktur Keselamatan dan Teknik Sarana Dephub Hermanto Dwiatmoko mengatakan, sesuai dengan UU No.23/2007 tentang Perkeretaapian, dalam hal pengoperasian sarana (Pasal 116), awak sarana perkeretaapian harus memiliki sertifikat kecakapan. Pelanggarnya terkena sanksi mulai administratif hingga pencabutan sertifikat. Pemerintah menargetkan, dari sekitar 2.000 masinis dan 6.000 PPKA seluruh Indonesia, sebelum angkutan Lebaran semua sudah besertifikat. Saat ini dari 2.000-an, baru 50% yang punya sertifikat, sedangkan PPKA baru sebagian.

Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 1, Sugeng Priyono mengatakan, seorang lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam waktu minimal empat bulan sudah dapat menjadi seorang masinis. Nantinya calon masinis itu akan mendapat ujian untuk sertifikat kelayakan. Apabila lulus brevet itu, mereka dapat menjalankan kereta api sebagai masinis dengan didampingi seorang masinis senior yang berposisi sebagai asisten masinis untuk mengawasi kerja dari masinis baru itu. Jika dalam dua kali tes brevet calon masinis tidak lulus, mereka diturunkan ke bagian perawatan untuk lebih memahami soal teknis dan mesin. Sesuai kurikulum pendidikan masinis, semua calon masinis seharusnya telah dididik selama satu tahun di Balai Pelatihan Teknik Traksi di Yogyakarta. Kemudian selama beberapa tahun menjalani tugas sebagai asisten masinis, sekaligus belajar mengenali jalur rel KA. Khusus bagi yang akan menjadi masinis KRL (KA rel listrik), mereka dilatih untuk memahami kelistrikan.

Pengamat perkeretaapian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Taufik Hidayat, mengatakan bahwa persoalan utama PT KA bukan sekadar kekurangan masinis. Sikap mental masinis yang terkadang mengabaikan keselamatan justru menjadi pokok masalah. Masinis hendaknya senantiasa disegarkan dan dites kemampuan teknis dan tes psikologi. Sertifikasi masinis yang ditetapkan oleh Undang-Undang Perkeretaapian juga harus serius, jangan sekadar “stempel” saja.

Minim Jumlah Masinis

Salah satu masalah yang penting adalah minimnya tenaga manisis. PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabotabek ternyata hanya 112 masinis. Padahal, untuk melayani 406.000 penumpang di Jakarta dan sekitarnya pada tahun 2009, KCJ membutuhkan 163 masinis. Akibatnya, frekuensi perjalanan KA atau cuti masinis dikurangi. Fakta itu terungkap dari rencana bisnis 2009-2013 PT Kereta Api Indonesia Commuter Jabotabek (KCJ) yang diterbitkan Juli 2009. Jadi, target perjalanan 438 kereta (KA) per hari PT KA, khususnya KCJ, kekurangan 51 masinis atau hampir 30 persen dari total kebutuhan.

Direktur Personalia dan Umum PT KA Joko Margono, Sabtu 8 Agustus 2009, mengatakan bahwa kekurangan masinis bukan hanya dialami PT KCJ, tetapi juga PT KA sebagai induk perusahaan. Itu disebabkan mulai tahun 2006 terjadi pensiun besar-besaran. Dikarenakan kekurangan masinis, PT KA mempekerjakan lagi masinis yang telah pensiun. Masinis pensiun pada umur 56 tahun, bila fisiknya masih baik, dipekerjakan lagi 1-2 tahun. Vice President Public Relations PT Kereta Api (Persero) Adi Suryatmini mengatakan, meskipun kurang orang, jam kerja setiap masinis tetap delapan jam per hari. Hanya mungkin frekuensi perjalanan KA dikurangi, atau cuti masinis dikurangi. Selain itu, masa pendidikan masinis juga dipangkas dari satu tahun menjadi 6 bulan saja demi mengejar pemenuhan kebutuhan akan masinis. Meski demikian, tahapan-tahapan untuk mendapatkan brevet T62 (brevet masinis) tidak dikurangi.

Kekurangan masinis juga disebabkan rendahnya kualitas pendaftar. Sekitar 12.000 pelamar berusaha meraih posisi sebagai calon masinis ketika PT KA membuka lowongan masinis, Mei 2009. Namun, yang memenuhi syarat dan akhirnya diterima hanya 360 orang, padahal kebutuhannya.mencapai 568 orang. Syarat minimum pelamar masinis adalah lulusan SMA atau STM. Beberapa tahun terakhir, baru dibuka peluang bagi lulusan D-3, terutama dari jurusan transportasi atau teknik transportasi.

Kesejahteraan

Seorang masinis berterus terang bahwa untuk mengambil cuti atau bahkan libur biasa susah karena tidak ada yang menggantikan. Padahal, namanya manusia, kadang bosan, capek. Kalau kepala sudah berat, kontrol lokomotif bisa tidak stabil. Awalnya, mereka merasa bangga karena bisa jadi masinis, bukan sekadar pegawai di stasiun. Membawa ratusan penumpang dan mengantar mereka ke tujuan dengan selamat. Akan tetapi, jangan harap mendapat penghargaan setimpal. Dari gaji saja, jumlahnya relatif kecil jika dibandingkan dengan masa kerja yang sudah mencapai puluhan tahun. Seorang masinis senior setiap bulan mendapat Rp.5juta-Rp.6juta. Masinis junior, gajinya Rp.3juta-Rp.3,5juta saja. Saat pertama kali masuk mereka akan disetarakan dengan golongan 2A. Paling tinggi, masinis masuk golongan 3B. Gajinya bergantung pada pangkat dan pengalaman.

Masinis adalah tulang punggung keluarga. Akan tetapi, gaji masinis memang tidak pernah mencukupi. Para istri masinis, terpaksa membagi dua rumah sempitnya agar bisa disewakan, demi mendapat tambahan uang untuk sekolah anak dan menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Istri-istri masinis juga menyadari bahwa posisi suami mereka sama, yaitu kerap menjadi kambing hitam setiap kali terjadi kecelakaan kereta. Untuk itu, mereka meminta manajemen PT KA dan penegak hukum bisa mengupas lebih dalam pokok persoalan di balik kecelakaan KA. Masinis ditetapkan jadi tersangka hanya sebagai cara agar kasus kecelakaan dapat segera ditutup, dianggap selesai.

Kompas, Jumlah Tenaga Masinis Kurang, Senin 10 Agustus 2009.
Kompas, Tiga Menit Mengubah Nasib, Senin 10 Agustus 2009.
Kompas, KA Mutiara Timur Terguling, Rabu 12 Agustus 2009.
Media Indonesia, Masinis Juga Manusia, Selasa 11 Agustus 2009.

Iklan