Misi Lunar Recobbaissance Orbiter (LRO) dan Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) Deteksi Kutub Es Bulan

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Lunar Recobbaissance Orbiter (LRO) dan Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) menguatkan rencana membuat pangkalan di Bulan membuat NASA sangat berhasrat dalam menentukan apakah benar ada air beku yang sembunyi di balik bayangan gelap kawah di kutub-kutub bulan. Di bulan, es tidak hanya menjadi sumber air minum, tetapi juga udara dan energi. Molekul-molekul air bisa dipecah menjadi oksigen dan hidrogen. Moleku air untuk bernapas dan hidrogen untuk bahan bakar roket. Perhitungan lebih efisien daripada membawa dari bumi, menambang es atau hidrogennya saja (karena bisa direaksikan dengan oksigen dari dalam tanah untuk menciptakan air) di bulan dianggap jauh lebih murah. Craig Tooley, manajer proyek misi, menyatakan bahwa sangat sedikit informasi yang tersedia tentang wilayah-wilayah kutub Bulan tersebut. Begitu minimnya informasi sehingga peta kutub Mars bahkan lebih baik.

Jika memang benar terdapat es di Bulan, juga merupakan sebuah catatan unik dari perjalanan usia 2 miliar tahun tata surya. Sudut sumbu rotasi bulan yang boleh dibilang tak pernah bergeser membuat kawah kutub tersebut terletak dalam bayangan permanen dengan suhu yang lebih rendah dari minus 184 derajat Celsius.

Para. ilmuwan antarplanet menduga, ketika hantaman komet, uap air yang bertebaran bisa saja terkumpul di spot dingin dalam kawah tersebut. James B. Garvin, ketua tim ilmuwan NASA menyatakan bahwa jika benar maka Bulan menjadi sebuah repository untuk catatan tumbukan kuno.

Pada pertengahan 1990-an, wahana Clementine, sebuah misi kolaborasi antara NASA dan Pentagon, menemukan refleksi radar yang sangat jelas dari sesuatu yang diduga berkilau di dasar kawah dekat kutub selatan Bulan. Pada 1998, wahana NASA lainnya, Lunar Prospector, mendeteksi keberadaan hidrogen. Lunar Prospector tidak bisa memastikan lokasi pasti yang pasti, juga dalam bentuk apa pastinya hidrogen tersebut, air ataukah es. Penjelasan paling sederhana memang molekul air, meski begitu hidrogen juga bisa berasal dari partikel angin matahari yang menghantam tanah bulan miliaran tahun.

Tugas LRO yang akan memastikan semua itu, wahana senilai US$580 juta (Rp5,8 triliun) tersebut total membawa tujuh instrumen, termasuk di antaranya sebuah lensa kamera yang bisa membidik sebuah obyek sepanjang satu meter. Orbiter robotik tersebut juga membawa instrumen pemetaan panas untuk merekam subpermukaan yang cukup dingin bagi keberadaan es, altimeter laser untuk membangkitkan peta topografis, dan sebuah teleskop kosmis untuk pengukuran radiasi permukaan Bulan. Instrumen-instrumen tersebut jauh lebih sensitif dan akurat serta sangat mungkin untuk memberika jawaban definitif.

Jika data dirasa belum mencukupi, wahana kedua yang juga telah dipersiapkan sejak dari bumi bisa memberi bukti-bukti yang lebih langsung. Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS), akan mendaratkan potongan tubuhnya ke lantai kawah lalu melayang menembus awan debu yang diciptakan dari hantaman itu. Jika ada kristal air ikut terhambur, LCROSS pasti bisa mendeteksi, mengabadikan, lalu mengirimkan data-datanya sebelum ia sendiri hancur menghantam muka bulan empat menit kemudian.

Misi LRO/LCROSS ini mengawali petualangan NASA ke Bulan pada abad ke-21 setelah terakhir kali Lunar Prospector mengorbit pada 1999 dan Apollo mendaratinya pada 1972. Saat ini ada dua satelit yang mengorbit bulan. Satu milik Cina dan satu dari India. Sebenarnya ada satu lagi, milik Jepang, tapi crash-landed pada 10 Juni lalu 2009.

Rencana peluncuran dua wahana robotik, Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) dan Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS) merupakan ambisi yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden George Walker Bush, yang ingin mengirim kembali manusia ke bulan pada 2020 setelah Neil Amstrong dan Edwin Aldrin. Kendaraan yang dirancang adalah roket Ares, yang saat ini dipersiapkan menggantikan peran pesawat ulang-alik yang bakal pensiun pada 2010. Namun, kebijakan soal penghematan anggaran membuat pengembangan wahana robotik tersebut terhenti.

Dimensi Bulan

  1. Revolusi sumbu rotasi sangat kecil sehingga ada permukaan yang selalu gelap
  2. Gravitasi hanya 1/6 daripada di bumi. Berat tubuh 60-kg cuma terukur 10 kg
  3. Temperatur siang hari di ekuator 134°C, malam -153°C
  4. Satu hari = 708 jam
  5. Tanpa gunung api, tanpa atmosfer atau awan.

Total baru 12 manusia yang pernah berjalan di bulan. Neil Armstrong adalah yang pertama pada 20 Juli 1969 (Sumber: Koran Tempo, ”Kembali Ke Bulan, Rabu 17 Juni 2009).