Nyeri Kronik

9 tahun ago kesimpulan 0

(kesimpulan) Nyeri kronik adalah nyeri yang menetap karena penyakit akut selama lebih dari 1 bulan atau periode waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan lebih lama dari biasanya. Nyeri kronik lebih mengutamakan durasi selama sakit. Durasi bukanlah satu-satunya yang membedakan faktor-faktor dalam nyeri kronik. Kriteria esensial dari nyeri kronik berhubungan dengan aspek-aspek kognitif-perilaku, bukan komponen-komponen nosiseptif. Nyeri kronik yang menetap tidak mengganggu fungsi biologis tetapi lebih banyak menimbulkan stress fisik, emosi atau sosial ekonomi penderita. Nyeri seperti ini banyak terjadi dan sulit diobati serta diklasifikasikan.

Beberapa penulis menyebutkan nyeri kronis adalah nyeri yang menetap lebih dari 3 bulan atau nyeri yang berlangsung lebih lama dari proses penyembuhannya yang biasa. Ada juga yang berpendapat lamanya nyeri lebih dari enam bulan. Banyak keadaan nyeri kronik dimulai sebagai nyeri akut. Jadi nyeri dipandang sebagai kontinum.

Sinyal nyeri berulang akan menginduksi perubahan psikokimia pada jalur saraf sehingga menyebabkan hipersensitif terhadap sinyal nyeri dan resisten terhadap input anti nosiseptif. Adanya peningkatan respon terhadap rangsang menyebabkan nosiseptor tersensitisasi oleh perangsangan berulang meskipun aktivasinya dibawah nilai ambang. Perangsangan nosiseptor berulang-ulang akan menjadi “memori nyeri” dengan hipersensitivitasnya di medula spinalis. Perangsangan pada akhiran saraf selalu menimbulkan respon afektif dan perilaku yang sama. Konsep ini menunjukkan bahwa perangsangan dengan intensitas yang sama pada reseptor noksious selalu memberikan derajat perangsangan pada saraf yang sama dan pengalaman subyektif yang sama pula. Pada tahun 1965, Melzack dan Wall menyatakan bahwa nyeri adalah integrasi komplek stimulus nosiseptif, afektif dan faktor kognitif.

Reseptor NMDA tidak berfungsi jika tidak ada perangsangan masiv dan menetap (misalnya pelepasan glutamat) dari reseptor AMPA. Aktivasi reseptor AMPA menyebabkan lepasnya ion Mg2+ yang memblok kanal transmembran sodium dan kalsium dari kompleks reseptor NMDA. Perubahan konformasi membran neuron ini menyebabkan reseptor NMDA suseptibel terhadap perangsangan sebagai langkah pertama hipersensitisasi sentral yang menandakan pergeseran dari nyeri akut ke nyeri kronik.

Nyeri kronis menginduksi banyak faktor yang mempertahankan nyeri dan menghambat penyembuhan yaitu:

  1. Aktivasi menetap dari reseptor AMPA menyebabkan perubahan polaritas membran dengan pelepasan Mg2+ yang membuka kanal Ca2+ pada kompleks reseptor NMDA.
  2. Ca2+ akan mengaktivasi protein kinase C (PKC) di dalam sel saraf kornu dorsalis.
  3. PKC dibutuhkan oleh Nitric Oxide Synthase (NOS) untuk memproduksi Nitric Oxide (NO).
  4. NO akan berdifusi ke membran dan merangsang guanil sintase untuk menutup kanal K+. Hal ini menyebabkan resistensi terhadap opiat karena endorfin dan enkefalin menghambat nyeri dengan membuka kanal K+.
  5. NO juga akan merangsang pelepasan substansi P.
  6. Substansi P adalah neurokinin yang bila berikatan dengan reseptor neurokinin-1 (NK-1) akan memicu ekspresi gen c-fos.
  7. Ekspresi gen c-fos menyebabkan remodeling saraf dan heipersensitisasi.

Akibat dari teraktivasinya reseptor NMDA dalam waktu yang lama menyebabkan nosiseptor melepaskan substansi P yang merupakan peptida neurotransmiter (neurokinin) dan mediator inflamsi yang poten. Substansi P berikatan dengan reseptor neurokinin- 1 di medula spinalis. Aktivasi reseptor NK-1 meningkatkan sinyal nyeri dan merangsang pertumbuhan serta regenerasi saraf melalui ekspresi gen c-fos. Sebagai catatan, level substansi P selalu meningkat pada LCS penderita fibromyalgia. Produksi protein c-fos onkogen merupakan penanda hipersensitisasi sentral yang didapatkan bila sel-sel aferen di medula spinalis menerima sinyal nyeri. Jika nyeri berkepanjangan maka protein c-fos akan menyebar keluar dari daerah asal yang memicu nyeri. Jadi pasien dengan nyeri yang menetap selama beberapa bulan atau tahun mungkin akan merasakan nyerinya menyebar tidak membentuk suatu pola dermatom tertentu.

PUSTAKA

Fordyce WF. Back Pain in Workplace. Seattle: IASP Press; 1995. p. 5-9

Jenie MN. Beberapa patofisiologi nyeri kronik dan aspek biomolekulernya. Dalam: Jenie MN, Duarsa AB. (eds). The new approach of management of chronic pain. Semarang: BP Undip, 2002.p. 7-16

Turk DC, Okifuji A: Assessment of Patients’ Reporting of Pain: an Integrated Perspective. The Lancet, 1999, pp 1784-88